The Dumb Society

April 12, 2008 § 2 Comments

“Penjajahan belum berakhir…”

Saat ini saya benar-benar merasa sendiri, terasing, teralienasi dari sistem masyarakat yang ada. Pertama kali saya merasa bahwa sayalah yang salah, bahwa sayalah yang harus mengikuti ke mana komunitas ini bergerak. Namun semakin lama saya semakin tidak kuasa untuk mengikuti cara masyarakat ini untuk berpikir dan bertindak. Saya merasa benar-benar berbeda. Sejak awal saya merasa ada yang salah dalam kehidupan masyarakat ini, di Indonesia. Ternyata saya salah, hal ini hampir terjadi di semua belahan dunia. Di mana masyarakat menjadi masyarakat yang tipikal, hampir mirip. Ada beberapa karakter yang muncul pada individu yang terdapat pada masyarakat ini. Yaitu tidak terbuka, tidak logis, dan tidak memiliki integritas. Pertama kali saya tidak mengerti mengapa ketiga karakter ini bisa menghinggapi hampir semua manusia di belahan dunia. Apakah ini hanya kebetulan semata atau memang tidak ada yang namanya kebetulan. Sebelum kita membahas apa yang sedang terjadi sebenarnya. Saya ingin mengajak semua untuk membuka mata melihat kenyataan yang terjadi pada sejarah umat manusia dimana polanya hampir sama. Ada tiga pola utama yang terlihat, pertama adalah adanya pembentukan hegemoni, yang kedua adalah adanya perebutan hegemoni, dan yang terakhir pertahankan hegemoni. Ketiga pola ini terus menerus berulang. Anda akan langsung berpikir bahwa itu adalah benar dengan melihat sejarah peperangan antar umat manusia yang kunjung selesai sampai saat ini. Tapi dengan perkembangan zaman saat ini apakah menurut Anda pola hegemoni ini akan tetap seperti itu? Ya tapi dengan cara yang lebih modern. Bagaimanakah caranya? Bukan hanya dengan peperangan karena itu hanya sebagian kecil dari pola lain yang sesungguhnya jauh lebih efektif untuk mendapatkan hegemoni. Ada empat bidang yang digunakan saat ini untuk mendapatkan hegemoni, yaitu pendidikan, media, ekonomi dan politik. Keempat bidang tersebut dikelola sedemikian rupa untuk membentuk perilaku masyarakat yang dibutuhkan oleh pihak yang ingin mendapatkan hegemoni. Percaya atau tidak, hal ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Untuk saat ini kita akan menyebut pihak yang sedang memegang hegemoni ini dengan sebutan ”mereka”, sedangkan untuk keseluruhan aktivitas dan infrastruktur yang mereka miliki dengan ”sistem”.

Pendidikan merupakan pion utama dalam strategi ”mereka” untuk membentuk masyarakat khusus yang sesuai dengan ”sistem” yang ingin mereka bentuk. Masyarakat yang ingin mereka bentuk adalah masyarakat yang efektif dan efisien dalam keseluruhan aktivitas yang akan dilakukan oleh ”sistem” ini. Dengan metode tertentu mereka memaksakan agar sistem pendidikan menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ada beberapa ciri dari sistem pendidikan ini yaitu:

  1. Berorientasi pada pasar

Produk pendidikan dibentuk disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dimana pasar itu sendiri diatur oleh ”mereka”. Sehingga pada dasarnya produk pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ”mereka”. Hal ini dapat kita lihat dari parameter-parameter yang digunakan dalam proses belajar, dimana keseluruhannya hampir tidak sesuai dengan makna dan filosofi pendidikan itu sendiri. Kita bisa lihat perguruan tinggi kita berlomba-lomba untuk meningkatkan diri dalam mencapai parameter-parameter itu sehingga bisa disejajarkan secara internasional.

  1. Tidak membebaskan

Proses pendidikan memang tidak ditujukan untuk membebaskan manusia dari kungkungan ketidaktahuan dan ketidaksadaran. Proses pendidikan malah diarahkan agar manusia tetap berada di zona ketidaktahuan dan ketiaksadaran dirinya sebagai manusia. Karena jika pendidikan ini diarahkan pada proses pembebasan maka ”sistem” yang ada akan menjadi tidak efektif dan efisien sebagai alat hegemoni. Sehingga yang penting dari proses pendidikan hanyalah parameter kepintaran yang direpresentasikan melalui proses penilaian yang kaku.

  1. Tidak mencerdaskan

Proses pendidikan memang tidak diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan seorang manusia. Karena semakin cerdas seorang manusia maka dia dengan sendirinya akan terus mempertanyakan keadaan dan dengan segera dia akan mengetahui bahwa saat ini mereka berada di dalam ”sistem” yang menjerat hampir sebagian besar umat manusia. Saat bisa kita lihat bahwa pada dasarnya menjadi cerdas itu bukanlah pilihan, tapi menjadi sebuah keanehan.

Strategi kedua adalah melalui media. Media (televisi, media cetak, internet) digunakan sebagai alat untuk menguatkan ”sistem” agar apapun yang terjadi keberadaan sistem ini akan menjadi sesuatu yang alami untuk terjadi. Namun apapun yang terjadi pada kehidupan ini pada dasarnya mengikuti hukum sebab-akibat. Ada beberapa fungsi dari media sehingga keberadaan dapat memperkuat ”sistem” yang ”mereka” buat.

  1. Media sebagai pembentuk opini

Media digunakan sebagai senjata dalam perang pemikiran. Nilai benar dan salah dapat ”mereka” tentukan sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga pada akhirnya reaksi masyarakat pun dapat mereka kontrol melalui media ini.

  1. Media sebagai pembentuk kebudayaan

Media digunakan untuk menciptakan kebudayaan baru, dimana masyarakat akan dengan sangat mudah mengikutinya tanpa mereka sadari. Dimana kebudayaan ini sendiri diarahkan dengan sangat teliti agar keberadaannya akan memperkuat ”sistem” yang ada.

  1. Media sebagai pembentuk perspektif

Hal yang paling berbahaya yang dapat dilakukan media adalah mengubah perspektif seseorang dalam memahami kehidupan ini sehingga pada akhirnya dapat mengubah perilaku dan karakter setiap individu yang terpengaruh. Perspektif merupakan koridor bagi seorang manusia dalam menjalani kehidupan mereka. Bagaimana akibatnya jika perspektif itu sendiri adalah hasil bentukan yang disengaja. Sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu masyarakat yang secara mental homogen antara satu sama lain.

Setelah masyarakat yang dibutuhkan telah tercipta melalui dua senjata utama yaitu pendidikan dan media, maka selanjutnya yang akan menjadi kartu utama dari pembentukan ”sistem” ini adalah ekonomi. Karena melalui ekonomi inilah ”mereka” mampu mengontrol kebijakan-kebijakan yang ada hampir di semua belahan dunia. Dengan menguasai kebijakan pasar global maka mereka mampu untuk mengarahkan semua negara untuk membuat kebijakan sesuai dengan yang mereka inginkan. Apakah menurut Anda kebijakan pasar itu ada hanya karena ada interaksi yang acak. Naif sekali rasanya jika kita katakan bahwa pola kebijakan pasar itu tidak memihak. Dimana saat ini banyak sekali pemahaman-pemahaman baru yang diterapkan oleh ”mereka” sebagai senjata baru agar kekuatan ekonomi mereka semakin besar. Salah satunya adalah globalisasi. Namun jangan salah sangka dulu, dengan mengasumsikan bahwa saya berpihak pada suatu kepentingan. Anda harus mengerti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sama sekali tidak ada yang bebas nilai. Karena ada kita, manusia, yang memberikan nilai pada sesuatu yang ada sekitar kita. Jadi semua hal yang ada di dunia ini memiliki nilai, dan nilai tersebut yang saya namakan dengan kepentingan (baik yang sifatnya individu ataupun kolektif).

Selanjutnya ”mereka” gunakan kekuatan ekonomi mereka untuk mempengaruhi kehidupan politik di banyak negara. Sangat sederhana bukan, bagaimana kebijakan-kebijakan yang ada akan selalu memihak ”mereka”. Seperti layaknya Indonesia yang bagi saya tidak memiliki kebebasan politik sama sekali. Bagaimana hampir semua kebijakan Indonesia harus dirancang dengan banyak sekali pertimbangan luar yang sebenarnya tidak masuk akal untuk kita jadikan referensi, salah satunya hutang.

Jadi sistem pendidikan, media, ekonomi dan politik itu sendiri ada karena ada kepentingan. Dan yang harus Anda tanyakan adalah: Apakah ketiganya itu ada untuk kepentingan yang baik?. Silahkan Anda bercermin dari kenyataan saat ini, yang paling mudah adalah dengan melihat Indonesia. Indonesia, bagi saya adalah model keberhasilan dari ”sistem” ini dimana baik rakyat dan pemerintahannya sendiri tidak mampu dan sadar untuk membuat kebijakan sendiri tanpa terpengaruh oleh kondisi pasar. Karena apa, karena kita adalah pasar itu sendiri dimana kebijakan diatur oleh ”mereka” melalui banyak mekanisme yang tidak kita sadari. Dan melalui ketiganya (pendidikan, media, dan ekonomi) ”mereka” mencoba mengaburkan keberadaan ”sistem”. Umat manusia dibuat tidak sadar bahwa sebenarnya mereka mampu untuk melihat kehidupan ini dengan penglihatan yang sesungguhnya.

Selama saya banyak melakukan perjalanan ke beberapa kota di Indonesia dan berinteraksi dengan masyarakat saya merasakan bahwa masyarakat Indonesia telah mengidap suatu penyakit mental yang hampir serupa seperti yang telah saya sebutkan di awal. Hal ini memang belum saya buktikan secara ilmiah, dimana keilmiahan bagi saya adalah bukti kebenaran dari ucapan saya. Namun Anda akan dapat melihat apa yang saya jelaskan ini adalah sebuah kebenaran ataupun bukan.

Masyarakat apa yang sebenarnya ingin ”mereka” ciptakan? Apa saja ciri dari masyarakat yang sesuai dengan ”sistem” yang ”mereka” buat? Saya akan menjelaskan bahwa pada dasarnya sebuah sistem memerlukan karakter-karakter khusus masyarakat yang dibutuhkan agar sistem tersebut dapat langgeng secara efektif dan efisien. Saya akan memberikan contoh dalam level mikro dan makro. Dalam sebuah perusahaan, para direksi membuat seperangkat peraturan dan tata cara agar karyawannya berperilaku sesuai dengan yang mereka inginkan, biasanya (hampir semua) atas nama keuntungan. Pada level yang lebih tinggi lagi, pada sebuah negara para pemimpinnya membuat seperangkat undang-undang dan ideologi sebagai alat yang mereka gunakan sebagai alat untuk membentuk masyarakatnya sesuai dengan sistem yang pemimpinnya bentuk. Dari sudut pandang tertentu memang tidak salah, karena itu adalah hal yang harus dan semestinya terjadi. Tetapi itu menjadi salah jika tidak mendasarkan diri pada asas kemanusiaan. Dan apakah Anda tidak bertanya-tanya apakah dunia inipun dikelola dengan cara yang sama seperti kedua contoh diatas. Dan itulah ”sistem” yang ”mereka” buat. Dibawah tiga ciri dari masyarakat yang ingin mereka bentuk.

  1. Tidak terbuka

Dengan ketidakterbukaan dalam masyarakat ”mereka” mampu untuk menciptakan sekat-sekat perbedaan menjadi permasalahan, dimana bagi mereka permasalahan itu bisa menjadi keuntungan. Dimana tribalisme menjadi salah satu agenda utama mereka. Anda akan dibuat semakin tidak berdaya.

  1. Tidak cerdas

Logika Anda tidak berjalan, mereka akan membuat Anda berpikir bahwa kehidupan ini berjalan secara alami seperti yang terjadi saat ini. Anda tidak akan berpikir bahwa semua ini ternyata telah diatur sedemikian rupa. Anda dijejali khayalan-khayalan yang akan membuat Anda sulit untuk membeda mana sebenarnya yang merupakan kenyataan.

  1. Tidak memiliki integritas

Karena ”mereka” tidak memerlukan integritas. Integritas bagi mereka akan sangat berbahaya jika dimiliki oleh oleh orang-orang yang berpengaruh. Akan berbahaya jika integritas ini dimiliki oleh mereka yang cerdas sekaligus terbuka, maka dengan mudah mereka mampu melihat apa sebenarnya yang menjadi sebab semua kekacauan yang terjadi saat ini dan dengan mudah juga mereka menginspirasi orang lain untuk berpikir hal yang sama.

Bagi ”mereka” masyarakat yang tidak terbuka, tidak cerdas, dan tidak memiliki integritas adalah masyarakat yang cocok untuk melanggengkan sistem mereka. Sama hal seperti Indonesia, dimana saat ini kepercayaan itu menjadi hal yang sangat sulit untuk ditemukan dan integritas menjadi barang langka, sekalipun pada jajaran pemimpin-pemimpin kita.

Saya ingin coba buktikan apakah sistem yang ingin mereka buat itu didasarkan pada nilai kemanusiaan atau tidak. Dan saya pun ingin menantang Anda untuk membuktikan hal tersebut. Karena disanalah letak kesadaran yang ingin saya bangun, bahwa Anda menyadari bahwa Anda berada dalam sebuah sistem besar yang mengarahkan Anda setiap harinya untuk berperilaku yang mungkin Anda sendiri tidak sadari. Bagi saya sistem seperti itu adalah sistem yang telah mencabut nilai kemanusiaan itu sendiri, dan apakah kemudian saya sanggup untuk berbohong bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi, semua baik-baik saja, dan berkata bahwa semua kenyataan ini adalah kebetulan saja, atau dengan pasrah bilang bahwa ini sudah menjadi suratan takdir. Pada level tertentu saya yakin bahwa ini masih pada level kemampuan manusia, sehingga terlalu naïf jika kita bilang bahwa keadaan Indonesia saat ini adalah azab atau ujian dari Tuhan semata. Saya semata-mata ingin memberikan gambaran utuh dari kejadian besar yang menimpa Indonesia dan negara-negara lain yang dalam hal ini ternyata tidak terjadi begitu saja. Bahwa semua ini memang terjadi atas kepentingan-kepentingan tertentu. Saya tidak berkata ini adalah sebuah konspirasi internasional, tetapi saya ingin menyadarkan Anda untuk membuka mata dan melihat bahwa kepentingan-kepentingan itu ada, dan hal tersebut ”mereka” representasikan dalam sebuah ”sistem”.

Apa sebenarnya kepentingan-kepentingan ”mereka” itu, sehingga secara kolektif membentuk gerakan bawah tanah. Inilah yang paling sulit saya definisikan, karena yang paling tahu apa tujuan sebenarnya adalah ”mereka” sendiri. Namun secara ekplisit saya katakan bahwa tujuan mereka itu sendiri adalah hegemoni itu sendiri. Apa yang ingin mereka dapatkan dari hegemoni tersebutlah yag seharusnya dipertanyakan. Sekarang adalah saatnya mempertanyakan siapa ”mereka” dan bagaimana ”sistem” ini ”mereka” jalankan. Agar kita mengerti siapa ”mereka” dan ”sistem” nya kita harus coba mengerti bagaimana pola sejarah itu terbentuk. Kita coba lihat satu dekade ke belakang, coba kita urutkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada skala internasional yang ikut merubah perspektif zaman. Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi, pertama adalah perang dunia satu, yang kedua adalah perang dunia dua, dan selanjutnya peperangan yang terjadi di daerah timur tengah dan sekitarnya. Dari ketiga kejadian tersebut ada beberapa aspek yang kemudian terjadi setelah peperangan tersebut. Yaitu bagaimana mereka mulai meletakkan fondasi-fondasi agar sistem mereka menjadi kuat. Dan yang pertama kali mereka lakukan adalah dengan menyusun kekuatan ekonomi mereka, yaitu mengembangkan sistem pasar global dimana hanya ada satu mata uang yang mampu mempengaruhi sistem perekonomian. Apakah Anda berpikir bahwa keberadaan mata uang yang dominan, yaitu dolar amerika, hanyalah sebuah kebetulan. Kita bisa lihat beberapa peristiwa ekonomi yang mampu diciptakan hanya dengan menggunakan keberadaan mata uang tersebut, yang paling kita rasakan adalah krisis moneter tahun 1997. Fondasi ekonomi tidak hanya sampai disana, ”mereka”lah juga yang memiliki kemampuan untuk mencetak mata uang tersebut. Dari kemampuan untuk mencetak mata uang tersebutlah mereka mampu untuk menciptakan inflasi dan meningkatkan suku bunga. Hal ini sangat ilmiah, matematis dan sistematis untuk dapat dilakukan. Sebelum mereka mencoba untuk membuat sistem ini sehingga dapat mempengaruhi banyak negara secara global, mereka mencoba dahulu di negara mata uang ini berasal. Dan hal ini dimulai semenjak terjadinya kepanikan massa di tahun 1907, dimana banyak bank yang bangkrut dan gulung tikar. Sehingga setelah itu di Amerika muncul banyak pengangguran dan permasalahan sosial lainnya. Apakah Anda melihat kemiripan pola dengan krisis moneter di Indonesia? Strategi ini berhasil, sekarang adalah bagaimana caranya agar hegemoni mereka semakin bertambah. Salah satu cara yang paling mudah adalah perang. Karena dengan adanya perang kebutuhan akan mata uang akan semakin bertambah, dengan kebijakan yang ada ”mereka” akan senang hati hati untuk mencetak mata uang semakin banyak. Hal ini berarti pinjaman semakin banyak dan hutang semakin banyak pula. Anda akan melihat bahwa pada satu dekade terakhir ini, terlihat bahwa Amerika dan sekutu selalu terlibat pada semua peperangan yang terjadi. Apakah Anda sebut itu sebagai kebetulan lagi? Apakah Anda mengetahui bahwa Indonesia pun dikuasai dengan mudah hanya dengan semudah ”mereka” memberikan hutang. Itulah strategi mereka selanjutnya untuk menguasai negara-negara lainnya yaitu dengan menyediakan peminjaman uang kepada negara-negara yang membutuhkan, yang berarti negara-negara tersebut memang dikondisikan tidak akan sanggup untuk membayar kembali. Mengapa? Sederhana, karena selain mereka memberikan pinjaman, merekapun yang mengatur kebijakan perekonomian global. Sehingga wajar jika kemudian yang dilakukan negara-negara tersebut adalah meminjam kembali. Semakin mirip saja dengan Indonesia.

Isu-isu internasional mereka gulirkan demi langgengnya sistem ini, diantara yaitu kapitalisme, globalisasi, demokrasi, global warming, terorisme, moneter, modernisasi, hedonisme, global village dan lain-lain. Hal ini diciptakan untuk menunjang ”sistem”. Apakah Anda berpikir komunisme dihabisi karena mereka berbahaya bagi kita? Bukan itu, tapi karena sistem komunisme tidak sesuai dengan ”sistem”, komunisme dapat mengancam dan menghalangi penyebaran pengaruh ”sistem”. Apakah Anda berpikir tayangan di televisi ada karena Anda dan masyarakat menginginkannya? Apakah Anda berpikir informasi yang Anda dan masyarakat terima adalah sebuah kebenaran? Bisa kita lihat saat ini dimana, setiap manusia disibukkan oleh agenda-agenda yang sama sekali tidak esensial. Kemanakah sisi esensial kemanusiaan yang kita miliki? ”Mereka” tidak menginginkan Anda memilikinya, karena jika Anda memilikinya itu hanya akan menghambat ”sistem” dan itu harus disingkirkan, seperti mereka menyingkirkan Soekarno dan tokoh-tokoh lain di dunia ini. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Yang jelas bukan ingin meningkatkan sisi kemanusiaan manusia, yang selama ini banyak diperjuangkan oleh banyak tokoh dunia. Bagi ”mereka” biarlah itu menjadi dongeng tidur anak-anak kita yang walaupun anak kita tumbuh seperti tokoh itu mereka tetap tidak menyadari kenapa dunia berjalan seperti sekarang ini. Pada kenyataannya anak-anak kita tumbuh dalam budaya postmodernisme yang mulai mengesampingkan akal budi. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat ulah ”mereka”. Apakah mereka ingin berdalih bahwa merekalah sang penyelamat dunia, dengan demikian sangat mudah bagi mereka untuk mengontrol populasi dunia. Apakah ”mereka” mau menghantarkan kita pada dunia yang lebih baik dengan cara yang kita lihat saat ini. Apakah ”mereka” lihat bahwa ada beberapa hal yang tidak baik untuk dibiarkan hidup di dunia ini sehingga perlu untuk ”mereka” lenyapkan. Apa yang ”mereka” lakukan sudah melebih batas kewajaran. Saya jadi bertanya saat ini, apakah sebenarnya ”mereka” ingin menjadi Tuhan.

Ini waktunya kita revolusi, waktunya kita membuka semua penglihatan warga dunia. Bahwa ada sekelompok orang yang berusaha untuk merendahkan keberadan kemanusiaan dengan mengolok-olok, memanipulasi, merekayasa bahkan melenyapkan kita (entah dengan sengaja atau tidak dengan semua kejadiannya). Hidup bukanlah mengenai hegemoni. Hidup adalah mengenai mengerti siapa kita dan munculkan semua diri kita ada dunia. Apa artinya hidup jika kita tidak lagi merdeka dan bebas untuk memilih. Anda harus segera sadar bahwa semua ini bisa berakhir, bahwa semua ini bisa kita selesaikan. Caranya sangatlah mudah, sadari segera kalau Anda manusia, dan sadari segera bahwa kondisi ini bukanlah kondisi ideal yang diri kita, manusia, inginkan, sadari segera bahwa kita mampu untuk merubah kondisi ini, sadari bahwa nilai kemanusiaan kita harus segera kita rebut. Tidak satupun manusia yang berhak untuk menentukan bagaimana kita harus hidup, bagaimana kita harus bertindak. Saya yakin bahwa inilah musuh kita sebenarnya, dimana selama ini kita selalu disibukan oleh kehidupan sehari-hari yang jauh dari sisi kemanusiaan.

§ 2 Responses to The Dumb Society

  • tita says:

    kang, alhamdulillah tita ngbca tulisan ini. soalnya tita udh ckup bnyak baca” hal-hal smacam ini yang justru hasil kamuflase ‘mereka’…. tita jadi bingung nyri referensi dari mna…. ada sran?

    trus kang tita msih g ngerti hubunganny global warming sma gerakan ‘mereka’, maksudnya gimana?

    trus kng tita msih ska bingung motif mreka brusha mncpai tujuan itu…….. ad rfrensi yg blang gra” perang jmn dlu.. ad yg blang karna mreka emg ‘otakny luar biasa’ jdi g da krjaan…

  • ryansight says:

    posmodernisme oh posmodernisme… terdengar begitu intelek, tapi kedengerannya doang…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Dumb Society at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: