Belajar Dari Negeri Orang: Menghidupkan Kembali Korea

March 15, 2011 § Leave a comment

Pembangunan di sebuah negara selalu menjadi topik yang menarik bagi saya. Bagaimana tidak, kebangkitan sebuah negara selalu menjadi fenomena unik yang disertai serangkaian peristiwa penting yang pada dasarnya adalah serangkaian skenario yang telah dipersiapkan. Peristiwa  ini menjadi pemicu-pemicu utama, yang kadang-kadang tidak disadari keberadaannya, dalam gerakan perubahan atau transformasi di hampir semua negara. Saat ini saya tertarik untuk membahas Korea Selatan, alasannya cukup sederhana karena saat ini saya memang sedang berdomisili di Negara ini. Jadi tidak terlalu sulit untuk mencari rujukan dan referensi yang shahih.

Pertumbuhan ekonomi Korea beberapa saat ini memang mencengangkan, mengingatkan sejarah keterpurukan bangsa ini di awal abad lalu. Lebih mencengangkan lagi, perubahan ini tidak memakan waktu lama, kurang lebih dalam waktu 50 tahun Korea mampu bertranformasi dari negara berkembang menjadi salah satu negara maju. Lebih hebatnya lagi perubahan struktural yang menjadi platform atau blueprint transformasi ini hanya dilakukan dalam waktu 30 tahun saja. Fase ini bisa dibagi menjadi 3 periode, yaitu (1) periode pengenalan dan imitasi teknologi asing dilakukan sampai 1970-an, (2) periode pembentukan kapabilitas riset dan pengembangan (R&D) industri pada tahun 1980-an, (3) periode pembangunan dan pengembangan riset dasar/hulu dimulai tahun 1990.

Dari awal proses pembangunan, Korea sadar bahwa kapabilitas/penguasaan bidang teknologi adalah aset utama bagi mereka untuk dapat setara dengan bangsa-bangsa lain. Sehingga kebijakan penting yang pernah dibuat adalah mengenai kebijakan inovasi nasional, atau sistem inovasi nasional. Sistem inovasi ini memiliki 2 konsep dasar yang fundamental: (1) level negara sebagai salah satu indikator penting ditentukan oleh daya saing dan kinerja di bidang teknologi, (2) daya saing dan kinerja tidak hanya ditentukan satu faktor, hal ini butuh melibatkan banyak institusi dan interaksi diantara mereka. Kalau membaca ini mungkin terkesan klise, tetapi pada kenyataan nya itulah yang mereka lakukan. Penerapan sistem inovasi nasional Korea ini bisa dijabarkan ke dalam point berikut ini: (1) riset dan pengembangan pada sektor bisnis, (2) sektor riset pemerintah dan publik (3) sistem pendidikan tinggi dan universitas, (4) interaksi ketiga sektor ini sehingga mampu menciptakan alur modal, sumberdaya manusia, dan pengetahuan.

Pada periode awal setelah lepas dari penjajahan Jepang, Korea membangun negara nya dengan banyak memperkenalkan teknologi asing. Dalam banyak kasus teknologi ini banyak diadaptasi langsung oleh perusahaan lokal Korea dalam konstruksi fasilitas industri. Berkat proses industrialisasi yang besar-besaran dan tepat guna, Korea mampu mengubah diri dari negara agraris menjadi negara industri dalam waktu yang cukup singkat. Namun demikian  dalam terminologi teknologi, kegiatan mereka hanya masih berkisar di daerah adaptasi dan imitasi. Wajar saja jika National Income dari intensitas riset dan pengembangan nasional hanya berkisar 1% saja.

Setelah itu pada tahap selanjutnya terjadi proses investasi besar-besaran pada proses riset dan pengembangan ini yang akhirnya meningkatkan intensitas R&D ke angka 2% di akhir tahun 1990-an. Proses ini dilakukan oleh grup-grup industri besar lokal (chaebols), seperti Samsung, LG dan Hyundai. Pada saat itu muncul banyak kebutuhan untuk terus menciptakan produk baru dan meningkatkan kapabilitas produk yang telah ada. Penelitian mengenai pemanfaatan dan penerapan teknologi asing agar menjadi lebih efektif menjadi salah satu motif terbesar investasi saat itu. Namun riset dan pengembangan masih sedikit menyentuh teknologi dasar atau teknologi hulu.

Pada tahap ketiga yaitu setelah tahun 1990-an, Korea mulai meningkatkan intensitas riset dan pengembangan sehingga hampir mencapai 3% pada tahun 2004, dimana merupakan salah satu angka yang terbesar didunia. Pencapaian ini disumbangkan oleh, (1) grup industri lokal dimana mereka terus meningkatkan kapabilitas mereka demi menghadapi kompetisi internasional dan juga untuk tetap menjaga agar terus memimpin teknologi di berbagai bidang, kemudian (2) peran pemerintah yang mendukung peningkatan riset dan pengembangan ini  dengan membuat kebijakan dan membangun infrastruktur riset dan pengembangan secara signifikan di beberapa tahun terakhir.

Salah satu contoh kebijakan yang dibuat Korea adalah BK21 atau Brain Korea for 21 Century. BK21 adalah proyek untuk meningkatkan kualifikasi sumberdaya manusia agar bisa menciptakan masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan. Proyek ini dicetuskan pada akhir tahun 1990-an, dan terus dilaksanakan hingga saat ini. Proyek ini masih serangkaian program guna peningkatan riset dan pengembangan di Korea. Fokus BK21 ini adalah mereformasi proses pendidikan tinggi di Korea agar bisa lebih produktif berkontribusi dalam bidang inovasi. Kebijakan ini dikeluarkan oleh kementrian pendidikan dan sumberdaya manusia pemerintah Korea, dan dilaksanakan dengan melibatkan banyak universitas di seluruh pelosok Korea dan para professor serta staf ahli. Proyek BK21 ini melibatkan banyak mahasiswa/peneliti asing (termasuk saya, dan mahasiswa lain dari negara berkembang) dalam kegiatannya ini, barangkali ini yang sering kita sebut sebagai proses “Brain Drain”. Bentuk lain dari implementasi kebijakan pemerintah adalah pembentukan lembaga-lembaga riset, dimana lembaga ini merekrut peneliti-peneliti baik dari dalam ataupun luar negeri. Seperti yang dijelaskan sebelumnya baik lembaga ini ataupun pendidikan tinggi di Korea, semuanya mendapatkan support dari perusahaan lokal dan pemerintah. Sehingga sirkulasi modal, sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan berjalan dengan lancar.

Beberapa hal penting yang harus diambil sebagai pembelajaran dari proses pembangunan ekonomi Korea ini, adalah (1) Blueprint/platform/kebijakan adalah syarat mutlak dalam membangun sebuah negara, kebijakan yang tepat yang dilandasi atas pemahaman yang benar mengenai bagaimana membangun sebuah negara dan apa saja yang diperlukan dan harus dipersiapkan untuk itu adalah hal yang fundamental, (2) Langkah strategis haruslah sederhana dan mudah dimengerti, pada contoh kasus Korea ini saya melihat proses alih teknologi mereka tidak begitu kompleks. Entah karena mereka cerdas, pekerja keras atau mungkin karena mereka “straightforward”. Seringkali kita lihat contoh kasus dimana proses ini menjadi kompleks dan berbelit-belit, (3) Kolaborasi semua elemen diperlukan agar semua proses bisa sinergis sehingga menghasilkan dampak yang lebih “massive”, (4) Peran pemerintah, disini pemerintah bisa dianggap sebagai koordinator dan fasilitator, dimana menciptakan iklim yang kondusif bagi semua elemen untuk berkontribusi sesuai peran dan kemampuan nya, (5) urutan proses pengembangan teknologi bisa dibagi menjadi (a) imitasi dan adaptasi (b) efisiensi industrialisasi produk  (c) pengembangan industri dasar/hulu (sebagai contoh industri transistor, IC atau chip).

References:

Martin Hemmert (2007) The Korean Innovation System: From Industrial Catch-Up to

Technological Leadership: “Innovation and Technology in Korea: Challenges of a Newly Advanced Economy”, Physica-Verlag a Springer Company

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Belajar Dari Negeri Orang: Menghidupkan Kembali Korea at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: