Pusat Inkubator Ide dan Kreativitas Mahasiswa ITB

April 12, 2008 § 2 Comments

”masa depan adalah mimpi, dan mimpi adalah masa depan…”

Proses rekayasa struktur masa depan bukanlah suatu proses yang secara ilmiah tidak dapat direpresentasikan dalam variabel-variabel yang dapat dipertanggungjawab. Lebih dari itu, proses ini adalah sebuah keniscayaan, walaupun memiliki variabel tak tentu dan tentu saja hasil acak yang sulit untuk diprediksikan. Tapi secara empiris proses rekayasa ini adalah hal yang mungkin dilakukan oleh beberapa pihak, yang tentu saja sangat meyakini bahwa masa depan adalah proses akumulasi pengaruh masa lampau. Bagi mereka yang memiliki gambaran struktur masa depan yang didasarkan pada beberapa hal yang fundamental sebagai koridor tentu saja dapat dengan sederhana membuat langkah strategis dengan jelas sehingga proses rumit untuk mencapai sebuah hasil akumulasi pembentukan struktur masa depan yang mereka ingin menjadi proses yang mudah. Koridor yang diyakini oleh mereka yang mampu meramalkan bentuk masa depan, adalah karakteristik pola sejarah manusia dan tentu saja hal tersebut berkaitan dengan manusia itu sendiri. Dengan koridor tersebut, mereka akan memulai menyederhanakan proses akumulasi struktur masa depan tersebut mennjadi beberapa bagian yang lebih sederhana. Bagian pertama adalah manusia, bagian kedua adalah sistem, ketiga adalah alat-alat. Manusia, sangat jelas bagi mereka yang berusaha mengembangkan ide dan pemikiran mereka sehingga apa yang mereka yakini dapat menjadi sebuah kenyataan akan dimulai dengan proses pencarian orang-orang yang secara linier terkait dengan kebutuhan pembentukan struktur masa depan tadi. Manusia, sebagai subjek utama, adalah mereka-mereka yang secara gradual akan mewujudkan masa depan dengan proses yang tampak sederhana. Sederhana bagi saya, karena sebenarnya proses mereka tidak didahului dengan proses berpikir, tapi hanya karena desakan yang kuat dari dalam diri mereka. Namun bagi mereka yang akan berperan sebagai nahkoda, bentuk struktur masa depan harus sejelas desain arsitektur sebuah rumah yang akan dibangun.

Masyarakat Indonesia, saat ini tidak memiliki orang-orang yang secara terbuka menerima peran pembentukan struktur masa depan ini. Hal ini terlihat dari semua sisi kehidupan bangsa ini yang tidak menuju sesuatu apapun. Bahkan lebih parah lagi para pemimpin kita, yang sudah seharusnya menanggung peran ini secara nyata menunjukkan hal sebaliknya. Mereka tidak mengerti kata masa depan, mereka tidak sanggup untuk memikirkan masa depan, mereka sangat tidak kreatif dalam membayangkan masa depan. Bagi mereka masa depan adalah takdir, hanya Yang Diatas lah yang menentukan. Itulah gambaran para pemimpin kita yang tidak memiliki kapabilitas untuk mewujudkan impian masyarakat mengenai masa depan. Institut Teknologi Bandung yang seharusnya menjadi pencetak orang-orang yang mampu dan mau untuk merealisasikan struktur masa depan saat ini lupa akan kaidah dasar perubahan. Kaidah pertama, hanya manusialah yang melakukan perubahan (selain Tuhan tentunya). Mengapa? Karena perubahan itu sendiri hanya berlaku bagi manusia, manusia sendirilah yang merasakannya, makhluk lain tidak berpikir untuk merasakannya. Kaidah kedua perubahan itu akan berlaku jika dimulai dengan perubahan cara pandang dari manusia itu sendiri.

Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan. Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini. Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.

Saat semua institusi yang ada saat ini mulai lupa dengan tujuan fundamental, saat itulah perubahan perlu dilakukan. Para engineer masa depan ini harus disadarkan secepatnya tentang jati diri mereka sebenarnya, tentang kemampuan mereka sesungguhnya, tentang peran mereka sebenarnya. Pusat inkubator ide dan kreativitas ini hanya sebuah media bagi mereka untuk mulai belajar mewujudkan masa depan mereka, tentu saja melalui kemampuan yang mereka pelajari di kampus ini. Karena itulah sebenarnya fungsi kampus ini. Yaitu mencetak para engineer kemanusiaan, yang akan membawa manusia ke tatanan peradaban yang lebih baik melalui tools sains, teknologi dan seni. Melalui pusat inkubator ide dan kreativitas ini, semua khayalan mereka tentang masa depan akan diwujudkan dalam sebuah struktur yang konkrit. Ide dan kreativitas mereka tidak menjadi sesuatu yang artifisial seperti yang terlihat saat ini. Saat semua mahasiswa menganggap bahwa proses pembentukan ide dan kreativitas hanya semata untuk mengejar kesenangan dan kebutuhan semata. Pola yang dilakukan pihak (pemerintah) yang seharusnya bisa lebih kreatif pun tidak lebih kreatif dibanding mahasiswa itu sendiri. Mereka anggap hanya dengan mengadakan lomba, apakah kemudian tugas mereka mencetak pemuda selesai. Yang jelas sekolah pun saat ini tidak menjadi solusi. Apalagi hanya sekedar lomba. Melalui pusat inkubator ini mahasiswa diajak untuk membentuk sebuah peradaban baru, peradaban yang mereka tentukan sendiri bentuknya melalui pengetahuan, kemampuan, dan ikhtiar mereka. Himpunan saat ini terlalu kuno untuk gagasan ini, kabinet terlalu birokratis, rektorat terlalu pesimis terhadap mahasiswanya, masyarakat pun tidak terlalu peduli, apalagi pemerintah yang hanya memikirkan bahwa pendidikan hanya masalah dana. Saya yakin jika mahasiswa mau mengembangkan pola pemikiran mengenai realitas saat ini, kemudian berkhayal mengenai masa depan yang ingin mereka bentuk, maka akan muncul beberapa masalah yang akan menghadang mereka dalam mewujudkannya. Untuk itu mereka harus mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan kemauan untuk menyelesaikan dan masa depan yang mereka inginkan. Tentunya dengan cara yang sederhana, membuat sebuah karya yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. Karya tersebut adalah sebuah realisasi pemikiran mereka dalam menyelesaikan masalah, itulah yang tidak diajarkan di sekolah sehingga memang sekolah hanya membentuk orang yang tidak sanggup untuk beradaptasi dengan masalah masyarakat. Sehingga wajar kita benar-benar canggung terhadap masyarakatnya sendiri, atau mungkin kita lupa bahwa kita memiliki masyarakat. Itulah deskripsi filosofi keberadaan pusat inkubator itu sendiri.

§ 2 Responses to Pusat Inkubator Ide dan Kreativitas Mahasiswa ITB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pusat Inkubator Ide dan Kreativitas Mahasiswa ITB at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: