Menuju Indonesia Bangkit

anak muda zaman sekarang

Posted in Pendidikan by Iwa Kartiwa on May 1, 2008

Entah kenapa pertama kali menjejakan kaki di ITB ini saya merasa ada sesuatu yang salah, bukan pada sistem sepenuhnya tetapi terutama pada orang-orangnya, terutama mahasiswa (karena saya juga mahasiswa). Sadar atau tidak, kita ini sedang mewarisi sesuatu yang berbahaya yang tidak anda sadari sendiri. Pertama kali mengikuti rapat di forum yang ada di itb, yang saya lakukan adalah melihat siapa saja yang terlibat dalam rapat tersebut. Dan, maaf, saya menebak sampai kapan pun, jika orang-orang tersebut mengikuti rapat saya yakin tidak akan selesai. Dan memang benar, bahkan bahasan tersebut sampai saat ini, tiga tahun kemudian, tidak kunjung selesai. Kenapa? Padahal yang membahas adalah orang yang berbeda. Ya berbeda secara fisik, sedang mental tidak. Salah satu referensi yang saya baca menyebutkan bahwa kejadian tersebut merupakan akibat dari sebuah penyakit. Saya sepakat. Itu memang akibat sebuah virus, yang saat ini menyerang hampir seluruh mahasiswa kita. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh virus tersebut antara lain:

1. Un-openminded, ketidakterbukaan. Tendensi yang sangat kuat, objektivitas yang sangat lemah, kecurigaan yang berlebihan, conspiracy minded dan opposite minded.

2. Lack of integrity, saya sebut gadaikan integritas demi sesuap bualan. Integritas adalah barang langka di kampus sekarang.

3. Become illogical thinker, logika di bawah emosi. Pola pikir amburadul, tidak sistematis, tidak efektif dan efisien, kritis tapi juga krisis.

4. Egocentric, saya sebut “hati-hati bung, saya mahasiswa”-isme. Romantisme belaka, sebuah cacat historis, euphoria tanpa limit.

Bahayanya penyakit ini adalah si penderita tidak merasakan dan menyadari bahwa sebenarnya dia mengidap penyakit ini, contoh adalah saya (yang disadarkan oleh seorang teman). Jika boleh saya berasumsi, penyakit inilah yang membuat sistem di ITB ini tidak efektif dan efisien. Coba kita telusuri sejak kapan kapan kita dijangkiti penyakit ini, apa penyebabnya, bagaimana pola penyebarannya, apa akibatnya, dan apa sebenarnya obatnya. Berdasarkan pengamatan penulis (mungkin bisa sangat subjektif, tapi anda mungkin akan membenarkan) keempat gejala diatas selalu muncul dalam kesempatan yang sama. Sejak kapan? Ini pertanyaan pertama yang tidak sulit untuk saya jawab. Jawabannya adalah semenjak kecil. Bagaimana bisa? Karena penyebab dari virus ini adalah pendidikan formal yang kita jalani semenjak berumur 7 tahun (cat: 7 tahun adalah umur wajar masuk sekolah dasar). Ingat, anda selalu melaporkan teman anda yang menyontek sewaktu SD, atau ada teman anda yang berbuat atau berkata kasar. Apa yang kita terima dari guru? Tidak ada! Bahkan saat ujian akhir sifat kita yang satu itu hilang dalam sekejap saat sang guru memberikan jawaban agar anak didiknya lulus, agar nama baik sekolahnya tetap terjaga sehingga beliau masih bisa mengajar. Coba anda lihat hari ini, mungkin anda-anda akan mencap siapa yang yang melaporkan sebagai pengkhianat. Menyontek jadi hal biasa bung! Berkata kasar dan berbuat kasar hampir (pasti) setiap wisudaan terjadi. Apa anda ingat dengan pertanyaan ini, “Jika anda menemukan sampah, apa yang akan anda lakukan?”, dan anda seharusnya menjawab option A yaitu membuang pada tempat sampah, karena jika tidak maka nilai anda akan kecil, bisa-bisa tidak naik kelas gara-gara pelajaran yang satu itu. Pelajaran itu membekas. Apa yang kita katakan di forum-forum tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Itu dua dunia yang berbeda. Kita menjadi menjadi orang yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari dengan apa yang kita katakan. Kita gadaikan integritas kita untuk apa?

Kita dididik oleh orang-orang yang tidak kreatif (maaf, walaupun mungkin ada). Setiap saat saya selalu mencoba test kecil ini untuk membuktikan. Saat saya minta orang untuk menggambar pemandangan dalam waktu cepat, maka yang akan mereka gambar adalah dua buah gunung dengan sebuah matahari dan jalan lurus yang dikanan kirinya ada petak-petak sawah. Jika tidak maka mereka akan menggambar apapun, asal jangan dua gunung tadi. Hal ini pun berbekas di diri kita. Kita mulai menyempitkan banyak makna, sebagaimana menyempitkan arti pemandangan tadi. Yang paling parah adalah kaderisasi, berusaha mendewa-dewakan kaderisasi padahal yang kita lakukan malah menyempitkan. Bahkan saat ini kita tidak bisa lepas (secara sadar ataupun tidak) dari kungkungan tradisi kaderisasi-kaderisasi sebelumnya. Kita jadi manusia yang tidak kreatif, tertutup atas opini-opini baru. Entah siapa yang membuat kita selalu berpikir negatif dan curiga. Jangan-jangan ini adalah konspirasi. Hei, bangun! Ini hidup, konspirasi itu manusia. Selama manusia hidup konspirasi akan ada. Itulah cara manusia bertahan hidup. Jika anda bilang rektorat berkonspirasi untuk membatasi mahasiswa, maka rektorat bilang anda-anda berkonspirasi untuk membangkang. It’s so natural. Dan lagi-lagi cara pandang ini tidak diajarkan di sekolah formal kita yang meaningless.

Perspektif, itu hal fundamental yang kita perlukan agar dapat hidup di dunia ini, karena itulah yang akan mengarahkan kemana anda akan berjalan. Dan lagi-lagi tidak diajarkan. Kita hanya diajarkan untuk berpendapat dalam selembar kertas yang kadang-kadang pendapat kita pun dibatasi, sehingga jarang sekali waktu bersekolah kita diajarkan untuk mengetahui keadaan dunia sesungguhnya dan bagaimana cara menghadapinya. Bahwa dunia diisi oleh idea-idea yang beragam, sepertinya menjadi sama dan seragam jika anda berada di dalam ruangan kelas. Perbedaan itu tabu. Dan lihatlah sekarang, bagaimana kita menghadapi perbedaan di kampus kita ini. Saya ingat dulu pernah mengajak berdebat guru sejarah saya, kalau tidak salah saat itu dia mengajarkan sejarah pemberontakan-pemberontak ideologi lain melawan Pancasila (saya tulis dengan huruf besar di awal kalimat hanya karena kagum saja dengan bung karno, yang namanya saya tulis kecil). Di akhir perdebatan saya tanya, “Bu, jika pancasila sedemikian penting apakah ibu rela membunuh orang demi menegakkannya, apakah pancasila lebih penting ketimbang ribuan nyawa yang sempat hilang waktu itu?”. Saya tidak mendapatkan jawaban, yang saya dapatkan adalah ujian lisan dan tugas mengisi LKS untuk minggu depan. Hahaha sekarang saya tahu bagaimana sekolah membunuh logika kita? Sangat sistematis, tanpa kita sadari, bahkan tanpa guru itupun sadari. Harus anda akui, bahwa mahasiswa saat ini berada di kasta tertinggi dalam lapisan masyarakat. Politisi lewat, politikus apalagi, pejabat bahkan presiden pun kewalahan menghadapi kita. Sejarah menempatkan kita pada kasta itu, yang saat ini kadang-kadang saya sesalkan. Karena kita hanya mendapatkan ceritanya, tapi tidak mendapatkan contoh realnya. Mahasiswa yang dulu berteriak kebebasan sekarang berteriak minta dibebaskan (dari penjara tentunya). Mahasiswa sekarang malah berteriak mengagung-agungkan mahasiswa dulu. Kita terlalu banyak mendengar cerita indah bak dongeng namun juga cukup sering juga melihat kepengecutan di sisi yang sama. Dan itulah kita pengecut yang senang mengkhayal.

Tidak ada pelajaran mengenai kedewasaan bertindak dan berpikir di sekolah kita, sehingga sampai akhir sekolah menengah kita tidak mengerti apa itu kedewasaan, sampai akhirnya kita masuk ITB dan dipaksa untuk dewasa dalam waktu sekejap kaderisasi. Kita diberikan doktrin-doktrin yang makin menyempitkan kedewasaan, sangat terlihat bahwa kita mahasiswa ITB sangat tidak dewasa dalam menghadapi segala sesuatu. Salah satu contoh adalah kebiasaan menanamkan mental blocking pada angkatan bawah, sehingga mereka terbiasa untuk menolak apa-apa yang datangnya dari rektorat ataupun himpunan lain. Apapun yang rektorat lakukan adalah salah. Karena apa, angkatan atas pun sama-sama membencinya, dan mereka telah berhasil menanamkan itu pada diri kita, dan walah kita jadi sang pewaris akhirnya. Bahkan kita sudah tidak adil semenjak di dalam pikiran kita sendiri. Sadar bung! Musuh kita bukan rektorat bukan pula himpunan lain, musuh kita di luar bung! Bukan pula bangsa lain. Kita tidak seharusnya membenci orang, yang kita lakukan seharusnya adalah membenci tindakan-tindakan salah yang mereka lakukan. Karena jika anda telah membenci seseorang, apapun yang dia lakukan akan selalu anda benci, objektivitas anda gantungkan pada pikiran anda yang korup. Salah satu hal yang harus kita sadari agar bisa menjadi solusi adalah dengan menjadi solusi itu sendiri. Apapun yang telah mahasiswa bahas, dari dulu sampai saat ini tidak pernah diwujudkan secara konkrit. Karena apa, kita tidak pernah berpikir untuk melakukan. Selama berdiskusi secara tidak sadar anda sedang menggunakan otak kiri anda. Semakin sering anda berdiskusi semakin berkembang kemampuan otak kiri anda, tapi tidak dengan otak kanan. Tahu apa akibatnya, integritas anda korbankan. Karena pada akhirnya tindakan dan perkataan anda tidak sinergis. Dan akhirnya kita menjadi manusia yang kikuk sendiri terhadap masyarakatnya, asyik sendiri dengan sekolahnya, prematur dalam bersikap.

Saat ini bukan waktunya kita mencari penyebab kegagalan kita (mahasiswa) dalam bergerak. Seorang teman berkata “daripada terus mengutuk kegelapan, lebih baik anda coba nyalakan sebatang lilin”. Saya berharap anda mau menjadi lilin-lilin itu. Kampus ini butuh optimism, kampus ini butuh positivism, kampus ini butuh orang-orang yang open mind, logic, have integrity, dan mature. Bisakah saya? Bisakah anda? Berat memang, tapi kalau bukan kita siapa lagi (rasanya seperti iklan). Jika anda yakin ITB itu memiliki putra putri terbaik bangsa (saya yakin itu), maka anda harus yakin bahwa dari kampus inilah perubahan besar di masyarakat dan bangsa ini bisa dimulai. Saya sangat yakin kenapa Indonesia tidak berubah dan berkembang, karena ITB pun demikian, kemahasiswaan kita pun demikian. Kampus ini seolah-olah menjadi cerminan peradaban Indonesia. Bisakah kita mulai membentuk satu peradaban baru di kampus ini, sebuah refleksi dari masyarakat madani, yang mendasarkan diri pada kebenaran ilmiah dan kedewasaan sebagai seorang manusia. Peradaban besar hanya bisa diwujudkan oleh orang-orang yang memiliki jiwa besar dan pemikiran yang besar. Ia tidak lahir dari cara pandang yang sempit dan jiwa yang kerdil. Dan sejarah membuktikan bahwa musuh terbesar manusia adalah manusia itu sendiri….

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. dian said, on September 16, 2008 at 7:36 AM

    nice :) ku link ya, wa!

  2. razorleaf said, on September 18, 2008 at 1:28 PM

    iya kang… saya pun merasa begitu.. entah mengapa saya dulu di SMA merasa cukup kondusif namun di ITB merasa sangat jauh dari puncak idealisme. Idealisme itu serasa cuma suatu ujaran yang tak henti dikatakan. Terlepas dari aku yang kurang begitu mapan tapi aku ingin bisa merubah kondisi ini. Kang… ada pendapat apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa TPB. mulai dari sekala terkecil. notabanenya kami belum kenal kondisi nyata ITB.

    please send a reply to reza_asriandi@yahoo.co.id


Leave a Reply