Universitas Terbuka di Korea

May 16, 2011 § 1 Comment

“setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat”

-UU Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 ttg Sistem Pendidikan Nasional-

Disaat saya mulai membaca satu demi satu undang-undang mengenai pendidikan di Indonesia, mulai detik itu juga rasa pesimis muncul kembali. Semakin dibaca semakin terasa jauh apa yang tertulis disana dengan apa yang terjadi pada kenyataan. Pendidikan jadi seonggok manuskrip hasil perdebatan perwakilan rakyat kita berbulan-bulan. Klise, tapi jurang itu semakin terasa saja saat saya menginjakkan kaki di korea ini.

Inilah kali keduanya saya berkenalan dengan kata “UT” atau “Universitas Terbuka”. Dulu sewaktu saya bekerja, ada salah satu senior saya yang lulusan SMK mengambil kuliah di UT ini. Dia bilang, “butuh ijazah nih wa, biar karir nya ga mentok-mentok amat, jadi ngambil kuliah lagi di UT, lumayan waktunya fleksibel”. Perkenalan kali pertama dengan UT yang kurang baik memang, namun hal itu berubah setelah melihat apa yang UT bisa lakukan disini di Korea. (Oiyah, untuk tahu UT itu apa silahkan googling saja)

Di Korea ada sekitar 30 ribu pekerja Indonesia, dan rata-rata dari mereka memang lulusan sekolah menengah atas. Ada beberapa hal yang luar biasa dari pekerja Indonesia disini, pertama: gaji mereka bisa lebih dari 8 juta rupiah, bahkan sekalipun pekerjaan disini hanya di bidang pertanian misalnya (melebihi gaji rata-rata fresh graduate engineer di Indonesia), kedua: memiliki komunitas sesama pekerja indonesia, komunitas ini berfungsi untuk membantu sesama rekan pekerjaan yang memiliki masalah (jangan tanya dimana peran pemerintah, tugas mereka selesai setelah mengirimkan para pekerja ini), ketiga: keinginan mereka (para pekerja indonesia) untuk menjadi lebih baik sangat kuat, keinginan untuk belajar mereka sangat besar. Sayang, kelebihan-kelebihan pekerja Indonesia ini seolah-olah menjadi hal biasa saja di hadapan orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap mereka.

Lulus sekolah menengah, berkuliah di universitas terbaik kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak atau meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan dilanjutkan dengan menikah, paling tidak itu lah alur yang sering kita bayangkan. Alur yang benar-benar “Happy Ending”. Sayangnya, tidak semua orang ternyata mendapatkan kesempatan yang sama, tidak semua orang diberikan pilihan untuk memilih apa yang mereka inginkan, bahkan sebagian tidak memiliki kesempatan untuk memikirkannya sekalipun. Ada sebagian dari kita yang harus berjuang bekerja keras sedari dini, sedari usia disaat kita masih mengenyam indahnya pendidikan. Para pekerja Indonesia di Korea juga sama, bekerja adalah pilihan terbaik mereka untuk saat ini. Namun ada satu hal yang saya tidak habis pikir,  yaitu niat mereka untuk belajar kembali, berkuliah kembali. Bukankah selama ini stereotip nya adalah cepat lulus dan mencari pekerjaan dengan gaji tinggi, dan hal itu rasanya sudah para pekerja dapatkan. Apa sebenarnya yang mereka cari?

Rekan-rekan dari Perpika (persatuan pelajar indonesia di korea) mulai melihat bahwa pendidikan adalah tanggung bagi mereka yang terdidik (walau pemerintah porsinya harusnya lebih besar) dan mulai (keras kepala) menginisiasi Universitas Terbuka ini sebagai sarana bagi pekerja Indonesia di Korea untuk mengembangkan diri. Dan alhamdulillah, sambutan dari para pekerja terhadap UT ini sungguh besar, baik dari yang muda ataupun pekerja yang sudah berumur. Rata-rata dari pekerja ini memang membutuhkan pendidikan ini agar bisa mendapatkan hidup yang lebih baik, dan bukankah itu pula tujuan dari pendidikan kita (silahkan baca di UU ttg pendidikan nasional).

Menjalankan UT di Korea ini tidak mudah ternyata, butuh sampai 2-3 tahun agar UT bisa seperti sekarang. Mulai dari urusan birokrasi yang berbelit-belit sampai mempersiapkan pengurus. Syukurnya, generasi saat ini bukanlah generasi birokrasi ataupun bukanlah generasi tanpa kreasi. Rekan-rekan perpika ini mengurusi mulai dari masalah administrasi perkuliahan UT sampai menjadi pengajar juga di UT ini. Mengurusi di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa di Korea, yang terkenal sebagai penghuni tahanan Laboratorium dan mengurusi tanpa memikirkan keuntungan pribadi, karena haram (mungkin). Bagi pengurus, (mungkin) UT ini adalah pengabdian sekaligus kewajiban (bagi mereka yang terdidik).

Hah, akhirnya optimisme saya muncul kembali. Belum berakhir ternyata Republik ini, masih ada rekan-rekan muda yang masih mau memperjuangkan tegaknya undang-undang. Walaupun saya yakin orang-orang di senayan sana jauh lebih fasih mengenai undang-undang ini, tapi bagi saya rekan-rekan pelajar ini jauh lebih mengerti tentang makna pendidikan dibanding mereka yang selama ini memperdebatkan makna undang-undangnya.

Dedicated to

Mas-mas dan mba-mba mahasiswa UT yang baru saja ujian kemaren, mudah-mudahan makin semangat kuliah nya dan juga buat pengurus UT terutama buat yang paling garing, mudah-mudahan makin semangat mengurus UT nya.

§ One Response to Universitas Terbuka di Korea

  • ow, begitu ya kang?
    saya juga punya kesan yang buruk ketika mendengar istilah Universitas Terbuka, sampai sesaat sebelum membaca tulisan ini.
    makasih share nya kang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Universitas Terbuka di Korea at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: