Tan Malaka: Komunis Moderat atau Islam Kiri?

March 22, 2011 § 3 Comments

“Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!”

Itu adalah sepenggal dari pidato Tan Malaka, tokoh Marxis Indonesia yang juga sering disebut-sebut sebagai bapak pelopor Republik ini. Tidak banyak yang mengetahui sepak terjang beliau dalam peta perpolitikan dan sejarah bangsa ini, karena mungkin dahulu sempat berseberangan ideologi dan pemikiran dengan beberapa petinggi negara ini. Sebut saja Soekarno, yang juga sempat “belajar” dari Tan Malaka ini, tercatat pernah menjebloskan Tan Malaka ke dalam penjara dan konon katanya beliau juga dalang dibalik pembunuhan Tan Malaka.

Berkat beberapa tulisannya seperti Massa Actie, Naar de Republik, Dari Penjara ke Penjara dan Madilog, saat ini orang-orang mulai mengetahui siapa sebenarnya Tan Malaka ini dan bagaimana kontribusi beliau dalam sejarah pembentukan Republik kita ini. Perjalanan hidup Tan Malaka ini hampir seperti cerita fiksi saja, dimulai dari petualangan dia di Eropa saat mulai berkenalan dengan Marxisme dan Komunisme kemudian cerita mengenai pelarian dia di beberapa negara di Asia.

Tan Malaka lahir di tengah-tengah keluarga yang Islami di daerah Sumatera Barat pada tahun 1894, dan sempat mengenyam pendidikan di sekolah pelatihan guru di Bukittinggi sampai kemudian melanjutkan pendidikannya ke negeri Belanda. Disana beliau mulai memahami kaitan antara Kapitalisme, Imperialisme dan Perjuangan Kelas setelah meletusnya Revolusi Rusia 1917. Pada periode ini Tan Malaka terserang penyakit TBC, penyakit yang kemudian mengganggu perjalanan hidup Tan Malaka.

Hal yang menarik pada periode ini adalah motivasi ketertarikan beliau pada Marxisme dan Komunisme, yang pada akhirnya sering bertentangan dengan agama. Pada periode selanjutnya Tan Malaka acapkali menunjukkan bahwa Komunisme dapat berjalanan beriringan dengan Islam, yang beliau tunjukkan melalui kerjasama antara PKI dan Sarekat Islam pada waktu itu. Lebih menarik lagi adalah buku Madilog yang beliau tuliskan, jika Anda benar-benar membacanya Anda akan merasa kebingungan dengan ideologi yang dibawa oleh Tan Malaka. Mungkin penggalan dari pidato Tan Malaka diatas saat menghadiri Kongres Komunis Internasional cukup menggambarkan bagaimana ideologi beliau dan bagaimana beliau melihat agama, khususnya Islam. Kemudian sejarah mengenai kontribusi Tan Malaka cukup abu-abu dalam dunia sejarah Indonesia, tidak banyak referensi mengenai ini. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kontribusi dan pemikiran Tan Malaka, sumber yang paling mudah adalah melalui tulisan-tulisan beliau.

Tulisan-tulisan Tan Malaka cukup shahih digunakan sebagai referensi untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pemikiran Tan Malaka ini. Di dalam Naar de Republik dan Massa Actie, Tan Malaka mengungkap beberapa pandangan beliau mengenai kondisi dunia dan Indonesia sendiri. Pandangan Tan Malaka di dalam buku ini bisa dibilang sebagai pandangan yang melampaui zamannya. Bagaimana tidak, di dalam kedua buku tadi Tan Malaka menjelaskan secara sistematik strength, weakness, opportunity dan threat bangsa Indonesia dalam memerdekakan bangsanya. Kedua buku ini ditulis tahun 1920-an, periode dimana nilai-nilai kebangsaan baru saja terbentuk dan Tan Malaka dengan gamblangnya telah merampungkan 2 buah buku yang bisa dibilang platform pembentukan Republik Indonesia. Perjalanan hidup menjadi modal yang berharga dalam penyusunan buku tersebut, yang bisa dibilang sebagai buku pegangan bagi para pejuang-pejuang Indonesia kala itu. Perjalanan hidup beliau sebagai agen Komunis Internasional yang pernah menyusun buku mengenai kondisi ekonomi dan politik Indonesia menjadi salah satu pengalaman penting yang menjadi modal utama, buku ini diterbitkan di Rusia. Di dalam kedua buku tersebut juga Tan Malaka menjelaskan bagaimana Republik ini harus dibentuk dan juga menjelaskan program-program yang harus dilaksanakan setelah Republik ini terbentuk. Untuk masalah program ini, Tan malaka, mengklaim bahwa pada zamannya belum banyak partai yang sanggup mendeskripsikan ideologinya ke dalam tataran strategi dan program sehingga mampu mencakup dan menyentuh semua sektor.  Istilah republik, revolusi dan beberapa istilah perjuangan/pergerakan lainnya akan banyak Anda jumpai di kedua buku ini.

Ketertarikan beliau pada Marxisme dan Komunisme, bisa jadi karena latar belakang kehidupan di Indonesia yang pada saat itu masih dijajah Belanda. Belanda di Indonesia diibaratkan oleh Tan Malaka sebagai perwakilan dari Kapitalisme dan Imperialisme. Selain itu juga, bisa jadi, diakibatkan kehidupan Tan Malaka yang kurang beruntung selama di Belanda. Hal ini bisa diketahui dari riwayat penyakit yang diidap Tan Malaka selama disana akibat kondisi cuaca dan makanan. Kekecewaan Tan Malaka terhadap Kapitalisme dan perasaan senasib dengan mereka yang disebut “proletar”, menggiring pemikiran Tan Malaka mendekati Komunisme yang mana mengagung-agungkan pemerataan sosial. Tetapi jika Anda membaca semua buku tulisan Tan Malaka, Anda akan mendapati kesimpulan bahwa pada dasarnya dia tidak membenci Kapitalisme. Dia melihat kapitalisme di Indonesia tidak lahir dari rahim putra bangsa, tetapi lahir dari keserakahan bangsa lain. Dan hal ini dibaratkan sebagai bayi yang lahir prematur, yang pada saatnya nanti bisa mengganggu perjalanan hidup si bayi atau bahkan sampai meninggal. Dan saat itu, secara logis Tan Malaka pasti mencari ideologi lain yang mungkin bisa membantu Indonesia lepas dari kungkungan Kapitalisme dan Imperialisme ini.

Patut digarisbawahi, mengapa Tan Malaka tidak mengambil Islam sebagai dasar gerakan beliau, mengapa lebih memilih Komunisme. Padahal Tan Malaka ini lahir dari keluarga yang sangat agamis, dan pengetahuannya tentang Islam cukup luas dan dalam. Seperti biasa, segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Jika melihat beberapa tulisan beliau, terlihat kekecewaan beliau terhadap orang-orang yang menggunakan agama sebagai alat mistik untuk membohongi/memanipulasi manusia lainnya.  Jelas sekali bahwa kekecewaan Tan Malaka itu bukan pada agama, tetapi lebih kepada manusia-manusianya. Sehingga terlihat sekali pada buku Madilog, bagaimana dia memaparkan agama atau kepercayaan itu.

Pada dasarnya, Komunisme yang dibawa Tan Malaka adalah semacam Komunisme bangsa timur, yang jauh lebih moderat. Tan Malaka akhirnya kemudian menganalogikan bagaimana kepercayaan dia terhadap Tuhan, yaitu didalam kalimat “Jadi menurut Madilog Yang Maha Kuasa itulah bisa lebih kuasa dari undang alam. Selama Alam ada dan selama Alam Raya itu ada, selama itulah pula undangnya Alam Raya itu berlaku.” Dan wajar saja jika beliau membawa ideologi ini, karena pada masanya kondisi di Indonesia tidak jauh dari hari ini, dimana ada golongan-golongan tertentu yang hidup bermewah-mewahan namun lebih banyak mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan. Isu sosial selalu menjadi isu sentral dalam pandangan beliau.

Tidak mudah untuk mendeskripsikan ideologi beliau, seorang komunis moderat kah atau aktivis islam kiri?

References:

Madilog (1943), Naar de Republik (1925), Massa Actie (1926) dan pidato Tan Malaka di Konferensi Komunis Internasional ke-4 (1922)

22/3/2011
Seoul
-sedang kehilangan jati diri-

§ 3 Responses to Tan Malaka: Komunis Moderat atau Islam Kiri?

  • Arman Kalean says:

    untuk menggolongkoan seseorang Islam Kiri ataukah komunis moderat, tentu memiliki latar belakang yang harus jelas. Tan Malaka sebagai seorang komunis muslim tentunya dalam pemahaman yang terlihat dari perjalanan keterasingan beliau, misalnya di fukian yg terdapat komunitas muslim. tentunya menggambarkan bahwa beliau masih atau setidaknya mungkin sholat. Entah di Belanda pun demikian? waullahualam. Saya belum dapat memastikan secara pasti apakah rutinitas keislaman dari Tan Malaka benar2 dijewantahkan apa tidak. Di atas anda menyinggung tentang “tan malaka tidak membenci kapitalisme”, mungkin saja benar sebab maklum tan sendiri berasal dari keluarga ningrat. Ataupun kita sama2 boleh merujuk GERPOLEKnya. Sementara, jika kita menggolongkan TAn pada Aktivis islam KIRI, hemat saya ini julukan bebas organ/lembaga terikat lainnya. pasalnya Hassan Hanafi pun mantan Ikhwan, buka komunis. Atupun saya juga bisa dikatakan demikian. Jika isi dalam MADILOG digunakan sebagai acuan penggolongan, sementara tujuan dari pada MADILOG sendiri adalah tan merasa bahwa pendidikan di bangsa pada saat itu belum baik. Jadi, menurutku tan malakah adalah manusia yang berdialektik dengan masanya, PKI baginya hanya sekedar sebagai wadah progres denan ideologi Marxist memang sangat dominan bagi negara jajahan, sebab jika dikatakan komunis moderat kenapa bersifat antipati terhadap PKI? selanjutnya jika disebut kiri islam, dimana pendekatan ayat2 yang bersifat materialistik yang sudah tan malaka uraikan semisal mengenai ekonomi, gejala alam, sains, sosial yang di keluarkan oleh tan malaka? BAndingkan dengan Ziaul Haq dengan bukunya Wahyu dan Revolusi, Hassan Hanafi dengan Dari akidah sampai ke Revolusi, dan peru juga kita ketahui tesis april Lenin itu efeknya pada perpecahan muslim di Rusia menjadi tiga: Kaum masjid Tua, kaum muslim yang bergabung dengan mensyevik, dan kaum masjid muda dengan bolsyevik. ketiganya saling berperang satu dengan yang lain, kemudian kita kenal Mehmet Emin Rasul Zade, Najamudin Efendiev Samusrsky, dll. Mereka ini bisa digolongkan pada komunis moderat, tetapi awalnya mereka bukan komunis setelah ada tawaran Lenin tersebut mereka masuk dalam Dewan Muslim Komunis Nasional (baca: Dakhwah dan Siyasah, Am Romli). Mereka pun mungkin bisa dogolongkan Islam KIRI. Sebab mengacu pada term KIRI tentunya dalam pembelaan mustad’afin bukan? Tan Malaka pun demikian. Yang perlu diingat yakni, siapaun yang ISlam dan beroposisi dengan konserfativ KANAN pasti dijuluki KIRI yang Islam atau Islam KIRI. Sementara siapapun komunis yang hendak membuka jalur kooperasi, kerjasama dengan borjuasi nasional, perjuangan bersama minoritas lain, pastilah disebut Komunis yang moderat. Untuk Tan MAlaka, seorang Komunis yang Islam. Adakah Tan Malaka membuka gerbang lebar bagi setiap upaya moderat kala itu? bandingkan dengan dukungan terhadap Soekarni dan kawan2 muda lainnya saat itu dan kritikannya terhadap Soekarno. Adakah nampak moderatnya? Seperti apa moderat di mata anda bagi Tan Malak sendiri???

  • sebenarnya islam kiri dan komunis moderat adalah dua sisi keping mata uang, Tan Malaka yang menolak resolusi Prambanan di tahun 1926 berbalik menuntut merdeka 100% lewat pembentukan Persatuan Perjuangan bersama Panglima Sudirman pada Januari 1946. Jalan perundingan yang digagas perdana menteri Syahrir disebutnya sebagai satu pengkhianatan. Sebenarnya ideologi Tan Malaka kental mewarnai pandangan politik perwira TNI terutama yang berasal dari Divisi Diponegoro

  • wida says:

    Apapun ideologi tan malaka, namun ada banyak hal menarik yang dapat kita pahami dan harus kita pahami bersama, bahwa sebelum kemerdekaan sampai tahun2 awal pasca didengungkan proklasi, adalah keberpihakan.
    Keberpihakan pada negeri ini, bangsa ini, negeri ini oleh Tan Malaka tentu sebuah realitasi “perjuangan” meskipun di cap berbeda oleh penguasa saat itu.
    Keberpihakan menjadi penting di awal sejarah negeri ini, bahkan sampai detik ini, adakah para koruptor misalnya, dianggap lebih berjasa dan lebih berpihak kepada negeri ini?
    Sekali lagi,,, ideologi menjadi “tidak” penting untuk dibicarakan senyampang “tokoh” yang dimaksud tidak memilki “realitas” keberpihakan kepada negeri ini,,, lebih-lebih kepada yang benar!!!
    ———————————— kita butuh pemimpin bukan hanya “de jure” tapi juga kepemimpinan pemikiran kita, cara berfikir kita yang seringkali amat sangat jauh dari “kebenaran” sebuah logika positif yang dianggap benar—————–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tan Malaka: Komunis Moderat atau Islam Kiri? at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: