<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menuju Indonesia Bangkit</title>
	<atom:link href="http://otakkurusak.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://otakkurusak.wordpress.com</link>
	<description>mimpi hari ini...kenyataan esok hari...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jun 2009 15:16:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='otakkurusak.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/26cbb5acb542d791c93eff359edfe9c4?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Menuju Indonesia Bangkit</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pembangunan Indonesia; Bangkitnya Negara Dunia Ketiga</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/07/30/pembangunan-indonesia-bangkitnya-negara-dunia-ketiga/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/07/30/pembangunan-indonesia-bangkitnya-negara-dunia-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 08:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Lebih dari tiga perempat penduduk dunia tinggal di negara-negara berkembang, namun mereka semua hanya menikmati 16% dari total pendapatan dunia-sedangkan 20% penduduk di berbagai negara terkaya menikmati hampir 85% dari seluruh pendapat global. 
 -United Nations Development Program, Human Development Report, 1995

Rasanya sudah terlalu basi untuk membandingkan taraf kehidupan penduduk negara-negara berkembang dengan negara-negara maju. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=62&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI" align="justify"><em>Lebih dari tiga perempat penduduk dunia tinggal di negara-negara berkembang, namun mereka semua hanya menikmati 16% dari total pendapatan dunia-sedangkan 20% penduduk di berbagai negara terkaya menikmati hampir 85% dari seluruh pendapat global. </em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><em><span lang="fi-FI"> </span>-United Nations Development Program, Human Development Report, 1995</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span id="more-62"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Rasanya sudah terlalu basi untuk membandingkan taraf kehidupan penduduk negara-negara berkembang dengan negara-negara maju. Pada kenyataannya, kesenjangan antara keduanya adalah semua kenyataan yang tidak dapat kita semua pungkiri lagi. Pertanyaan yang paling penting untuk dilontarkan saat ini adalah: Apakah negara-negara dunia ketiga ini bisa berkembang dan maju atau tidak, jika ya bagaimana caranya? Hal selanjutnya yang harus kita analisis untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut adalah mengenai peran negara-negara maju dalam perkembangan negara dunia ketiga. Namun agar kita dapat memahami lebih jauh lagi mengenai pola pembangunan dunia ketiga ini kita haruslah memiliki perspektif yang jauh lebih luas. Perspektif akan coba kita bagi ke dalam beberapa subperspektif yaitu histori, kultur, dan politik. Sebelum kita membahas ketiga perspektif tersebut ada baiknya kita untuk mendefinisikan atau mengkonseptualisasikan istilah pembangunan secara luas sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang “lebih baik” atau “lebih manusiawi” Namun konteks definisi tersebut pun masih terlalu absurd. Kehidupan yang lebih baik dan manusiawi itu sendiri masih menjadi pertanyaan besar. Pertanyaan mengenai soal tersebut bahkan sudah sama tuanya dengan ilmu filsafat dan peradaban manusia. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu menkonkritkan parameter pembangunan ke dalam tiga komponen yaitu kecukupan, jati diri dan kebebasan (Prof. Goulet). Ketiga hal inilah yang merupakan tujuan pokok yang harus digapai oleh setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. Kecukupan berkaitan dengan semua hal yang merupakan kebutuhan dan manusia secara fisik. <span lang="fi-FI">Kebutuhan dasar ini meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan, dan keamanan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI" align="justify"><em>Semua ,manusia lahir dengan membawa potensi kapabilitas tertentu. Tujuan pembangunan adalah menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan setiap orang mengembangkan kapabilitas itu, dan kesempatannya harus senantiasa dipupuk dari satu generasi ke generasi berikutnya. </em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><em>-Laporan PBB, Human Development Report, 1994</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="fi-FI">Komponen kedua adalah dari kehidupan yang serba lebih baik adalah adanya dorongan dari diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu, dan seterusnya. Semua itu terangkum dalam satu istilah yaitu jati diri (self esteem). </span><span lang="sv-SE">Sekali jati diri Anda hilang, maka Anda akan kehilangan segala-galanya. Penyebaran ”nilai-nilai modern” yang bersumber dari negara-negara maju telah mengakibatkan kejutan dan kebingungan budaya di banyak negara berkembang. Kontak ini acapkali mengakibatkan defnisi dan batasan mengenai baik buruk atau benar salah menjadi kabur. Kemakmuran materiil lambat laun dianggap sebagai ukuran kelayakan universal dan dinobatkan menjadi landasan penilaian atas segala sesuatu. Banyak bangsa yang tiba-tiba saja merasa dirinya kecil atau tidak berarti hanya karena mereka tidak memiliki kemajuan ekonomi dan teknologi setinggi bangsa lain. Masyarakat dunia ketiga akhirnya berlomba-lomba mengejar hal-hal tersebut dan tanpa mereka sadari ternyata mereka telah kehilangan jati diri. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE">Komponen ketiga yang harus terkandung dalam makna pembangunan adalah konsep kemerdekaan manusia. Kemerdekaan atau kebebasan ini hendaknya diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak dan meliputi kemampuan untuk memilih. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">Sekarang kita akan mencoba untuk membahas perspektif</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">Histori</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE">Hampir semua negara di Asia dan Afrika pernah dijajah oleh kekuatan kolonial Eropa Barat, bukan hanya Inggris dan Perancis, tetapi juga Belgia, Belanda, Jerman, Portugal dan Spanyol. Selanjutnya, struktur perekonomian, pendidikan dan lembaga-lembaga soaial yang ada di negara-negara jajahan tersebut biasanya dibentuk oleh bekas negara penjajahnya. Tentu saja pertimbangan utamanya adalah kepentingan si penjajah sendiri bukannya negara berkembang yang terjajah. Sebagai akibatnya, struktur warisan kolonial biasanya tidak sesuai dengan kebutuhan atau kepentingan khas dari negara berkembang itu sendiri. Banyak contoh kasus yang menunjukkan jika penjajahan yang dilakukan sekian puluh yang lalu oleh negara-negara barat masih saja meninggalkan bekas-bekas yang menyulitkan banyak negara berkembang dalam upaya mereka untuk memusatkan perhatian pada pembangunan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">Kultural</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE">Kebudayaan sebagai bentuk manifestasi dari kemampuan manusia dalam berpikir dan bertindak memunculkan konstruksi peradaban manusia itu sendiri. Peradaban dan kebudayaan itu sendiri kemudian seperti pabrik besar pencetak generasi selanjutnya yang kurang lebih memiliki karakteristik seperti generasi sebelumnya. Tidak terlepas dari perspektif pertama, maka kemudian kebudayaan dan peradaban inti negara dunia ketiga yang pernah tercerabut akibat adanya penjajahan menimbulkan disorientasi arah dan kebingungan. Pertama, hal ini dikibatkan pola pikir materiil yang hinggap di masyarakat dunia ketiga akibat proses penjajahan. Perlu ditekankan bahwa seluruh proses penjajahan yang terjadi pada negara dunia ketiga semuanya memang berkaitan dengan kepentingan penjajah dalam hal materiil (bahan mentah dan budak). Sehingga maksud keberadaan masyarakat dunia ketiga saat itu diset untuk memenuhi kebutuhan negara penjajah. Kemudian kemampuan berpikir dan bertindak masyarakat pun diarahkan menuju maksud tersebut. Bahkan pengekangan terhadap perkembangan pemikiran pun timbul sebagai bentuk pengekalan proses penjajahan. Proses penjajahan itu akhirnya menghilangkan jati diri negara dunia ketiga. Sehingga sampai saat ini negara dunia ketiga masih disibukkan oleh permasalah kultural yang membatasi mereka untuk berkembang. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">Politik</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE">Dalam menguraikan pembangunan sebagai proses sistematis tidak dapat dilepaskan dari kebijakan-kebijakan pemerintah negara dunia ketiga. Hendaknya politik ini tidak diartikan sesempit kalimat diatas, namun politik ini hendaknya diartikan secara luas sebagai manifestasi-manifestasi keinginan masyarakat negara dunia ketiga yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk struktural beserta perangkat perilakunya guna mencapai pembangunan yang diharapkan. Pada saat ini di negara dunia ketiga manifestasi-manifestasi keinginan tersebut tidak selaras dengan bentuk-bentuk struktural dan perangkat perilakunya. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh dua perspektif diatas. Sehingga ketiga perspektif ini saling mempengaruhi satu sama lain.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">Sekarang hal yang paling mempengaruhi dalam konteks pembangunan adalah masalah seberapa kuat keinginan negara dunia ketiga untuk maju dan berkembang. Tanpa mengesampingkan faktor luar yang dapat mempengaruhi perkembangan negara dunia ketiga, mereka harus menyadari bagaimana dunia ini bekerja dan mengoptimalkan kapabilitasnya dalam mengambil kesempatan untuk maju dan berkembang. Sehingga masyarakat dunia ketiga tidak larut dalam kondisi menyalahkan histori ataupun negara-negara maju.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE">Untuk mengetahui bagaimana dunia ini bekerja, maka kita dapat menganalisis dengan menggunakan pendekatan teori pembangunan berdasarkan bidang ekonomi. Ada beberapa teori pembangunan yang dikembangkan, namun secara garis dapat kita bagi menjadi 3 yaitu teori siklus, teori ketergantungan, dan teori pasar. Teori siklus menjelaskan bahwa perkembangan suatu negara memang merupakan urutan tahap-tahap perkembangan. Jadi jika suatu negara ingin maju dan berkembang maka ada tahap-tahap tertentu yang harus mereka lewati, dan sebagai dasar penyusunan tahap-tahap ini adalah proses yang telah dilalui oleh negara-negara maju. Kemudian teori ketergantungan menjelaskan bahwa perkembangan suatu negara dunia ketiga sangat tergantung kepada pola negara-negara maju baik yang telah dilakukan ataupun yang akan dilakukan. Teori ini muncul sebagai bentuk ketidakpuasan atas dominasi dan perkembangan negara-negara maju yang bertolak belakang dengan penurunan kualitas hidup negara-negara dunia ketiga. Teori ketiga menjelaskan bahwa mekanisme pasar dapat ikut serta mempercepat proses pembangunan, hal ini dikarenakan adanya percepatan pertumbuhan aktivitas ekonomi yang disertai dengan peningkatan pendapatan, perbaikan produktivitas dan pemerataan pembangunan. Teori ketiga ini merupakan teori yang saat ini banyak dikembangkan oleh negara-negara maju. Pemahaman yang benar atas ketiganya sangat penting sebagai dasar pijakan konsep pemikiran kita dalam menstrukturkan bagaimana dunia ini bekerja. Beberapa konsep dasar yang penting adalah: manusia itu tidak pernah lepas dari kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan, kemudian manusia itu pada dasarnya berbeda, selanjutnya manusia itu tidak pernah puas (bisa kita lihat satu-satunya konsep yang bertentangan dengan hal-hal tersebut adalah agama). Oleh karena itu ketiga teori tersebut bisa kita katakan benar dalam satu hal, namun salah dalam hal lain. Sebagai contoh teori pasar, dalam hal ini banyak negara dunia ketiga yang telah membuka gerbang pasar, investasi dan liberalisasi namun kondisi keterpurukan tetap sulit untuk diubah karena ternyata mekanisme pasar yang ada tidak terlalu menguntungkan negara tersebut malahan menguntungkan negara maju. Kemudian teori kedua sulit dijelaskan secara ilmiah karena memang lebih berdasarkan kepada ideologi dan pemikiran kontraposisi negara dunia ketiga. Sedangkan untuk teori pertama, lupa untuk memperhatikan perbedaan karakteristik tiap-tiap negara karena perkembangan bersifat unik. Namun jika ketiga dirangkum dalam satu kesimpulan maka kita akan melihat sebuah pendekatan holistik atas mekanisme dunia saat ini. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify"><em><strong>Disequlibrium theory</strong></em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE">Pendekatan holistik ini akan kita sebut sebagai teori disequilibrium. Salah satu dasar dari teori ini adalah keadaan dunia memang seimbang dengan ketidakseimbangannya. Artinya konsep dualisme adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Sehingga konsep superioritas dan inferioritas akan selalu melekat dalam sejarah peradaban manusia. Teori-teori yang ada memang sanggup untuk menjelaskan kemajuan beberapa negara dan keterpurukan negara-negara di sisi lain, namun ketiganya tidak sanggup untuk menginisialisasi sebuah konsep perubahan ke arah yang lebih baik bagi semua pihak. Teori disequilibrium ini mencoba untuk menjelaskan bahwa kondisi seperti saat ini tidak berubah sampai kapanpun. Perubahan ada, namun hanya seperti sekedar pergiliran peran dimana alur dan inti ceritanya masih sama. Kondisi diequilibrium ini muncul akibat pola pikir materiil, hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan bahwa materi itu tetap sehingga jika ada yang berlebih maka akan ada yang berkekurangan. Oleh karena itu berdasarkan teori disequilibrium, kondisi equilibrium hanya bisa didekati (tidak bisa diwujudkan) dengan pendekatan pola pikir non-materiil. Sebagai contoh, investasi asing di negara-negara dunia ketiga memang tidak didasari oleh keinginan investor untuk meningkatkan taraf hidup pendudukk negara dunia ketiga. Tetapi lebih kepada perhitungan keuntungan yang akan didapatkan dari penanaman modal. Hal ini semakin jelas karena kesenjangan antara kedua golongan tersebut setiap hari semakin tajam. Dengan meningkatnya keuntungan, maka ada beberapa hal lain yang pada dasarnya akan berkurang. Salah satu contohnya adalah upah ataupun jaminan kesehatan bagi karyawan. Jadi jelas bahwa saat ini diperlukan perubahan pandangan terhadap arti dari kemajuan. Dualistik dalam kehidupan seharusnya benar-benar membuat kita sadar bahwa kehidupan yang lebih baik itu tidak dapat lagi kita sandarkan kepada pooa pikir materiil. Konsep disequilibrium pada akhirnya diharapkan bisa meyakinkan bahwa perubahan bisa terjadi apabila semua pihak mulai memikirkan kepentingan bersama. Sebagai contoh, kondisi keterpurukan di sebuah negara dunia ketiga haruslah dianggap sebagai permasalahan bersama. </span><span lang="fi-FI">Kenapa? Karena erat kaitannya dengan kemajuan yang dialami oleh negara maju. Penjelasan logis atas teori ketergantungan bukan lagi menjadi teori yang konspiratif karena dengan sangat jelas dengan sengaja atau tidak kemajuan yang dialami suatu negara akan disertai juga dengan kemunduran negara lain. Oleh karena itu teori disequilibrium menganjurkan kepada semua negara maju untuk sesegera mungkin mengubah pola kebijakan luar negeri mereka menjadi pola yang berpihak kepada perkembangan bersama. Dan teori disequilibrium menganjurkan kepada negara dunia ketiga untuk menyadari penuh bahwa landasan pembangunan berdasarkan pola pikir materiil tidak akan membawa negara mereka kepada kondisi ideal yang dicita-citakan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="fi-FI">Jadi sebenarnya teori disequilibrium ini hanyalah kesimpulan pokok dari semua teori yang ada. </span><span lang="sv-SE">Hampir semua teori yang ada itu memiliki nilai kebenaran dalam perspektif tertentu. Namun ada hal lain yang memang sifatnya sedikit absurd yang hilang dalam proses kematangan peradaban manusia. Teori disequilibrium ini hanya ingin mencoba menjelaskan bahwa ketidakseimbangan yang terjadi ini memang berdasarkan pada karakteristik kehidupan. Wajar jika kondisi dunia seperti saat ini karena negara-negara maju dengan pola pikirnya masing-masing tetap ingin mempertahankan kondisi disequilibrium agar tetap menguntungkan mereka. Opini ini mungkin hanya sekedar asumsi belaka, namun semua kekakacauan di dunia tidak akan pernah hilang saat kita semua tidak mau mengerti dan menerima karakteristik kehidupan. Jadi suatu saat nanti, titik disequilibrium akan bergeser dan mulai menguntungkan negara dunia ketiga, namun tetap kekacauan tidak akan pernah berhenti. Kecuali negara dunia ketiga dapat mempelajari bagaimana dunia ini bekerja dan menjadi bijak karenanya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE">Indonesia, sebagai salah satu negara dunia ketiga yang saat ini mengalami keterpurukan di segala segi tidak terlepas dari kondisi internasional yang terkadang dapat mebuat Indonesia semakin jatuh terperosok. Pola kebijakan internasional yang ada saat ini memang tidak didasarkan pada pengetahuan tentang kondisi disequilibrium ini. Sehingga semua negara berlomba-lomba menggapai gelar negara maju dengan cara apapun. Mungkin dalam titik disequilibrium, Indonesia masih terletak didalam zona kritikal. Grafik disequilibrium ini memang seperti grafi keseimbangan, yaitu jika salah satu naik maka ada titik lain yang akan turun. Saat ini ada dua pilihan bagi Indonesia jika ingin maju dan berkembang, berdasarkan tori disequilibrium. Pertama, Indonesia dapat mempelajari bagaimana perpindahan titik ini bisa terjadi tanpa menghiraukan dampaknya sehingga kemajuan dan perkembangan dapat dirasakan masyarakat Indonesia. Dengan pilihan ini Indonesia akan benar-benar menjadi negara maju lainnya, dalam arti seperti negara maju saat ini yang tidak menghiraukan arti kemajuan dia sebagai sebab kemunduran di negara lain. Kedua, Indonesia mengusahakan perpindahan titik disequilibrium namun menyadari penuh akibat yang akan ditimbulkan, sehingga dalam pola kebijakan politik luar negerinya Indonesia menempatkan diri sebagai negara maju yang berpihak pada kepentingan seluruh umat manusia. Sehingga Indonesia diharapkan dapat menjadi penggagas reorientasi dari semua kelembagaan internasional yang ada saat ini untuk memperbaiki cara pandang dan pola pikir baru terhadap arti dari kemajuan peradaban umat manusia.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=62&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/07/30/pembangunan-indonesia-bangkitnya-negara-dunia-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>anak muda zaman sekarang</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/05/01/anak-muda-zaman-sekarang/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/05/01/anak-muda-zaman-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 00:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Entah kenapa pertama kali menjejakan kaki di ITB ini saya merasa ada sesuatu yang salah, bukan pada sistem sepenuhnya tetapi terutama pada orang-orangnya, terutama mahasiswa (karena saya juga mahasiswa). Sadar atau tidak, kita ini sedang mewarisi sesuatu yang berbahaya yang tidak anda sadari sendiri. Pertama kali mengikuti rapat di forum yang ada di itb, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=44&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Entah kenapa pertama kali menjejakan kaki di ITB ini saya merasa ada sesuatu yang salah, bukan pada sistem sepenuhnya<span> </span>tetapi terutama pada orang-orangnya, terutama mahasiswa (karena saya juga mahasiswa). </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Sadar atau tidak, kita ini sedang mewarisi sesuatu yang berbahaya yang tidak anda sadari sendiri. Pertama kali mengikuti rapat di forum yang ada di itb, yang saya lakukan adalah melihat siapa saja yang terlibat dalam rapat tersebut. Dan, maaf, saya menebak sampai kapan pun, jika orang-orang tersebut mengikuti rapat saya yakin tidak akan selesai. Dan memang benar, bahkan bahasan tersebut sampai saat ini, tiga tahun kemudian, tidak kunjung selesai. Kenapa? Padahal yang membahas adalah orang yang berbeda. Ya berbeda secara fisik, sedang mental tidak. Salah satu referensi yang saya baca menyebutkan bahwa kejadian tersebut merupakan akibat dari sebuah penyakit. Saya sepakat. Itu memang akibat sebuah virus, yang saat ini menyerang hampir seluruh mahasiswa kita. </span><span id="more-44"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh virus tersebut antara lain:</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span>1.<span> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Un-openminded</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">, ketidakterbukaan. Tendensi yang sangat kuat, objektivitas yang sangat lemah, kecurigaan yang berlebihan, <em>conspiracy minded</em> dan <em>opposite minded</em>. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span>2.<span> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Lack of integrity</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">, saya sebut gadaikan integritas demi sesuap bualan. Integritas adalah barang langka di kampus sekarang. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span>3.<span> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Become illogical thinker</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">, logika di bawah emosi. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Pola pikir amburadul, tidak sistematis, tidak efektif dan efisien, kritis tapi juga krisis. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span>4.<span> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Egocentric</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">, saya sebut “hati-hati bung, saya mahasiswa”-isme. Romantisme belaka, sebuah cacat historis, <em>euphoria</em> tanpa limit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Bahayanya penyakit ini adalah si penderita tidak merasakan dan menyadari bahwa sebenarnya dia mengidap penyakit ini, contoh adalah saya (yang disadarkan oleh seorang teman). Jika boleh saya berasumsi, penyakit inilah yang membuat sistem di ITB ini tidak efektif dan efisien. Coba kita telusuri sejak kapan kapan kita dijangkiti penyakit ini, apa penyebabnya, bagaimana pola penyebarannya, apa akibatnya, dan apa sebenarnya obatnya. Berdasarkan pengamatan penulis (mungkin bisa sangat subjektif, tapi anda mungkin akan membenarkan) <span> </span>keempat gejala diatas selalu muncul dalam kesempatan yang sama. Sejak kapan? Ini pertanyaan pertama yang tidak sulit untuk saya jawab. Jawabannya adalah semenjak kecil. Bagaimana bisa? Karena penyebab dari virus ini adalah pendidikan formal yang kita jalani semenjak berumur 7 tahun (cat: 7 tahun adalah umur wajar masuk sekolah dasar). Ingat, anda selalu melaporkan teman anda yang menyontek sewaktu SD, atau ada teman anda yang berbuat atau berkata kasar. Apa yang kita terima dari guru? Tidak ada! Bahkan saat ujian akhir sifat kita yang satu itu hilang dalam sekejap saat sang guru memberikan jawaban agar anak didiknya lulus, agar nama baik sekolahnya tetap terjaga sehingga beliau masih bisa mengajar. Coba anda lihat hari ini, mungkin anda-anda akan mencap siapa yang yang melaporkan sebagai pengkhianat. Menyontek jadi hal biasa bung! Berkata kasar dan berbuat kasar hampir (pasti) setiap wisudaan terjadi. Apa anda ingat dengan pertanyaan ini, “Jika anda menemukan sampah, apa yang akan anda lakukan?”, dan anda seharusnya menjawab option A yaitu membuang pada tempat sampah, karena jika tidak maka nilai anda akan kecil, bisa-bisa tidak naik kelas gara-gara pelajaran yang satu itu. Pelajaran itu membekas. Apa yang kita katakan di forum-forum tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Itu dua dunia yang berbeda. Kita menjadi menjadi orang yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari dengan apa yang kita katakan. Kita gadaikan integritas kita untuk apa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Kita dididik oleh orang-orang yang tidak kreatif (maaf, walaupun mungkin ada). Setiap saat saya selalu mencoba test kecil ini untuk membuktikan. Saat saya minta orang untuk menggambar pemandangan dalam waktu cepat, maka yang akan mereka gambar adalah dua buah gunung dengan sebuah matahari dan jalan lurus yang dikanan kirinya ada petak-petak sawah. Jika tidak maka mereka akan menggambar apapun, asal jangan dua gunung tadi. Hal ini pun berbekas di diri kita. Kita mulai menyempitkan banyak makna, sebagaimana menyempitkan arti pemandangan tadi. Yang paling parah adalah kaderisasi, berusaha mendewa-dewakan kaderisasi padahal yang kita lakukan malah menyempitkan. Bahkan saat ini kita tidak bisa lepas (secara sadar ataupun tidak) dari kungkungan tradisi kaderisasi-kaderisasi sebelumnya. Kita jadi manusia yang tidak kreatif, tertutup atas opini-opini baru. Entah siapa yang membuat kita selalu berpikir negatif dan curiga. Jangan-jangan ini adalah konspirasi. Hei, bangun! Ini hidup, konspirasi itu manusia. Selama manusia hidup konspirasi akan ada. Itulah cara manusia bertahan hidup. Jika anda bilang rektorat berkonspirasi untuk membatasi mahasiswa, maka rektorat bilang anda-anda berkonspirasi untuk membangkang. <em>It’s so natural</em>. Dan lagi-lagi cara pandang ini tidak diajarkan di sekolah formal kita yang <em>meaningless</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Perspektif, itu hal fundamental yang kita perlukan agar dapat hidup di dunia ini, karena itulah yang akan mengarahkan kemana anda akan berjalan. Dan lagi-lagi tidak diajarkan. Kita hanya diajarkan untuk berpendapat dalam selembar kertas yang kadang-kadang pendapat kita pun dibatasi, sehingga jarang sekali waktu bersekolah kita diajarkan untuk mengetahui keadaan dunia sesungguhnya dan bagaimana cara menghadapinya. Bahwa dunia diisi oleh idea-idea yang beragam, sepertinya menjadi sama dan seragam jika anda berada di dalam ruangan kelas. Perbedaan itu tabu. Dan lihatlah sekarang, bagaimana kita menghadapi perbedaan di kampus kita ini. Saya ingat dulu pernah mengajak berdebat guru sejarah saya, kalau tidak salah saat itu dia mengajarkan sejarah pemberontakan-pemberontak ideologi lain melawan Pancasila (saya tulis dengan huruf besar di awal kalimat hanya karena kagum saja dengan bung karno, yang namanya saya tulis kecil). Di akhir perdebatan saya tanya, “Bu, jika pancasila sedemikian penting apakah ibu rela membunuh orang demi menegakkannya, apakah pancasila lebih penting ketimbang ribuan nyawa yang sempat hilang waktu itu?”. Saya tidak mendapatkan jawaban, yang saya dapatkan adalah ujian lisan dan tugas mengisi LKS untuk minggu depan. Hahaha sekarang saya tahu bagaimana sekolah membunuh logika kita? Sangat sistematis, tanpa kita sadari, bahkan tanpa guru itupun sadari. Harus anda akui, bahwa mahasiswa saat ini berada di kasta tertinggi dalam lapisan masyarakat. Politisi lewat, politikus apalagi, pejabat bahkan presiden pun kewalahan menghadapi kita. Sejarah menempatkan kita pada kasta itu, yang saat ini kadang-kadang saya sesalkan. Karena kita hanya mendapatkan ceritanya, tapi tidak mendapatkan contoh realnya. Mahasiswa yang dulu berteriak kebebasan sekarang berteriak minta dibebaskan (dari penjara tentunya). Mahasiswa sekarang malah berteriak mengagung-agungkan mahasiswa dulu. Kita terlalu banyak mendengar cerita indah bak dongeng namun juga cukup sering juga melihat kepengecutan di sisi yang sama. Dan itulah kita pengecut yang senang mengkhayal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Tidak ada pelajaran mengenai kedewasaan bertindak dan berpikir di sekolah kita, sehingga sampai akhir sekolah menengah kita tidak mengerti apa itu kedewasaan, sampai akhirnya kita masuk ITB dan dipaksa untuk dewasa dalam waktu sekejap kaderisasi. Kita diberikan doktrin-doktrin yang makin menyempitkan kedewasaan, sangat terlihat bahwa kita mahasiswa ITB sangat tidak dewasa dalam menghadapi segala sesuatu. Salah satu contoh adalah kebiasaan menanamkan <em>mental blocking</em> pada angkatan bawah, sehingga mereka terbiasa untuk menolak apa-apa yang datangnya dari rektorat ataupun himpunan lain. Apapun yang rektorat lakukan adalah salah. Karena apa, angkatan atas pun sama-sama membencinya, dan mereka telah berhasil menanamkan itu pada diri kita, dan walah kita jadi sang pewaris akhirnya. Bahkan kita sudah tidak adil semenjak di dalam pikiran kita sendiri. Sadar bung! Musuh kita bukan rektorat bukan pula himpunan lain, musuh kita di luar bung! Bukan pula bangsa lain. Kita tidak seharusnya membenci orang, yang kita lakukan seharusnya adalah membenci<span> </span>tindakan-tindakan salah yang mereka lakukan. Karena jika anda telah membenci seseorang, apapun yang dia lakukan akan selalu anda benci, objektivitas anda gantungkan pada pikiran anda yang korup. Salah satu hal yang harus kita sadari agar bisa menjadi solusi adalah dengan menjadi solusi itu sendiri. Apapun yang telah mahasiswa bahas, dari dulu sampai saat ini tidak pernah diwujudkan secara konkrit. Karena apa, kita tidak pernah berpikir untuk melakukan. Selama berdiskusi secara tidak sadar anda sedang menggunakan otak kiri anda. Semakin sering anda berdiskusi semakin berkembang kemampuan otak kiri anda, tapi tidak dengan otak kanan. Tahu apa akibatnya, integritas anda korbankan. Karena pada akhirnya tindakan dan perkataan anda tidak sinergis. Dan akhirnya kita menjadi manusia yang kikuk sendiri terhadap masyarakatnya, asyik sendiri dengan sekolahnya, prematur dalam bersikap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Saat ini bukan waktunya kita mencari penyebab kegagalan kita (mahasiswa) dalam bergerak. Seorang teman berkata “daripada terus mengutuk kegelapan, lebih baik anda coba nyalakan sebatang lilin”. Saya berharap anda mau menjadi lilin-lilin itu. Kampus ini butuh <em>optimism</em>, kampus ini butuh <em>positivism, </em>kampus ini butuh orang-orang yang <em>open mind</em>,<em> logic</em>, <em>have integrity</em>, dan <em>mature.</em> Bisakah saya? Bisakah anda? Berat memang, tapi kalau bukan kita siapa lagi (rasanya seperti iklan). Jika anda yakin ITB itu memiliki putra putri terbaik bangsa (saya yakin itu), maka anda harus yakin bahwa dari kampus inilah perubahan besar di masyarakat dan bangsa ini bisa dimulai. Saya sangat yakin kenapa Indonesia tidak berubah dan berkembang, karena ITB pun demikian, kemahasiswaan kita pun demikian. Kampus ini seolah-olah menjadi cerminan peradaban Indonesia. Bisakah kita mulai membentuk satu peradaban baru di kampus ini, sebuah refleksi dari masyarakat madani, yang mendasarkan diri pada kebenaran ilmiah dan kedewasaan sebagai seorang manusia. Peradaban besar hanya bisa diwujudkan oleh orang-orang yang memiliki jiwa besar dan pemikiran yang besar. Ia tidak lahir dari cara pandang yang sempit dan jiwa yang kerdil. Dan sejarah membuktikan bahwa musuh terbesar manusia adalah manusia itu sendiri&#8230;.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=44&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/05/01/anak-muda-zaman-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>visi Indonesia 2030</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/13/visi-indonesi-2030/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/13/visi-indonesi-2030/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 05:42:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Visi 2030 atau Visi Indonesia 2030 yang dikembangkan oleh Yayasan Indonesia Forum dan dinyatakan dalam konferensi pers pada tanggal 22 Maret 2007 itu menyatakan bahwa perekonomian Indonesia akan menjadi kekuatan nomer 5 di dunia pada tahun 2030 nanti. Dalam sambutannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa yakin bahwa Indonesia bisa masuk dalam jajaran ekonomi lima besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=24&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Visi 2030 atau Visi Indonesia 2030 yang dikembangkan oleh Yayasan Indonesia Forum dan dinyatakan dalam konferensi pers pada tanggal 22 Maret 2007 itu menyatakan bahwa perekonomian Indonesia akan menjadi kekuatan nomer 5 di dunia pada tahun 2030 nanti. Dalam sambutannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa yakin bahwa Indonesia bisa masuk dalam jajaran ekonomi lima besar dunia mulai 2030. Walaupun Indonesia sedikit terlambat jika dibandingkan dengan negara Malaysia yang mempunyai Wawasan 2020 sejak tahun 2000 yang lalu, hal ini merupakan ide yang harus diusahakan bersama bagi seluruh lapisan masyarakat.<span id="more-24"></span></p>
<p>Jika seluruh komponen bangsa bekerja sama dengan bersinergi untuk mengelola berbagai keunggulannya seperti sumber daya alam serta menyelesaikan persoalan-persoalan di dalam negeri, maka impian ini pasti akan berhasil. Beberapa persoalan tersebut di antaranya adalah: mewujudkan masyarakat yang beradab dan berkualitas, menciptakan kehidupan masyarakat demokratis, mewujudkan keamanan/kesatuan dan kedamaian, dan pembangunan yang adil dan berkelanjutan.</p>
<p>Pada tahun 2030 nanti, dengan jumlah penduduk sebesar 285 juta jiwa, PDB Indonesia bisa mencapai 5,1 triliun $US. Dengan pendapatan perkapita US$ 18.000 per tahun maka Indonesia akan berada pada posisi kelima ekonomi terbesar setelah China, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Untuk mencapai cita-cita dan impian ini, beberapa asumsi harus dapat tercapai, yaitu: pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 %, laju inflasi 4,95 %, dan pertumbuhan penduduk rata-rata hanya 1,12 % per-tahun.</p>
<p>Untuk mewujudkan impian pada 23 tahun dari sekarang ini, banyak orang mencoba menanggapi. Menurut Haryono Suyono, sukses dari impian Visi Indonesia 2030 mengharuskan pemerintah bersama-sama masyarakat untuk mempersiapkan sumber daya manusia bermutu, lewat bidang pendidikan dan pelatihan selama 15 tahun pertama. Cita-cita ini hanya akan bisa terwujud jika kita semua komit memberi perhatian dan prioritas yang tinggi terhadap bidang pendidikan, terutama di bidang ilmu murni dan terapan, ilmu komputer dan elektronika, selain juga pendidikan budi pekerti dan pengetahuan global.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=24&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/13/visi-indonesi-2030/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>naskah asli proklamasi yang tidak jadi dibacakan&#8230;</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/13/naskah-asli-proklamasi-yang-tidak-jadi-dibacakan/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/13/naskah-asli-proklamasi-yang-tidak-jadi-dibacakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 12:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa bermaksud ikut-ikutan Roy Suryo, saya posting naskah Pernyataan Kemerdekaan (Proklamasi) yang &#8220;asli&#8221;. Istilah &#8220;asli&#8221; di sini maksudnya naskah inilah yang awalnya direncanakan akan dibacakan pada pernyataan kemerdekaan. Naskah ini dibahas dan disepakati oleh anggota BPUPKI pada 14 Juli 1945 (tanggal yang bertepatan dengan Revolusi Prancis), selama kira-kira 76 menit, dari jam 13.30 &#8212; 14.46.
Naskah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=23&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tanpa bermaksud ikut-ikutan Roy Suryo, saya posting naskah Pernyataan Kemerdekaan (Proklamasi) yang &#8220;asli&#8221;. Istilah &#8220;asli&#8221; di sini maksudnya naskah inilah yang awalnya direncanakan akan dibacakan pada pernyataan kemerdekaan. Naskah ini dibahas dan disepakati oleh anggota BPUPKI pada 14 Juli 1945 (tanggal yang bertepatan dengan Revolusi Prancis), selama kira-kira 76 menit, dari jam 13.30 &#8212; 14.46.<span id="more-23"></span></p>
<p>Naskah ini tidak jadi dibacakan karena pada dinihari 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno-Hatta, dkk., berkumpul di kediaman Marsekal Maeda untuk membahas pernyataan kemerdekaan, tidak ada satu pun orang yang hadir membawa naskah Pernyataan Kemerdekaan yang disusun di BPUPKI.</p>
<p>Itulah sebabnya muncul naskah Proklamasi yang begitu pendek dan ringkas yang berbunyi: &#8220;Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.&#8221;</p>
<p>Berikut di bawah ini saya ketik ulang naskah Proklamasi yang tidak jadi dibacakan itu:</p>
<p>==========================================</p>
<p>&#8220;Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu makan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Bangsa Indonesia di zaman dahulu telah mempunyai riwayat mulia dan bahagia, yang batas-batasnya meliputi seluruh kepulauan Indonesia sampai ke Papua, malah melampaui ke daratan Asa sampai ke batas-batas tanah Siam; negara merdeka, yang dalam perhubungan perdamaian dan persahabatan dengan negara-negara merdeka di daratan Asia, menyambut tiap-tiap bang sayang datang dengan kemurahan hati.</p>
<p>Kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia, membawalah bencana kepada bangsa Indonesia itu. Lebih dari tiga abad meringkuklah bangsa Indonesia di bawah kekuasaan Belanda dengan haluan politik jahat: memecah-mecah persatuan kita, mengina, menginjak-injak rasa kehormatan kita, menghina, menghisap-memeras kekayaan kita untuk kepentingan bangsa Belanda sendiri.</p>
<p>Perkosaan yang jahat itu tidak dapat persambungan dalam dunia seterusnya, yang di dalamnya bertambah-tambah kehebatan perlombaan imperialisme Barat, berebut kekayaan segenap dunia. Dan lama-kelamaan bangkitlah kembali dengan sehebat-hebanya semangat perlawanan bangsa Indonesia, yang memang tak pernah padam dan tak pernah dipadamkan, dalam lebih 3 abad perkosaan oleh imperialisme Belanda itu. Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesa adalah sejarah berpuluh-puluh pemberontakan bangsa Indonesia melawan imperialisme Belanda itu. Bergeloralah lagi di dalam kalbu bangsa Indonesia tekad yang berkobar-kobar berbangkit kembali sebagai satu bangsa yang merdeka dalam satu negara yang merdeka, melahirkanlah pergerakan teratur dalam bangsa Indonesia, yang didasarkanatas cita-cita keadilan dan kemausiaan, menuntut pengakuan hak kemerdeaan tiap-tiap bangsa. Tidak tercegah, tidak tertahan tumbuhnya, meluas dan mendalam pergerakan ni dalam segenap lapisan dan segenap barisan bangsa Indonesia, betapa pun kerasnya, betapa pun buasnya betapa pun ganasnya kekuatan pemerintah Belanda berkhtiar mencegah dan menindasnya.</p>
<p>Di saat memuncaknya gelagat pergerakan itu yang seperti barat saat kelahiran anak dari kandungan ibunya, maka Tuhan Yan Maha Kuasa telah membelokkan perjaanan riwayat dunia, mengalih/memindahakn perimbangan kekuasaan di muka bumi, istimewa di daerah lautan Teduh, untuk membantu pembinaan kelahiran itu.</p>
<p>Tuntutan Dai Nippo Teikoku, bertentangan denan tujuan-tujuan imperialisme Barat, yaitu tuntutan hak kemerdekaan Asia atas dasar persamaan ha bangsa-bangsa, serta politik ang dengan tegas dan tepat dijalankan olehnya, menuju pembangunan negara-negara merdeka dan lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya, akhirnya telah menyebabkan Dai Nipoon Teikoku metnyatakan perang kepada Amerika Serikat dan Inggris. Perang Asia Timur Raya ini, yang berkebetulan dengan saat memuncaknya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesa dan pergerakan kmerdekaan bangsa-bangsa Asia yang lain, menjadilah sebagai puncak pertemuan perjuangan kemerdekaan segala bangsa Asia di daratan dan di kepulauan Asia.</p>
<p>Dengan mengakui dan menghargai tnggi keutamaan niat dan tujuan Dai Nipoon Teikoku dengan Perang Asia Timur Raya itu, maka tiap-tiap bangsa dalam lingkungan Asia Tmur Raya atas dasar pembelaan bersama, wajiblah menyumbangkan sepenuhnya tenaganya dengan tekad yang sebulat-bulatnya, kepada perjuangan bersama itu, sebagai jaminan yang seteguh-teguhnya untuk keselamatan kemerdekaannya masing-masing.</p>
<p>Maka sekarang, telah sampailah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia, adil dan makmur, yang hidup sebagai anggota sejati dalam kekeluargaan Asia Timur Raya. Di depan pintu gerbang Negara Indonesia itula rakyat Indonesia menyatakan hormat dan terima kasih kepada semua pahlawan-pahlawan kemerdekaannya yang telah mangkat.</p>
<p>Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, berdasar atas segala alasan yang tersebut di atas itu, dan didorong oleh keinginan luhur supaya bertangung-jawab atas nasib sendiri, berkehidupan kebangsaan yang bebas, mulia, terhormat, maka rakyat Indonesia dengan ini:</p>
<p>MENYATAKAN KEMERDEKAAN.</p>
<p>==========================================</p>
<p>*post-scriptum: &#8220;Naskah pernyataan kemerdekaan ini disusun pada siang hari 14 Juli 1945. Soekarno membacakan draft-nya, dan kemudian ditanggapi dan dimintai perubahan oleh sejumlah anggota. Naskah ini diambil dari buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diterbitkan Sekretariat Negara pada 1980. Sayangnya, buku ini tidak mencantumkan naskah Pernyataan Kemerdekaan yang sudah direvisi oleh anggota BPUPKI dan hanya berisi draftnya berikut dialog dan debat soal perubahan tata kalimatnya. Jadi saya sendiri yang memasukkan usulan perubahan tata kalimat dari anggota BPUPKI pada draft yang dibacakan Soekarno. Ini bukan perkara mudah, karena dialog lisan sungguh sukar diikuti, dan saya membuka diri pada kemungkinan koreksi.&#8221;</p>
<p>bandingkan dengan yang ini&#8230;.</p>
<p>Proklamasi</p>
<p>Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan<br />
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.</p>
<p>Djakarta, 17 &#8211; 8 &#8211; &#8216;45<br />
Wakil2 bangsa Indonesia.</p>
<p><span><span style="font-style:italic;">dikutip dari pejalanjauh.com (dengan sedikit tambahan, maaf yak mas, ga tahan abisnya buat ngebandingin) dan penulis adalah seorang praktisi museum dan literatur indonesia. sebuah pencerahan bagi kita&#8230;setidaknya.</span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=23&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/13/naskah-asli-proklamasi-yang-tidak-jadi-dibacakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teori Pembentukan Masyarakat</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/teori-pembentukan-masyarakat/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/teori-pembentukan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 14:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Perspektif integration-consensus
Umumnya masyarakat digambarkan sebagai bentuk integrasi fungsional, dimana dalam masyarakat tersebut kestabilan sosial di topang oleh kesepakatan dasar atas nilai-nilai. Adapun ketertiban sosial terjadi dalam masyarakat karena setiap individu yang ada dalam masyarakat tersebut memiliki pemikiran bahwa dengan kerjasamalah segala keinginan masing-masing individu dapat tercapai. Adapun apabila ada perselisihan/ konflik di antara individu dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=21&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Perspektif integration-consensus</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Umumnya masyarakat digambarkan sebagai bentuk integrasi fungsional, dimana dalam masyarakat tersebut kestabilan sosial di topang oleh kesepakatan dasar atas nilai-nilai. Adapun ketertiban sosial terjadi dalam masyarakat karena setiap individu yang ada dalam masyarakat tersebut memiliki pemikiran bahwa dengan kerjasamalah segala keinginan masing-masing individu dapat tercapai. Adapun apabila ada perselisihan/ konflik di antara individu dalam masyrakat lebih dikarenakan adanya salah pengertian. Dalam pandangan ini ditekankan, bahwa tarik-menarik, solidaritas, integrasi, kerjasama, dan stabilitas dalam masyarakat dipersatukan karena kesamaan budaya, dan kesepakatan atas norma dan nilai yang sama (dasar yang sama).<span id="more-21"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Lebih lanjut dalam kerangka berpikir integration-consensus, hukum dinyatakan sebagai kerangka netral untuk menjaga permufakatan sosial. Roscoe Pound sebagai salah satu pendukung perspektif integration-consensus, menggambarkan masyarakat disusun atas bermacam-macam kelompok yang memiliki kepentingan berbeda sehingga kadang timbul perselisihan antara satu kelompok dengan yang lain, tetapi kelompok-kelompok tersebut pada dasarnya rukun. Hal ini dapat dijelaskan bahwasanya kelompok-kelompok tersebut memiliki keinginan yang sama yaitu harmonisasi antar kelompok dengan jalan menyelaraskan kepentingan yang berbeda tersebut untuk mengamankan dan menjaga ketertiban sosial. Adapun upaya untuk mencapai harmonisasi tersebut dapat dengan cara kompromisasi dan pembatasan dari masing-masing kepentingan.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam pandangan Roscoe Pound, masyarakat yang heterogen dan majemuk (seperti di Amerika Serikat), tekanan kompromisasi adalah upaya untuk mencapai ketertiban sosial dan kerukunan. <span>Disini Hukum menjadi jembatan untuk mencapai ketertiban dan kerukunan tersebut. Lebih lanjut Roscoe Pound, menyatakan dalam sejarah perkembangan Hukum telah membuktikan bahwa hukum telah terbukti memberikan kepuasan atas manusia berkenaan dengan hal yang manusia tuntut dan apa yang diinginkan oleh manusia. Hukum adalah sarana sosial yang memberikan petunjuk untuk mencapai kerukunan sosial dengan cara mengontrol, rekonsiliasi, mediasi antara beragam kelompok sosial dan konflik yang terjadi. Disini hukum sebagai alat untuk menjaga nilai-nilai yang ada dalam masyarakat tanpa menjatuhkan satu kelompokpun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><br />
Talcott Parsons menyetujui pandangan dari Roscoe Pound dengan menyatakan bahwa fungsi utama dari sistim hukum adalah ketulusan (kejujuran). Disini ketulusan meredakan elemenpotensial dari perselisihan dan melicinkan (memuluskan)hubungan sosial. Singkat kata, para pendukung dari perspektif ini (termasuk Sosiologis, Harry C. Bredemeier), menyatakan hukum diadakan karena memiliki fungsi untuk menjaga kestabilitasan sosial dan menjaga ketertiban. Hukum adalah suatu lembaga yang memiliki peranan untuk mewakili kumpulan orang yang memiliki kepentingan atas orang. Sebagai agen netral, hukum menyelenggarakan penghargaan dan hukuman tanpa memihak. Asumsi mendasar dari perspektif integration-consensus adalah sistem politik yang majemuk, yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah kelompok yang memiliki kekuatan lebih atau kurang. Hukum adalah cermin dari kompromisasi dan permufakatan antara sejumlah kelompok dan nilai-nilai yang mendasar untuk mencapai ketertiban sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><br />
</span><strong>Perspektif conflict-coercion</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam perspektif ini, masyarakat dianggap terdiri atas kumpulan orang dan kelompok yang memiliki ciri perselisihan dan pertikaian yang dipertahankan secara bersama-sama melalui kekerasan (paksaan). Adapun ketertiban timbul hanya untuk sementara dan tidak stabil, karena setiap orang dan kelompok akan berusaha untuk mencapai kepentingan masing-masing.<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><br />
Konflik sosial pada hakekatnya dianggap sebagai interaksi antara orang dan kelompok. Dalam pandangan ini pula untuk menjaga kekuatan diperlukan bujukan dan (penggunaan)kekerasan/ paksaan. Untuk itu Hukum diadakan sebagai alat represi yang dihidupkan oleh keinginan/ kepentingan dari yang berkuasa sebagai biaya/ harga untuk mencapai kepentingan, norma, dan nilai (yang ingin dicapai). Lebih lanjut Chambliss dan Seidman menggambarkan hukum sebagai senjata konflik sosial untuk menindas untuk digunakan bagi yang berkuasa untuk kepentingan dan keuntungan mereka. Adapun Richard Quinney menjelaskan bahwa masyarakat cenderung memiliki ciri keanekaragaman, perselisihan, kekerasan dengan paksaan, dan perubahan ketimbang permufakatan dan kestabilan. Adapun Hukum sebagai hasil dari pelaksanaan atau kepentingan ketimbang sebagai alat yang memiliki fungsi diluar kepentingan tertentu. Meskipun hukum mungkin dapat mengendalikan kepentingan, namun untuk pertama kalinya, hukum dibuat oleh kepentingan tertentu dari individu atau sekelompok orang, yang lebih lanjut kita sebut sebagai masyarakat. Hukum dibuat oleh orang yang didedikasikan untuk mewakili kepentingan tertentu yang memiliki kekuatan untuk diwujudkan kepada publik. Hukum disini tidak mewakili kompromisasi dari keanekaragaman masyarakat, tetapi untuk menyokong kepentingan tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><br />
Para pendukung pandangan ini mempercayai, bahwasanya hukum adalah alat dari pihak yang berkuasa untuk mengendalikan. Hukum selain melindungi kepemilikan dari yang berkuasa juga melayani untuk menindas (menekan) ancaman politik bagi para pemegang posisi elit. Namun demikian, hukum ternyata tidak melulu untuk melindungi kepentingan yang berkuasa, dia (hukum) juga mencegah pembunuhan, pencurian, pembakaran, incest atau dengan kata lain terdiri atas norma-norma sosial umumnya. Sehingga terlalu luas jika diasumsikan sebagai alat bagi pemegang kuasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kedua perspektif diatas, adalah pandangan ideal dan mungkin masing-masing memiliki kebenaran. Namun para sosiologis yang terpengaruh Karl Max, Georg Simmel, Lewis Coser dan Ralf Darendorf cenderung memeluk pandangan conflict-coercion dalam memandang hukum dalam masyarakat. <span>Alasan pembenar mereka adalah pendekatan pandangan tersebut menekankan atas peranan dari kepentingan tertentu dari kelompok dalam masyarakat. Sebagai contoh, kekuatan ekonomi dan kepentingan komersial mempengaruhi pembuatan perundang-undangan seperti yang diilustrasikan William J. Chambliss dalam studinya terhadap undang-undang tunawisma. Dalam studinya, dia menulis bahwa perkembangan undang-undang tunawisma bersamaan dengan kebutuhan pemilik lahan atas buruh yang murah pada masa sistem perbudakan runtuh di Inggris.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=21&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/teori-pembentukan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masyarakat Madani</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/masyarakat-madani/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/masyarakat-madani/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 14:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Untuk memahami akar pengertian masyarakat madani ada baiknya, kita tengok secara sepintas beberapa paradigma besar yang menjadi dasar perdebatan mengenai masyarakat madani.
Masyarakat madani merupakan konsep yang berwayuh wajah: memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda. Bila merujuk kepada Bahasa Inggris,  ia berasal dari kata civil society atau masyarakat sipil, sebuah kontraposisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=22&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Untuk memahami akar pengertian masyarakat madani ada baiknya, kita tengok secara sepintas beberapa paradigma besar yang menjadi dasar perdebatan mengenai masyarakat madani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Masyarakat madani merupakan konsep yang berwayuh wajah: memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda. Bila merujuk kepada Bahasa Inggris,  ia berasal dari kata civil society atau masyarakat sipil, sebuah kontraposisi dari masyarakat militer. Menurut Blakeley dan Suggate (1997), masyarakat madani sering digunakan untuk menjelaskan “the sphere of voluntary activity which takes place outside of government and the market.” Merujuk pada Bahmueller (1997), ada beberapa karakteristik masyarakat madani, diantaranya:</span><span id="more-22"></span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif      kedalam<span> </span>masyarakat melalui      kontrak sosial dan aliansi sosial. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang      mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan      alternatif. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh      negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Terjembataninya      kepentingan-kepentingan individu dan negara karena      keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan      masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh      rejim-rejim totaliter. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga      individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak      mementingkan diri sendiri. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga      sosial dengan berbagai ragam perspektif. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dari beberapa ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya; dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara, taken for granted. Masyarakat madani adalah konsep yang cair yang dibentuk dari poses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus. Bila kita kaji, masyarakat di negara-negara maju yang sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat madani, maka ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadi masyarakat madani, yakni adanya democratic governance (pemerintahan demokratis yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic civilian (masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility dan civil resilience). </span><span>Apabila diurai, dua kriteria tersebut menjadi tujuh prasyarat masyarakat madani sebagai berikut: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Terpenuhinya kebutuhan      dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Berkembangnya modal      manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang  kondusif      bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan  terjalinnya      kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tidak adanya diskriminasi      dalam berbagai bidang pembangunan; dengan kata lain terbukanya akses      terhadap berbagai pelayanan sosial. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Adanya hak, kemampuan dan      kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadayauntuk terlibat      dalam berbagai forum dimana isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan      publik dapat dikembangkan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Adanya kohesifitas antar      kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai      perbedaan antar budaya dan kepercayaan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Terselenggaranya sistem      pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan      sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Adanya jaminan, kepastian      dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang      memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara      teratur, terbuka dan terpercaya. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tanpa prasyarat tesebut maka masyarakat madani hanya akan berhenti pada jargon. Masyarakat madani akan terjerumus pada masyarakat “sipilisme” yang sempit yang tidak ubahnya dengan faham militerisme yang anti demokrasi dan sering melanggar hak azasi manusia. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">Sejak digulirkannya istilah masyarakat madani pada tahun 1995 oleh Datuk Anwar Ibrahim, yang kemudian diikuti oleh Nurcholis Madjid (Mahasin, 1995: ix), sejak itu pula upaya untuk mewujudkan masyarakat madani telah &#8220;menggoda&#8221; dan memotivasi para pakar pendidikan untuk menata dan mencari masukan guna mewujudkan masyarakat madani yang dimaksud. Namun, pihak-pihak yang skeptis meragukan keberhasilan bangsa Indonesia mewujudkan masyarakat madani. Dalam hal ini, masyarakat madani adalah sebuah impian (<em>dream</em>) suatu komunitas tertentu. Oleh karena itu, banyak pihak meragukan upaya bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang diharapkannya, karena formatnya pun belum jelas. Banyak pihak memberikan dugaan bahwa Indonesia masih akan jauh dari pembentukan masyarakat madani karena demokratisasi pendidikan belum berjalan lancar, sistem pendidikannya masih menerapkan faham kekuasaan, masih terlalu berbau feodal, dan belum memperhatikan aspirasi kemajemukan peserta didik secara memadai. Jika reformasi dan inovasi pendidikan memang mendesak untuk dilakukan dan agar kita memiliki andil dalam membentuk dan menghadapi masyarakat madani, maka permasalahannya antara lain adalah, &#8220;sampai sejauh mana pemahaman kita tentang makna masyarakat madani (ontologinya)?, nilai-nilai manfaat apa yang diperoleh dengan terbentuknya masyarakat madani (aksiologinya)?, dan bagaimana pemecahan masalahnya atau bagaimana cara melaksanakan demokratisasi pendidikan untuk mewujudkan masyarakat madani (epistemologinya)?, bagaimanakah arah reformasi dan inovasi pendidikan harus dilakukan?, bagaimanakah agar demokratisasi pendidikan itu berjalan mulus tanpa hambatan dan penyimpangan?, bagaimana kekuasaan dan kepentingan pribadi atau golongan tidak menggoda untuk menunda demokratisasi pendidikan?. Mengingat banyaknya masalah yang dihadapi dalam mewujudkan masyarakat madani, maka pada kesempatan ini pembahasan dibatasi pada apakah makna masyarakat madani itu, apakah manfaat mewujudkan masyarakat madani itu?, dan bagaimana cara mewujudkan masyarakat madani melalui pendidikan demokratisasi pendidikan?</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">Definisi dari istilah <em>civil society</em><span> adalah<em> </em></span>sebagai seperangkat gagasan etis yang mengejawantah dalam berbagai tatanan sosial, dan yang paling penting dari gagasan ini adalah usahanya untuk menyelaraskan berbagai konflik kepentingan antarindividu, masyarakat, dan negara.<strong> </strong>Sedangkan<strong> </strong><em>civil society<strong> </strong></em>menurut<strong> </strong>Havel<strong> </strong>seperti yang dikutip Hikam (1994: 6) ialah rakyat sebagai warga negara yang mampu belajar tentang aturan-aturan main melalui dialog demokratis dan penciptaan bersama batang tubuh politik partisipatoris yang murni. Gerakan penguatan <em>civil society</em><strong> </strong>merupakan gerakan untuk merekonstruksi ikatan solidaritas dalam masyarakat yang telah hancur akibat kekuasaan yang monolitik. Secara normatif-politis, inti strategi ini adalah usaha untuk memulihkan kembali pemahaman asasi bahwa rakyat sebagai warga negara memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban kepada para penguasa atas segala yang mereka lakukan atas nama pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">Gellner (1995:2) menyatakan bahwa masyarakat madani akan terwujud manakala terjadi tatanan masyarakat yang harmonis, yang bebas dari eksploitasi dan penindasan. <span>Pendek kata, masyarakat madani ialah kondisi suatu komunitas yang jauh dari monopoli kebenaran dan kekuasaan. Kebenaran dan kekuasaan adalah milik bersama. Setiap anggota masyarakat madani tidak bisa ditekan, ditakut-takuti, dicecal, diganggu kebebasannya, semakin dijauhkan dari demokrasi, dan sejenisnya. Oleh karena itu, perjuangan menuju masyarakat madani pada hakikatnya merupakan proses panjang dan produk sejarah yang abadi dan perjuangan melawan kezaliman dan dominasi para penguasa menjadi ciri utama masyarakat madani.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Perjuangan masyarakat madani di Indonesia pada awal pergerakan kebangsaan dipelopori oleh Syarikat Islam (1912) dan dilanjutkan oleh Soeltan Syahrir pada awal kemerdekaan. Jiwa demokrasi Soeltan Syahrir ternyata harus menghadapi kekuatan represif baik dari rezim Orde Lama di bawah pimpinan Soekarno maupun rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto, tuntutan perjuangan transformasi menuju masyarakat madani pada era reformasi ini tampaknya sudah tak terbendungkan lagi dengan tokoh utamanya adalah Amien Rais dari Yogyakarta. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Gellner seperti yang dikutip Mahasin (1995: ix) menyatakan bahwa masyarakat madani sebagai terjemahan bahasa Inggris, <em>civil society</em>. Kata <em>civil society </em>sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu <em>civitas dei </em>yang artinya kota Illahi dan <em>society </em>yang berarti masyarakat. </span>Dari kata <em>civil </em>akhirnya membentuk kata <em>civilization </em>yang berarti peradaban. Oleh sebab itu, kata <em>civil society </em>dapat diartikan sebagai komunitas masyarakat kota yakni masyarakat yang telah berperadaban maju. Konsepsi seperti ini menurut Madjid seperti yang dikutip Mahasin (1995: x) pada awalnya lebih merujuk pada dunia Islam yang ditunjukan oleh masyarakat kota Arab. Sebaliknya, lawan dari kata atau istilah masyarakat nonmadani adalah kaum pengembara, <em>badawah, </em>yang masih membawa citranya yang kasar, berwawasan pengetahuan yang sempit, masyarakat puritan, tradisional penuh mitos dan takhayul, banyak memainkan kekuasaan dan kekuatan, sering dan suka menindas, dan sifat-sifat negatif lainnya. Keadaan masyarakat nonmadani ini menurut Suwardi (1999:67) seperti yang ditunjukan oleh perilaku manusia Orde Baru yakni pada saat itu ada mitos bahwa hanya Soeharto saja yang mampu memimpin bangsa dengan menggunakan kekuatan ABRI untuk mempertahankan <em>staus quo. </em>Lebih lanjut ditambahkan oleh Suwardi (1999:67) bahwa ada satu hal yang perlu dipahami yaitu masyarakat madani bukanlah masyarakat yang bebas dari senjata atau ABRI (sekarang TNI); <em>civil society </em>tidak berkebalikan dengan masyarakat pimpinan TNI seperti yang banyak diasumsikan orang awam.</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">Rahardjo (1997: 17-24) menyatakan bahwa masyarakat madani merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, <em>civil society. </em>Istilah <em>civil society </em>sudah ada sejak Sebelum Masehi. Orang yang pertama kali mencetuskan istilah <em>civil society</em> ialah Cicero (106-43 SM), sebagai orator Yunani Kuno. <em>Civil society</em> menurut Cicero ialah suatu komunitas politik yang beradab seperti yang dicontohkan oleh masyarakat kota yang memiliki kode hukum sendiri. Dengan konsep <em>civility </em>(kewargaan) dan <em>urbanity </em>(budaya kota), maka kota difahami bukan hanya sekedar konsentrasi penduduk, melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">Istilah madani sebenarnya berasal dari bahasa Arab, <em>madaniy. </em>Kata <em>madaniy </em>berakar dari kata kerja <em>madana </em>yang berarti mendiami, tinggal, atau membangun. Kemudian berubah istilah menjadi <em>madaniy </em>yang artinya beradab, orang kota, orang sipil, dan yang bersifat sipil atau perdata. Dengan demikian, istilah <em>madaniy </em>dalam bahasa Arabnya mempunyai banyak arti. Konsep masyarakat madani menurut Madjid (1997: 294) kerapkali dipandang telah berjasa dalam menghadapi rancangan kekuasaan otoriter dan menentang pemerintahan yang sewenang-wenang di Amerika Latin, Eropa Selatan, dan Eropa Timur.</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">Masyarakat madani identik dengan <em>civil society, a</em>rtinya suatu gagasan, angan-angan, bayangan, cita-cita suatu komunitas yang dapat terejawantahkan ke dalam kehidupan sosial. <span>Dalam masyarakat madani, pelaku sosial akan berpegang teguh pada peradaban dan kemanusiaan. Masyarakat madani merupakan masyarakat modern yang bercirikan kebebasan dan demokratisasi dalam berinteraksi di masyarakat yang semakin plural dan heterogen. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat diharapkan mampu mengorganisasikan dirinya dan tumbuh kesadaran diri dalam mewujudkan peradaban. Mereka akhirnya mampu mengatasi dan berpartisipasi dalam kondisi global, kompleks, penuh persaingan dan perbedaan.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Masyarakat madani menurut Rahardjo ialah masyarakat yang beradab. Istilah masyarakat madani selain mengacu pada konsep <em>civil society </em>juga berdasarkan pada konsep negara-kota Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW pada tahun 622M. Masyarakat madani juga mengacu pada konsep <em>tamadhun </em>(masyarakat yang berperadaban) yang diperkenalkan oleh Ibn Khaldun dan konsep <em>Al Madinah al fadhilah </em>(Madinah sebagai Negara Utama) yang diungkapkan oleh filsuf Al Farabi pada abad pertengahan.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam memasuki milenium III, tuntutan masyarakat madani di dalam negeri oleh kaum reformis yang anti <em>status quo</em> menjadi semakin besar. Masyarakat madani yang mereka harapkan adalah masyarakat yang lebih terbuka, pluralistik, dan desentralistik dengan partisipasi politik yang lebih besar, jujur, adil, mandiri, harmonis, memihak yang lemah, menjamin kebebasan beragama, berbicara, berserikat dan berekspresi, menjamin hak kepemilikan dan menghormati hak-hak asasi manusia.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=22&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/masyarakat-madani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manusia dan Pendidikan</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/manusia-dan-pendidikan/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/manusia-dan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 07:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan bagi manusia dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=20&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Pendidikan bagi manusia dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat manusia mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan.</span><span id="more-20"></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Dalam hal ini, terlihat adanya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangkan dalam aktivitas kegiatan di lapangan. Pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. Tambahan pula, bahwa pendidikan seorang manusia mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh manusia, baik pria maupun wanita, sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;">Dengan demikian hal itu dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran seorang manusia yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan/keterampilan yang memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar bersama dengan penuh keyakinan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan, merupakan hasil dari adanya perubahan setelah adanya proses belajar, yakni proses perubahan sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi perubahan kepercayaan diri secara penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya. Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan serta adanya perubahan sikap mental yang sangat jelas, dalam hal pendidikan seorang manusia tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus dibekali juga dengan rasa percaya yang kuat dalam pribadinya. Pertambahan pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif berupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata, menyeluruh dan berkesinambungan.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">Perubahan perilaku bagi seorang manusia terjadi melalui adanya proses pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam hal ini, sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain, disebabkan produktivitas yang lebih meningkat. Bagi seorang manusia pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar, sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih ke arah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih masih diperlukannya sebagai penyempurnaan hidupnya.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=20&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/manusia-dan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesiaku..</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/indonesiaku/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/indonesiaku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 14:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Indonesia saat ini seolah-olah berdiri di tepi jurang kehidupan, mencoba untuk mempertahankan eksistensinya di tengah komunitas global dunia. Kondisi bangsa saat ini ditambah dengan krisis multi dimensi yang dialami saat ini terus menyeret bangsa ini untuk masuk ke dalam jurang. Parahnya lagi, tidak banyak dari masyarakat Indonesia yang menyadari bahwa kita benar-benar dalam kondisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=19&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bangsa Indonesia saat ini seolah-olah berdiri di tepi jurang kehidupan, mencoba untuk mempertahankan eksistensinya di tengah komunitas global dunia. Kondisi bangsa saat ini ditambah dengan krisis multi dimensi yang dialami saat ini terus menyeret bangsa ini untuk masuk ke dalam jurang. Parahnya lagi, tidak banyak dari masyarakat Indonesia yang menyadari bahwa kita benar-benar dalam kondisi terburuk sebagai sebuah bangsa. Saat ini Indonesia hampir tidak memiliki daya saing terhadap produk luar negeri. Sumberdaya alam strategis di Indonesia telah banyak dikuasai oleh perusahaan asing. Beberapa perusahaan yang strategis bagi kesejahteraan rakyat sebagian sahamnya telah dijual ke pihak asing. Ditambah lagi daya saing sumberdaya manusia Indonesia terhadap sumberdaya manusia dari luar sangat lemah. Globalisasi bagi Indonesia, untuk saat ini, tidak lebih dari mengumpankan diri sendiri untuk dimakan seorang raksasa yang tidak sanggup untuk kita lawan. Krisis yang terjadi tidak hanya selesai disitu. Deviasi moral dan kepribadian ikut mewarnai kondisi bangsa yang sudah carut marut ini. Hal ini tidak dapat dielakkan, kejahatan pada saat ini ternyata banyak dilakukan oleh kaum terpelajar.<span id="more-19"></span> Penyimpangan perilaku saat ini ternyata banyak dilakukan orang yang telah lama mengeyam bangku pendidikan. Kesalahan-kesalahan yang terjadi menjadi sebuah permakluman publik. Wajar jika ada korupsi, wajar jika ada nepotisme, wajar harus menyogok biar lancar, wajar tidak suka jika orang lain sukses, wajar jika mencontek, wajar jika memarahi murid, wajar jika menunda pekerjaan, wajar jika tidak membayar pajak, dan kewajaran-kewajaran lainnya.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Krisis multidimensi diatas memang sulit sekali untuk dicari akar permasalahannya. Namun pada dasarnya, di beberapa negara yang telah maju saat ini pembangunan terhadap masyarakatnya merupakan langkah awal dalam membangun bangsanya. Bahkan bagi negara-negara yang dulu setara dengan Indonesia, setelah membenahi kondisi masyarakatnya saat ini telah berhasil memberikan kesejahteraan bagi warganya. Pembangunan masyarakat tentu saja memiliki banyak alternatif jalan. Namun yang paling efektif saat ini adalah melalui pendidikan. Kenapa pendidikan? Alasan terbesarnya adalah berdasarkan fungsi dari pendidikan itu sendiri, yaitu mengharapkan perubahan perilaku dari peserta didiknya menuju perbaikan yang positif. Pendidikan di Indonesia saat ini bukanlah pendidikan yang mendidik. Bahkan tidak memiliki tujuan yang jelas. Jika memang memiliki tujuan yang jelas, maka peserta didiknya pun akan mengerti untuk apa mereka belajar, dan akan bertindak seperti apa setelah belajar. Saat ini tidak, pendidikan seolah-olah hanya sebagai formalitas belaka. Ada ruang kosong dalam pendidikan yang selama ini tidak diisi, yang pada dasarnya adalah jiwa dari pendidikan itu sendiri. Yaitu pemaknaan, ideologisasi, penanaman tujuan dari proses pendidikan itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kegagalan pendidikan saat ini ternyata memiliki implikasi yang begitu besar. Manusia Indonesia saat ini telah kehilangan sesuatu yang esensial untuk dilakukan dan diperjuangkan. Nilai-nilai esensial yang hilang tadi dari diri manusia Indonesia menyebabkan pincangnya fondasi masyarakat karena pada dasarnya manusia adalah komponen dari penyusun masyarakat itu. Dalam hal ini, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter manusia yang dapat mendukung perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan manusia yang memanusiakan, yang kemudian dapat mewujudkan tatanan masyarakat masa depan yang ideal, yang progresif menuju perbaikan yang berkesinambungan (masyarakat madani). Pembentukan kebudayaan yang positif dalam masyarakat adalah fondasi yang cukup kuat untuk membangun sebuah bangsa. Melalui rekontruksi sistem pendidikan saat inilah yang memungkinkan itu bisa berhasil. Rekontruksi tersebut berkaitan dengan paradigma pendidikan, tujuan pendidikan, metode pendidikan, kurikulum pendidikan, pendidik, dan peserta didik.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=19&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/indonesiaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ringkasan</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/ringkasan/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/ringkasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 13:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini tak lepas dari permasalahan kemasyarakatan dan tentunya berkaitan juga dengan permasalahan manusia sebagai penyusun dari masyarakat itu sendiri. Krisis multidimensi yang dirasakan saat ini memang merupakan manifestasi dari permasalahan diatas. Sampai saat ini, telah banyak bahasan dan kajian dalam rangka menemukan solusi atas permasalahan bangsa, namun belum satupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=18&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini tak lepas dari permasalahan kemasyarakatan dan tentunya berkaitan juga dengan permasalahan manusia sebagai penyusun dari masyarakat itu sendiri. Krisis multidimensi yang dirasakan saat ini memang merupakan manifestasi dari permasalahan diatas. Sampai saat ini, telah banyak bahasan dan kajian dalam rangka menemukan solusi atas permasalahan bangsa, namun belum satupun dari bahasan itu yang menjadi referensi untuk menyelesaikan permasalahan itu. Permasalahan tersebut memang merupakan masalah yang sangat kompleks, sehingga memerlukan pendekatan yang holistik untuk memecahkannya.<span id="more-18"></span> Tetapi jika dirunut dengan pendekatan yang sangat sederhana, akar permasalahannya ternyata terletak pada karakter masyarakat dan karakter manusia Indonesia sebagai komponen pembentuk masyarakat itu sendiri. Wacana mengenai pembentukan masyarakat ideal dengan manusia sebagai subjek utamanya dan pendidikan sebagai alat dari prosesnya, adalah intisari dari karya tulis ini. Pokok bahasan dari karya tulis ini sendiri adalah peranan manusia sebagai individu dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang ideal. Untuk saat ini bidang yang mencakup banyak orang dan memang bertanggungjawab dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia menjadi manusia adalah pendidikan. Melalui pendidikan inilah seharusnya pembentukan karakter seorang manusia yang bisa menjadi komponen penting dalam masyarakat dilakukan. Pengambilan judul “ Pembentukan Masyarakat Madani (Civil Society) melalui Pendidikan” itu sendiri bertujuan untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai alat dalam dinamisasi ilmu pengetahuan, dimana manusia (sebagai makhluk yang beradab dan beretika) merupakan subjek utama. Sekali jika kita berbicara masalah manusia maka hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari permasalahan kemasyarakatan. Implikasi nyata jika pendidikan berhasil dalam mengemban tugasnya, yaitu dalam pembentukan karakter manusia, adalah pada kondisi mayarakat yang menjadi progresif menuju perbaikan.</p>
<p>Pendidikan, menurut banyak referensi, pada dasarnya adalah sebuah alat bagi manusia untuk menemukan “jati diri”nya dan merupakan proses pemberian “bekal” kepada seorang manusia dalam menghadapi tantangan di dunia luar sehingga ia dapat mengambil “peran” dengan baik dalam lingkungan perkembangannya. Masalahnya sampai saat ini fungsi pendidikan sangat melenceng jauh dari yang seharusnya. Pendidikan saat ini sangat menjauhkan manusia dari realitanya. Banyak sekali saat ini buku yang mengulas mengenai kegagalan pendidikan dewasa ini di Indonesia. Pendidikan (semestinya) memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan masyarakat dan bangsa dan melalui pendidikan ini pula negara seharusnya mencurahkan lebih besar perhatiannya. Rekontruksi paradigma dan bentuk pendidikan di Indonesia harus segera dilakukan. Rekontruksi ini sendiri disesuaikan dengan masyarakat ideal yang ingin kita bangun.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=18&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/ringkasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Dumb Society</title>
		<link>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/the-dumb-society/</link>
		<comments>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/the-dumb-society/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 13:50:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwa Kartiwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otakkurusak.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[“Penjajahan belum berakhir…”

Saat ini saya benar-benar merasa sendiri, terasing, teralienasi dari sistem masyarakat yang ada. Pertama kali saya merasa bahwa sayalah yang salah, bahwa sayalah yang harus mengikuti ke mana komunitas ini bergerak. Namun semakin lama saya semakin tidak kuasa untuk mengikuti cara masyarakat ini untuk berpikir dan bertindak. Saya merasa benar-benar berbeda. Sejak awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=17&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>“Penjajahan belum berakhir…”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Saat ini saya benar-benar merasa sendiri, terasing, teralienasi dari sistem masyarakat yang ada. Pertama kali saya merasa bahwa sayalah yang salah, bahwa sayalah yang harus mengikuti ke mana komunitas ini bergerak. Namun semakin lama saya semakin tidak kuasa untuk mengikuti cara masyarakat ini untuk berpikir dan bertindak. Saya merasa benar-benar berbeda. Sejak awal saya merasa ada yang salah dalam kehidupan masyarakat ini, di Indonesia. Ternyata saya salah, hal ini hampir terjadi di semua belahan dunia. Di mana masyarakat menjadi masyarakat yang tipikal, hampir mirip. Ada beberapa karakter yang muncul pada individu yang terdapat pada masyarakat ini. Yaitu tidak terbuka, tidak logis, dan tidak memiliki integritas. Pertama kali saya tidak mengerti mengapa ketiga karakter ini bisa menghinggapi hampir semua manusia di belahan dunia. Apakah ini hanya kebetulan semata atau memang tidak ada yang namanya kebetulan. </span><span id="more-17"></span><span>Sebelum kita membahas apa yang sedang terjadi sebenarnya. Saya ingin mengajak semua untuk membuka mata melihat kenyataan yang terjadi pada sejarah umat manusia dimana polanya hampir sama. Ada tiga pola utama yang terlihat, pertama adalah adanya pembentukan hegemoni, yang kedua adalah adanya perebutan hegemoni, dan yang terakhir pertahankan hegemoni. Ketiga pola ini terus menerus berulang. Anda akan langsung berpikir bahwa itu adalah benar dengan melihat sejarah peperangan antar umat manusia yang kunjung selesai sampai saat ini. Tapi dengan perkembangan zaman saat ini apakah menurut Anda pola hegemoni ini akan tetap seperti itu? Ya tapi dengan cara yang lebih modern. Bagaimanakah caranya? Bukan hanya dengan peperangan karena itu hanya sebagian kecil dari pola lain yang sesungguhnya jauh lebih efektif untuk mendapatkan hegemoni. Ada empat bidang yang digunakan saat ini untuk mendapatkan hegemoni, yaitu pendidikan, media, ekonomi dan politik. Keempat bidang tersebut dikelola sedemikian rupa untuk membentuk perilaku masyarakat yang dibutuhkan oleh pihak yang ingin mendapatkan hegemoni. Percaya atau tidak, hal ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Untuk saat ini kita akan menyebut pihak yang sedang memegang hegemoni ini dengan sebutan ”mereka”, sedangkan untuk keseluruhan aktivitas dan infrastruktur yang mereka miliki dengan ”sistem”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pendidikan merupakan pion utama dalam strategi ”mereka” untuk membentuk masyarakat khusus yang sesuai dengan ”sistem” yang ingin mereka bentuk. Masyarakat yang ingin mereka bentuk adalah masyarakat yang efektif dan efisien dalam keseluruhan aktivitas yang akan dilakukan oleh ”sistem” ini. Dengan metode tertentu mereka memaksakan agar sistem pendidikan menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ada beberapa ciri dari sistem pendidikan ini yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Berorientasi      pada pasar</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Produk pendidikan dibentuk disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dimana pasar itu sendiri diatur oleh ”mereka”. Sehingga pada dasarnya produk pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ”mereka”. Hal ini dapat kita lihat dari parameter-parameter yang digunakan dalam proses belajar, dimana keseluruhannya hampir tidak sesuai dengan makna dan filosofi pendidikan itu sendiri. Kita bisa lihat perguruan tinggi kita berlomba-lomba untuk meningkatkan diri dalam mencapai parameter-parameter itu sehingga bisa disejajarkan secara internasional. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Tidak      membebaskan </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Proses pendidikan memang tidak ditujukan untuk membebaskan manusia dari kungkungan ketidaktahuan dan ketidaksadaran. Proses pendidikan malah diarahkan agar manusia tetap berada di zona ketidaktahuan dan ketiaksadaran dirinya sebagai manusia. Karena jika pendidikan ini diarahkan pada proses pembebasan maka ”sistem” yang ada akan menjadi tidak efektif dan efisien sebagai alat hegemoni. Sehingga yang penting dari proses pendidikan hanyalah parameter kepintaran yang direpresentasikan melalui proses penilaian yang kaku. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Tidak      mencerdaskan</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Proses pendidikan memang tidak diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan seorang manusia. Karena semakin cerdas seorang manusia maka dia dengan sendirinya akan terus mempertanyakan keadaan dan dengan segera dia akan mengetahui bahwa saat ini mereka berada di dalam ”sistem” yang menjerat hampir sebagian besar umat manusia. Saat bisa kita lihat bahwa pada dasarnya menjadi cerdas itu bukanlah pilihan, tapi menjadi sebuah keanehan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Strategi kedua adalah melalui media. Media (televisi, media cetak, internet) digunakan sebagai alat untuk menguatkan ”sistem” agar apapun yang terjadi keberadaan sistem ini akan menjadi sesuatu yang alami untuk terjadi. Namun apapun yang terjadi pada kehidupan ini pada dasarnya mengikuti hukum sebab-akibat. Ada beberapa fungsi dari media sehingga keberadaan dapat memperkuat ”sistem” yang ”mereka” buat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Media      sebagai pembentuk opini </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Media digunakan sebagai senjata dalam perang pemikiran. Nilai benar dan salah dapat ”mereka” tentukan sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga pada akhirnya reaksi masyarakat pun dapat mereka kontrol melalui media ini. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Media      sebagai pembentuk kebudayaan </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Media digunakan untuk menciptakan kebudayaan baru, dimana masyarakat akan dengan sangat mudah mengikutinya tanpa mereka sadari. Dimana kebudayaan ini sendiri diarahkan dengan sangat teliti agar keberadaannya akan memperkuat ”sistem” yang ada.<span> </span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Media      sebagai pembentuk perspektif</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Hal yang paling berbahaya yang dapat dilakukan media adalah mengubah perspektif seseorang dalam memahami kehidupan ini sehingga pada akhirnya dapat mengubah perilaku dan karakter setiap individu yang terpengaruh. Perspektif merupakan koridor bagi seorang manusia dalam menjalani kehidupan mereka. Bagaimana akibatnya jika perspektif itu sendiri adalah hasil bentukan yang disengaja. Sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu masyarakat yang secara mental homogen antara satu sama lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Setelah masyarakat yang dibutuhkan telah tercipta melalui dua senjata utama yaitu pendidikan dan media, maka selanjutnya yang akan menjadi kartu utama dari pembentukan ”sistem” ini adalah ekonomi. Karena melalui ekonomi inilah ”mereka” mampu mengontrol kebijakan-kebijakan yang ada hampir di semua belahan dunia. Dengan menguasai kebijakan pasar global maka mereka mampu untuk mengarahkan semua negara untuk membuat kebijakan sesuai dengan yang mereka inginkan. Apakah menurut Anda kebijakan pasar itu ada hanya karena ada interaksi yang acak. Naif sekali rasanya jika kita katakan bahwa pola kebijakan pasar itu tidak memihak. Dimana saat ini banyak sekali pemahaman-pemahaman baru yang diterapkan oleh ”mereka” sebagai senjata baru agar kekuatan ekonomi mereka semakin besar. Salah satunya adalah globalisasi. Namun jangan salah sangka dulu, dengan mengasumsikan bahwa saya berpihak pada suatu kepentingan. Anda harus mengerti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sama sekali tidak ada yang bebas nilai. Karena ada kita, manusia, yang memberikan nilai pada sesuatu yang ada sekitar kita. Jadi semua hal yang ada di dunia ini memiliki nilai, dan nilai tersebut yang saya namakan dengan kepentingan (baik yang sifatnya individu ataupun kolektif). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Selanjutnya ”mereka” gunakan kekuatan ekonomi mereka untuk mempengaruhi kehidupan politik di banyak negara. Sangat sederhana bukan, bagaimana kebijakan-kebijakan yang ada akan selalu memihak ”mereka”. Seperti layaknya Indonesia yang bagi saya tidak memiliki kebebasan politik sama sekali. Bagaimana hampir semua kebijakan Indonesia harus dirancang dengan banyak sekali pertimbangan luar yang sebenarnya tidak masuk akal untuk kita jadikan referensi, salah satunya hutang. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jadi sistem pendidikan, media, ekonomi dan politik itu sendiri ada karena ada kepentingan. Dan yang harus Anda tanyakan adalah: Apakah ketiganya itu ada untuk kepentingan yang baik?. Silahkan Anda bercermin dari kenyataan saat ini, yang paling mudah adalah dengan melihat Indonesia. Indonesia, bagi saya adalah model keberhasilan dari ”sistem” ini dimana baik rakyat dan pemerintahannya sendiri tidak mampu dan sadar untuk membuat kebijakan sendiri tanpa terpengaruh oleh kondisi pasar. Karena apa, karena kita adalah pasar itu sendiri dimana kebijakan diatur oleh ”mereka” melalui banyak mekanisme yang tidak kita sadari. Dan melalui ketiganya (pendidikan, media, dan ekonomi) ”mereka” mencoba mengaburkan keberadaan ”sistem”. Umat manusia dibuat tidak sadar bahwa sebenarnya mereka mampu untuk melihat kehidupan ini dengan penglihatan yang sesungguhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Selama saya banyak melakukan perjalanan ke beberapa kota di Indonesia dan berinteraksi dengan masyarakat saya merasakan bahwa masyarakat Indonesia telah mengidap suatu penyakit mental yang hampir serupa seperti yang telah saya sebutkan di awal. Hal ini memang belum saya buktikan secara ilmiah, dimana keilmiahan bagi saya adalah bukti kebenaran dari ucapan saya. Namun Anda akan dapat melihat apa yang saya jelaskan ini adalah sebuah kebenaran ataupun bukan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Masyarakat apa yang sebenarnya ingin ”mereka” ciptakan? Apa saja ciri dari masyarakat yang sesuai dengan ”sistem” yang ”mereka” buat? Saya akan menjelaskan bahwa pada dasarnya sebuah sistem memerlukan karakter-karakter khusus masyarakat yang dibutuhkan agar sistem tersebut dapat langgeng secara efektif dan efisien. Saya akan memberikan contoh dalam level mikro dan makro. Dalam sebuah perusahaan, para direksi membuat seperangkat peraturan dan tata cara agar karyawannya berperilaku sesuai dengan yang mereka inginkan, biasanya (hampir semua) atas nama keuntungan. Pada level yang lebih tinggi lagi, pada sebuah negara para pemimpinnya membuat seperangkat undang-undang dan ideologi sebagai alat yang mereka gunakan sebagai alat untuk membentuk masyarakatnya sesuai dengan sistem yang pemimpinnya bentuk. Dari sudut pandang tertentu memang tidak salah, karena itu adalah hal yang harus dan semestinya terjadi. Tetapi itu menjadi salah jika tidak mendasarkan diri pada asas kemanusiaan. Dan apakah Anda tidak bertanya-tanya apakah dunia inipun dikelola dengan cara yang sama seperti kedua contoh diatas. Dan itulah ”sistem” yang ”mereka” buat. Dibawah tiga ciri dari masyarakat yang ingin mereka bentuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Tidak      terbuka</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Dengan ketidakterbukaan dalam masyarakat ”mereka” mampu untuk menciptakan sekat-sekat perbedaan menjadi permasalahan, dimana bagi mereka permasalahan itu bisa menjadi keuntungan. Dimana tribalisme menjadi salah satu agenda utama mereka. Anda akan dibuat semakin tidak berdaya. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Tidak      cerdas </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Logika Anda tidak berjalan, mereka akan membuat Anda berpikir bahwa kehidupan ini berjalan secara alami seperti yang terjadi saat ini. Anda tidak akan berpikir bahwa semua ini ternyata telah diatur sedemikian rupa. Anda dijejali khayalan-khayalan yang akan membuat Anda sulit untuk membeda mana sebenarnya yang merupakan kenyataan. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Tidak      memiliki integritas</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Karena ”mereka” tidak memerlukan integritas. Integritas bagi mereka akan sangat berbahaya jika dimiliki oleh oleh orang-orang yang berpengaruh. Akan berbahaya jika integritas ini dimiliki oleh mereka yang cerdas sekaligus terbuka, maka dengan mudah mereka mampu melihat apa sebenarnya yang menjadi sebab semua kekacauan yang terjadi saat ini dan dengan mudah juga mereka menginspirasi orang lain untuk berpikir hal yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bagi ”mereka” masyarakat yang tidak terbuka, tidak cerdas, dan tidak memiliki integritas adalah masyarakat yang cocok untuk melanggengkan sistem mereka. Sama hal seperti Indonesia, dimana saat ini kepercayaan itu menjadi hal yang sangat sulit untuk ditemukan dan integritas menjadi barang langka, sekalipun pada jajaran pemimpin-pemimpin kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saya ingin coba buktikan apakah sistem yang ingin mereka buat itu didasarkan pada nilai kemanusiaan atau tidak. Dan saya pun ingin menantang Anda untuk membuktikan hal tersebut. Karena disanalah letak kesadaran yang ingin saya bangun, bahwa Anda menyadari bahwa Anda berada dalam sebuah sistem besar yang mengarahkan Anda setiap harinya untuk berperilaku yang mungkin Anda sendiri tidak sadari. Bagi saya sistem seperti itu adalah sistem yang telah mencabut nilai kemanusiaan itu sendiri, dan apakah kemudian saya sanggup untuk berbohong bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi, semua baik-baik saja, dan berkata bahwa semua kenyataan ini adalah kebetulan saja, atau dengan pasrah bilang bahwa ini sudah menjadi suratan takdir. Pada level tertentu saya yakin bahwa ini masih pada level kemampuan manusia, sehingga terlalu naïf jika kita bilang bahwa keadaan Indonesia saat ini adalah azab atau ujian dari Tuhan semata. Saya semata-mata ingin memberikan gambaran utuh dari kejadian besar yang menimpa Indonesia dan negara-negara lain yang dalam hal ini ternyata tidak terjadi begitu saja. Bahwa semua ini memang terjadi atas kepentingan-kepentingan tertentu. Saya tidak berkata ini adalah sebuah konspirasi internasional, tetapi saya ingin menyadarkan Anda untuk membuka mata dan melihat bahwa kepentingan-kepentingan itu ada, dan hal tersebut ”mereka” representasikan dalam sebuah ”sistem”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Apa sebenarnya kepentingan-kepentingan ”mereka” itu, sehingga secara kolektif membentuk gerakan bawah tanah. Inilah yang paling sulit saya definisikan, karena yang paling tahu apa tujuan sebenarnya adalah ”mereka” sendiri. Namun secara ekplisit saya katakan bahwa tujuan mereka itu sendiri adalah hegemoni itu sendiri. Apa yang ingin mereka dapatkan dari hegemoni tersebutlah yag seharusnya dipertanyakan. Sekarang adalah saatnya mempertanyakan siapa ”mereka” dan bagaimana ”sistem” ini ”mereka” jalankan. Agar kita mengerti siapa ”mereka” dan ”sistem” nya kita harus coba mengerti bagaimana pola sejarah itu terbentuk. Kita coba lihat satu dekade ke belakang, coba kita urutkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada skala internasional yang ikut merubah perspektif zaman. Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi, pertama adalah perang dunia satu, yang kedua adalah perang dunia dua, dan selanjutnya peperangan yang terjadi di daerah timur tengah dan sekitarnya. Dari ketiga kejadian tersebut ada beberapa aspek yang kemudian terjadi setelah peperangan tersebut. Yaitu bagaimana mereka mulai meletakkan fondasi-fondasi agar sistem mereka menjadi kuat. Dan yang pertama kali mereka lakukan adalah dengan menyusun kekuatan ekonomi mereka, yaitu mengembangkan sistem pasar global dimana hanya ada satu mata uang yang mampu mempengaruhi sistem perekonomian. Apakah Anda berpikir bahwa keberadaan mata uang yang dominan, yaitu dolar amerika, hanyalah sebuah kebetulan. Kita bisa lihat beberapa peristiwa ekonomi yang mampu diciptakan hanya dengan menggunakan keberadaan mata uang tersebut, yang paling kita rasakan adalah krisis moneter tahun 1997. Fondasi ekonomi tidak hanya sampai disana, ”mereka”lah juga yang memiliki kemampuan untuk mencetak mata uang tersebut. Dari kemampuan untuk mencetak mata uang tersebutlah mereka mampu untuk menciptakan inflasi dan meningkatkan suku bunga. Hal ini sangat ilmiah, matematis dan sistematis untuk dapat dilakukan. Sebelum mereka mencoba untuk membuat sistem ini sehingga dapat mempengaruhi banyak negara secara global, mereka mencoba dahulu di negara mata uang ini berasal. Dan hal ini dimulai semenjak terjadinya kepanikan massa di tahun 1907, dimana banyak bank yang bangkrut dan gulung tikar. Sehingga setelah itu di Amerika muncul banyak pengangguran dan permasalahan sosial lainnya. Apakah Anda melihat kemiripan pola dengan krisis moneter di Indonesia? Strategi ini berhasil, sekarang adalah bagaimana caranya agar hegemoni mereka semakin bertambah. Salah satu cara yang paling mudah adalah perang. Karena dengan adanya perang kebutuhan akan mata uang akan semakin bertambah, dengan kebijakan yang ada ”mereka” akan senang hati hati untuk mencetak mata uang semakin banyak. Hal ini berarti pinjaman semakin banyak dan hutang semakin banyak pula. Anda akan melihat bahwa pada satu dekade terakhir ini, terlihat bahwa Amerika dan sekutu selalu terlibat pada semua peperangan yang terjadi. Apakah Anda sebut itu sebagai kebetulan lagi? Apakah Anda mengetahui bahwa Indonesia pun dikuasai dengan mudah hanya dengan semudah ”mereka” memberikan hutang. Itulah strategi mereka selanjutnya untuk menguasai negara-negara lainnya yaitu dengan menyediakan peminjaman uang kepada negara-negara yang membutuhkan, yang berarti negara-negara tersebut memang dikondisikan tidak akan sanggup untuk membayar kembali. Mengapa? Sederhana, karena selain mereka memberikan pinjaman, merekapun yang mengatur kebijakan perekonomian global. Sehingga wajar jika kemudian yang dilakukan negara-negara tersebut adalah meminjam kembali. Semakin mirip saja dengan Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Isu-isu internasional mereka gulirkan demi langgengnya sistem ini, diantara yaitu kapitalisme, globalisasi, demokrasi, global warming, terorisme, moneter, modernisasi, hedonisme, global village dan lain-lain. Hal ini diciptakan untuk menunjang ”sistem”. Apakah Anda berpikir komunisme dihabisi karena mereka berbahaya bagi kita? Bukan itu, tapi karena sistem komunisme tidak sesuai dengan ”sistem”, komunisme dapat mengancam dan menghalangi penyebaran pengaruh ”sistem”. Apakah Anda berpikir tayangan di televisi ada karena Anda dan masyarakat menginginkannya? Apakah Anda berpikir informasi yang Anda dan masyarakat terima adalah sebuah kebenaran? Bisa kita lihat saat ini dimana, setiap manusia disibukkan oleh agenda-agenda yang sama sekali tidak esensial. Kemanakah sisi esensial kemanusiaan yang kita miliki? ”Mereka” tidak menginginkan Anda memilikinya, karena jika Anda memilikinya itu hanya akan menghambat ”sistem” dan itu harus disingkirkan, seperti mereka menyingkirkan Soekarno dan tokoh-tokoh lain di dunia ini. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Yang jelas bukan ingin meningkatkan sisi kemanusiaan manusia, yang selama ini banyak diperjuangkan oleh banyak tokoh dunia. Bagi ”mereka” biarlah itu menjadi dongeng tidur anak-anak kita yang walaupun anak kita tumbuh seperti tokoh itu mereka tetap tidak menyadari kenapa dunia berjalan seperti sekarang ini. Pada kenyataannya anak-anak kita tumbuh dalam budaya postmodernisme yang mulai mengesampingkan akal budi. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat ulah ”mereka”. Apakah mereka ingin berdalih bahwa merekalah sang penyelamat dunia, dengan demikian sangat mudah bagi mereka untuk mengontrol populasi dunia. Apakah ”mereka” mau menghantarkan kita pada dunia yang lebih baik dengan cara yang kita lihat saat ini. Apakah ”mereka” lihat bahwa ada beberapa hal yang tidak baik untuk dibiarkan hidup di dunia ini sehingga perlu untuk ”mereka” lenyapkan. Apa yang ”mereka” lakukan sudah melebih batas kewajaran. Saya jadi bertanya saat ini, apakah sebenarnya ”mereka” ingin menjadi Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">Ini waktunya kita revolusi, waktunya kita membuka semua penglihatan warga dunia. Bahwa ada sekelompok orang yang berusaha untuk merendahkan keberadan kemanusiaan dengan mengolok-olok, memanipulasi, merekayasa bahkan melenyapkan kita (entah dengan sengaja atau tidak dengan semua kejadiannya). Hidup bukanlah mengenai hegemoni. Hidup adalah mengenai mengerti siapa kita dan munculkan semua diri kita ada dunia. Apa artinya hidup jika kita tidak lagi merdeka dan bebas untuk memilih. Anda harus segera sadar bahwa semua ini bisa berakhir, bahwa semua ini bisa kita selesaikan. Caranya sangatlah mudah, sadari segera kalau Anda manusia, dan sadari segera bahwa kondisi ini bukanlah kondisi ideal yang diri kita, manusia, inginkan, sadari segera bahwa kita mampu untuk merubah kondisi ini, sadari bahwa nilai kemanusiaan kita harus segera kita rebut. Tidak satupun manusia yang berhak untuk menentukan bagaimana kita harus hidup, bagaimana kita harus bertindak. Saya yakin bahwa inilah musuh kita sebenarnya, dimana selama ini kita selalu disibukan oleh kehidupan sehari-hari yang jauh dari sisi kemanusiaan. </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/otakkurusak.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/otakkurusak.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/otakkurusak.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/otakkurusak.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/otakkurusak.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/otakkurusak.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/otakkurusak.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/otakkurusak.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/otakkurusak.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/otakkurusak.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/otakkurusak.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/otakkurusak.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=otakkurusak.wordpress.com&blog=3456840&post=17&subd=otakkurusak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/the-dumb-society/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/03f8b258d29283d3c658716af4d7b76f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iwa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>