Pembangunan Indonesia; Bangkitnya Negara Dunia Ketiga

July 30, 2008 § 7 Comments

Lebih dari tiga perempat penduduk dunia tinggal di negara-negara berkembang, namun mereka semua hanya menikmati 16% dari total pendapatan dunia-sedangkan 20% penduduk di berbagai negara terkaya menikmati hampir 85% dari seluruh pendapat global.

-United Nations Development Program, Human Development Report, 1995

Rasanya sudah terlalu basi untuk membandingkan taraf kehidupan penduduk negara-negara berkembang dengan negara-negara maju. Pada kenyataannya, kesenjangan antara keduanya adalah semua kenyataan yang tidak dapat kita semua pungkiri lagi. Pertanyaan yang paling penting untuk dilontarkan saat ini adalah: Apakah negara-negara dunia ketiga ini bisa berkembang dan maju atau tidak, jika ya bagaimana caranya? Hal selanjutnya yang harus kita analisis untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut adalah mengenai peran negara-negara maju dalam perkembangan negara dunia ketiga. Namun agar kita dapat memahami lebih jauh lagi mengenai pola pembangunan dunia ketiga ini kita haruslah memiliki perspektif yang jauh lebih luas. Perspektif akan coba kita bagi ke dalam beberapa subperspektif yaitu histori, kultur, dan politik. Sebelum kita membahas ketiga perspektif tersebut ada baiknya kita untuk mendefinisikan atau mengkonseptualisasikan istilah pembangunan secara luas sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang “lebih baik” atau “lebih manusiawi” Namun konteks definisi tersebut pun masih terlalu absurd. Kehidupan yang lebih baik dan manusiawi itu sendiri masih menjadi pertanyaan besar. Pertanyaan mengenai soal tersebut bahkan sudah sama tuanya dengan ilmu filsafat dan peradaban manusia. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu menkonkritkan parameter pembangunan ke dalam tiga komponen yaitu kecukupan, jati diri dan kebebasan (Prof. Goulet). Ketiga hal inilah yang merupakan tujuan pokok yang harus digapai oleh setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. Kecukupan berkaitan dengan semua hal yang merupakan kebutuhan dan manusia secara fisik. Kebutuhan dasar ini meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan, dan keamanan.

 

Semua ,manusia lahir dengan membawa potensi kapabilitas tertentu. Tujuan pembangunan adalah menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan setiap orang mengembangkan kapabilitas itu, dan kesempatannya harus senantiasa dipupuk dari satu generasi ke generasi berikutnya.

-Laporan PBB, Human Development Report, 1994

 

Komponen kedua adalah dari kehidupan yang serba lebih baik adalah adanya dorongan dari diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu, dan seterusnya. Semua itu terangkum dalam satu istilah yaitu jati diri (self esteem). Sekali jati diri Anda hilang, maka Anda akan kehilangan segala-galanya. Penyebaran ”nilai-nilai modern” yang bersumber dari negara-negara maju telah mengakibatkan kejutan dan kebingungan budaya di banyak negara berkembang. Kontak ini acapkali mengakibatkan defnisi dan batasan mengenai baik buruk atau benar salah menjadi kabur. Kemakmuran materiil lambat laun dianggap sebagai ukuran kelayakan universal dan dinobatkan menjadi landasan penilaian atas segala sesuatu. Banyak bangsa yang tiba-tiba saja merasa dirinya kecil atau tidak berarti hanya karena mereka tidak memiliki kemajuan ekonomi dan teknologi setinggi bangsa lain. Masyarakat dunia ketiga akhirnya berlomba-lomba mengejar hal-hal tersebut dan tanpa mereka sadari ternyata mereka telah kehilangan jati diri.

 

Komponen ketiga yang harus terkandung dalam makna pembangunan adalah konsep kemerdekaan manusia. Kemerdekaan atau kebebasan ini hendaknya diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak dan meliputi kemampuan untuk memilih.

 

Sekarang kita akan mencoba untuk membahas perspektif

 

Histori

Hampir semua negara di Asia dan Afrika pernah dijajah oleh kekuatan kolonial Eropa Barat, bukan hanya Inggris dan Perancis, tetapi juga Belgia, Belanda, Jerman, Portugal dan Spanyol. Selanjutnya, struktur perekonomian, pendidikan dan lembaga-lembaga soaial yang ada di negara-negara jajahan tersebut biasanya dibentuk oleh bekas negara penjajahnya. Tentu saja pertimbangan utamanya adalah kepentingan si penjajah sendiri bukannya negara berkembang yang terjajah. Sebagai akibatnya, struktur warisan kolonial biasanya tidak sesuai dengan kebutuhan atau kepentingan khas dari negara berkembang itu sendiri. Banyak contoh kasus yang menunjukkan jika penjajahan yang dilakukan sekian puluh yang lalu oleh negara-negara barat masih saja meninggalkan bekas-bekas yang menyulitkan banyak negara berkembang dalam upaya mereka untuk memusatkan perhatian pada pembangunan.

 

Kultural

Kebudayaan sebagai bentuk manifestasi dari kemampuan manusia dalam berpikir dan bertindak memunculkan konstruksi peradaban manusia itu sendiri. Peradaban dan kebudayaan itu sendiri kemudian seperti pabrik besar pencetak generasi selanjutnya yang kurang lebih memiliki karakteristik seperti generasi sebelumnya. Tidak terlepas dari perspektif pertama, maka kemudian kebudayaan dan peradaban inti negara dunia ketiga yang pernah tercerabut akibat adanya penjajahan menimbulkan disorientasi arah dan kebingungan. Pertama, hal ini dikibatkan pola pikir materiil yang hinggap di masyarakat dunia ketiga akibat proses penjajahan. Perlu ditekankan bahwa seluruh proses penjajahan yang terjadi pada negara dunia ketiga semuanya memang berkaitan dengan kepentingan penjajah dalam hal materiil (bahan mentah dan budak). Sehingga maksud keberadaan masyarakat dunia ketiga saat itu diset untuk memenuhi kebutuhan negara penjajah. Kemudian kemampuan berpikir dan bertindak masyarakat pun diarahkan menuju maksud tersebut. Bahkan pengekangan terhadap perkembangan pemikiran pun timbul sebagai bentuk pengekalan proses penjajahan. Proses penjajahan itu akhirnya menghilangkan jati diri negara dunia ketiga. Sehingga sampai saat ini negara dunia ketiga masih disibukkan oleh permasalah kultural yang membatasi mereka untuk berkembang.

 

Politik

Dalam menguraikan pembangunan sebagai proses sistematis tidak dapat dilepaskan dari kebijakan-kebijakan pemerintah negara dunia ketiga. Hendaknya politik ini tidak diartikan sesempit kalimat diatas, namun politik ini hendaknya diartikan secara luas sebagai manifestasi-manifestasi keinginan masyarakat negara dunia ketiga yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk struktural beserta perangkat perilakunya guna mencapai pembangunan yang diharapkan. Pada saat ini di negara dunia ketiga manifestasi-manifestasi keinginan tersebut tidak selaras dengan bentuk-bentuk struktural dan perangkat perilakunya. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh dua perspektif diatas. Sehingga ketiga perspektif ini saling mempengaruhi satu sama lain.

 

Sekarang hal yang paling mempengaruhi dalam konteks pembangunan adalah masalah seberapa kuat keinginan negara dunia ketiga untuk maju dan berkembang. Tanpa mengesampingkan faktor luar yang dapat mempengaruhi perkembangan negara dunia ketiga, mereka harus menyadari bagaimana dunia ini bekerja dan mengoptimalkan kapabilitasnya dalam mengambil kesempatan untuk maju dan berkembang. Sehingga masyarakat dunia ketiga tidak larut dalam kondisi menyalahkan histori ataupun negara-negara maju.

 

Untuk mengetahui bagaimana dunia ini bekerja, maka kita dapat menganalisis dengan menggunakan pendekatan teori pembangunan berdasarkan bidang ekonomi. Ada beberapa teori pembangunan yang dikembangkan, namun secara garis dapat kita bagi menjadi 3 yaitu teori siklus, teori ketergantungan, dan teori pasar. Teori siklus menjelaskan bahwa perkembangan suatu negara memang merupakan urutan tahap-tahap perkembangan. Jadi jika suatu negara ingin maju dan berkembang maka ada tahap-tahap tertentu yang harus mereka lewati, dan sebagai dasar penyusunan tahap-tahap ini adalah proses yang telah dilalui oleh negara-negara maju. Kemudian teori ketergantungan menjelaskan bahwa perkembangan suatu negara dunia ketiga sangat tergantung kepada pola negara-negara maju baik yang telah dilakukan ataupun yang akan dilakukan. Teori ini muncul sebagai bentuk ketidakpuasan atas dominasi dan perkembangan negara-negara maju yang bertolak belakang dengan penurunan kualitas hidup negara-negara dunia ketiga. Teori ketiga menjelaskan bahwa mekanisme pasar dapat ikut serta mempercepat proses pembangunan, hal ini dikarenakan adanya percepatan pertumbuhan aktivitas ekonomi yang disertai dengan peningkatan pendapatan, perbaikan produktivitas dan pemerataan pembangunan. Teori ketiga ini merupakan teori yang saat ini banyak dikembangkan oleh negara-negara maju. Pemahaman yang benar atas ketiganya sangat penting sebagai dasar pijakan konsep pemikiran kita dalam menstrukturkan bagaimana dunia ini bekerja. Beberapa konsep dasar yang penting adalah: manusia itu tidak pernah lepas dari kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan, kemudian manusia itu pada dasarnya berbeda, selanjutnya manusia itu tidak pernah puas (bisa kita lihat satu-satunya konsep yang bertentangan dengan hal-hal tersebut adalah agama). Oleh karena itu ketiga teori tersebut bisa kita katakan benar dalam satu hal, namun salah dalam hal lain. Sebagai contoh teori pasar, dalam hal ini banyak negara dunia ketiga yang telah membuka gerbang pasar, investasi dan liberalisasi namun kondisi keterpurukan tetap sulit untuk diubah karena ternyata mekanisme pasar yang ada tidak terlalu menguntungkan negara tersebut malahan menguntungkan negara maju. Kemudian teori kedua sulit dijelaskan secara ilmiah karena memang lebih berdasarkan kepada ideologi dan pemikiran kontraposisi negara dunia ketiga. Sedangkan untuk teori pertama, lupa untuk memperhatikan perbedaan karakteristik tiap-tiap negara karena perkembangan bersifat unik. Namun jika ketiga dirangkum dalam satu kesimpulan maka kita akan melihat sebuah pendekatan holistik atas mekanisme dunia saat ini.

 

Disequlibrium theory

Pendekatan holistik ini akan kita sebut sebagai teori disequilibrium. Salah satu dasar dari teori ini adalah keadaan dunia memang seimbang dengan ketidakseimbangannya. Artinya konsep dualisme adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Sehingga konsep superioritas dan inferioritas akan selalu melekat dalam sejarah peradaban manusia. Teori-teori yang ada memang sanggup untuk menjelaskan kemajuan beberapa negara dan keterpurukan negara-negara di sisi lain, namun ketiganya tidak sanggup untuk menginisialisasi sebuah konsep perubahan ke arah yang lebih baik bagi semua pihak. Teori disequilibrium ini mencoba untuk menjelaskan bahwa kondisi seperti saat ini tidak berubah sampai kapanpun. Perubahan ada, namun hanya seperti sekedar pergiliran peran dimana alur dan inti ceritanya masih sama. Kondisi diequilibrium ini muncul akibat pola pikir materiil, hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan bahwa materi itu tetap sehingga jika ada yang berlebih maka akan ada yang berkekurangan. Oleh karena itu berdasarkan teori disequilibrium, kondisi equilibrium hanya bisa didekati (tidak bisa diwujudkan) dengan pendekatan pola pikir non-materiil. Sebagai contoh, investasi asing di negara-negara dunia ketiga memang tidak didasari oleh keinginan investor untuk meningkatkan taraf hidup pendudukk negara dunia ketiga. Tetapi lebih kepada perhitungan keuntungan yang akan didapatkan dari penanaman modal. Hal ini semakin jelas karena kesenjangan antara kedua golongan tersebut setiap hari semakin tajam. Dengan meningkatnya keuntungan, maka ada beberapa hal lain yang pada dasarnya akan berkurang. Salah satu contohnya adalah upah ataupun jaminan kesehatan bagi karyawan. Jadi jelas bahwa saat ini diperlukan perubahan pandangan terhadap arti dari kemajuan. Dualistik dalam kehidupan seharusnya benar-benar membuat kita sadar bahwa kehidupan yang lebih baik itu tidak dapat lagi kita sandarkan kepada pooa pikir materiil. Konsep disequilibrium pada akhirnya diharapkan bisa meyakinkan bahwa perubahan bisa terjadi apabila semua pihak mulai memikirkan kepentingan bersama. Sebagai contoh, kondisi keterpurukan di sebuah negara dunia ketiga haruslah dianggap sebagai permasalahan bersama. Kenapa? Karena erat kaitannya dengan kemajuan yang dialami oleh negara maju. Penjelasan logis atas teori ketergantungan bukan lagi menjadi teori yang konspiratif karena dengan sangat jelas dengan sengaja atau tidak kemajuan yang dialami suatu negara akan disertai juga dengan kemunduran negara lain. Oleh karena itu teori disequilibrium menganjurkan kepada semua negara maju untuk sesegera mungkin mengubah pola kebijakan luar negeri mereka menjadi pola yang berpihak kepada perkembangan bersama. Dan teori disequilibrium menganjurkan kepada negara dunia ketiga untuk menyadari penuh bahwa landasan pembangunan berdasarkan pola pikir materiil tidak akan membawa negara mereka kepada kondisi ideal yang dicita-citakan.

 

Jadi sebenarnya teori disequilibrium ini hanyalah kesimpulan pokok dari semua teori yang ada. Hampir semua teori yang ada itu memiliki nilai kebenaran dalam perspektif tertentu. Namun ada hal lain yang memang sifatnya sedikit absurd yang hilang dalam proses kematangan peradaban manusia. Teori disequilibrium ini hanya ingin mencoba menjelaskan bahwa ketidakseimbangan yang terjadi ini memang berdasarkan pada karakteristik kehidupan. Wajar jika kondisi dunia seperti saat ini karena negara-negara maju dengan pola pikirnya masing-masing tetap ingin mempertahankan kondisi disequilibrium agar tetap menguntungkan mereka. Opini ini mungkin hanya sekedar asumsi belaka, namun semua kekakacauan di dunia tidak akan pernah hilang saat kita semua tidak mau mengerti dan menerima karakteristik kehidupan. Jadi suatu saat nanti, titik disequilibrium akan bergeser dan mulai menguntungkan negara dunia ketiga, namun tetap kekacauan tidak akan pernah berhenti. Kecuali negara dunia ketiga dapat mempelajari bagaimana dunia ini bekerja dan menjadi bijak karenanya.

 

Indonesia, sebagai salah satu negara dunia ketiga yang saat ini mengalami keterpurukan di segala segi tidak terlepas dari kondisi internasional yang terkadang dapat mebuat Indonesia semakin jatuh terperosok. Pola kebijakan internasional yang ada saat ini memang tidak didasarkan pada pengetahuan tentang kondisi disequilibrium ini. Sehingga semua negara berlomba-lomba menggapai gelar negara maju dengan cara apapun. Mungkin dalam titik disequilibrium, Indonesia masih terletak didalam zona kritikal. Grafik disequilibrium ini memang seperti grafi keseimbangan, yaitu jika salah satu naik maka ada titik lain yang akan turun. Saat ini ada dua pilihan bagi Indonesia jika ingin maju dan berkembang, berdasarkan tori disequilibrium. Pertama, Indonesia dapat mempelajari bagaimana perpindahan titik ini bisa terjadi tanpa menghiraukan dampaknya sehingga kemajuan dan perkembangan dapat dirasakan masyarakat Indonesia. Dengan pilihan ini Indonesia akan benar-benar menjadi negara maju lainnya, dalam arti seperti negara maju saat ini yang tidak menghiraukan arti kemajuan dia sebagai sebab kemunduran di negara lain. Kedua, Indonesia mengusahakan perpindahan titik disequilibrium namun menyadari penuh akibat yang akan ditimbulkan, sehingga dalam pola kebijakan politik luar negerinya Indonesia menempatkan diri sebagai negara maju yang berpihak pada kepentingan seluruh umat manusia. Sehingga Indonesia diharapkan dapat menjadi penggagas reorientasi dari semua kelembagaan internasional yang ada saat ini untuk memperbaiki cara pandang dan pola pikir baru terhadap arti dari kemajuan peradaban umat manusia.

About these ads

§ 7 Responses to Pembangunan Indonesia; Bangkitnya Negara Dunia Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pembangunan Indonesia; Bangkitnya Negara Dunia Ketiga at Sebuah Catatan Kecil...

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,447 other followers

%d bloggers like this: