Motivator dan Dukun

June 10, 2013 § 5 Comments

Kita mulai dengan tulisan dari Sudjiwo Tedjo,

Indonesia punya banyak motivator kok, bangga? Itu artinya orang-orang Indonesia, selalu butuh dimotivasi.  ~Sudjiwo Tedjo~

Mungkin kalimat itulah yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita. Kenapa sih motivator ini bisa menjamur di Indonesia, apapun namanya motivator, inspirator, trainer, public speaker atau coach. Sebenarnya tidak hanya di Indonesia di negara lain pun sama, misalnya di Amerika, banyak juga orang yang berprofesi menjadi motivator ini. Pertanyaan yang mendasar, apakah Indonesia membutuhkan sedemikian banyak motivator? Sebenarnya apa manfaat motivator ini? Apa mereka pantas memberikan motivasi? Tulisan ini dibuat tidak untuk menghina atau merendahkan mereka yang sudah berprofesi sebagai motivator, tapi hanya untuk meluruskan persepsi masyarakat tentang motivator ini. Sehingga bisa membedakan mana motivator dan mana orang memiliki kapabilitas memberikan motivasi, karena ada batas dan perbedaan yang jelas diantara keduanya.

“Beda dukun dan motivator itu sungguhpun tipis setipis-tipisnya. Sama-sama mencari rezeki diatas ketidaktahuan orang lain”

Pada sudut pandang tertentu motivator ini mirip seperti dukun, beberapa kesamaannya yaitu: Pertama, sebagian besar tidak memiliki latar belakang akademik yang sesuai dengan klaim kapabilitas yang mereka sebutkan, persis seperti dukun yang mengaku bisa mengobati penyakit pasien mereka, padahal para dukun ini tidak memiliki pendidikan medis sama sekali. Pemberian apresiasi pada dukun merupakan tindakan yang salah karena akan memberikan sugesti sesat bagi masyarakat. Kedua, sebagian besar tidak memiliki sistem evaluasi yang jelas terhadap sistem pengajaran/pemberian materi yang mereka lakukan, seperti para dukun yang mengobati pasiennya, mereka tidak memiliki prosedur dan manual penanganan penyakit sehingga memang sering sekali melakukan malpraktik dan hasilnya seringkali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lucunya, kadang lebih suka mengklaim keberhasilan (yang jumlahnya lebih sedikit) daripada kegagalan (yang jumlahnya lebih besar). Ketiga, memberikan materi irasional yang jauh dari kaidah keilmiahan dan akal sehat. Seperti para dukun yang sering memberikan saran-saran mistis yang tidak masuk akal, sehingga terkadang saran itu terasa menggelikan bagi mereka yang berpikir logis.

“Percaya bisa menjadi cerdas dalam 2 menit itu bodohnya amit-amit, bisa menjemput rezeki dan mengubah nasib hanya dalam 3 jam seminar itu jelas-jelas membohongi diri sendiri. Halusinasi Anda sudah sangat parah”

Sudah waktunya masyarakat kita memberikan apresiasi yang tepat bagi mereka yang memiliki profesi yang tentunya memiliki dampak besar bagi perkembangan masyarakat. Seperti contohnya guru, dokter ataupun peneliti. Rasanya kurang proporsional sikap masyarakat kita terhadap orang-orang yang memiliki profesi-profesi ini. Gaji yang mereka dapatkan sebenernya bukan hanya masalah kebijakan pemerintah, tetapi juga cermin apresiasi masyarakat kita terhadap profesi-profesi ini. Kadang kita bisa dengan ikhlas mengeluarkan ratusan ribu hingga jutaan untuk acara seminar para motivator ini, namun kadang mengomel jika ongkos ke dokter lebih dari ratusan ribu. Padahal para dokter ini menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bisa praktek sebagai dokter umum, dan menghabiskan waktu tambahan untuk bisa menjadi dokter spesialis. Begitu ada malpraktik, bahkan hanya untuk satu pasien saja, izin praktek dokter ini bisa dicabut. Begitu pula dengan guru, mempelajari secara dalam keilmuan yang akan diajarkan, belum lagi belajar psikologi pendidikan agar bisa memberikan pengajaran yang efektif bagi murid-murid. Para guru ini memiliki sistem evaluasi yang jelas terhadap para murid ajarnya sehingga semuanya bisa dipertanggungjawabkan dengan jelas. Para guru ini membimbing murid-murid dalam rentang waktu yang masuk akal untuk proses perkembangan psikologis dan kecerdasan akademik manusia.

“Banyak hal menyesatkan yang selalu dijadikan sebagai bahan dakwah para motivator ini. Mungkin motivator ini mengidap Messiah Complex. Lebih gilanya lagi mereka punya pengikut setia yang siap membela”

Tidak mungkin Anda bisa mengubah begitu saja kapabilitas Anda hanya dalam waktu sehari, dua jam atau bahkan 2 menit. Butuh waktu dan usaha keras untuk bisa mendapatkan keahlian di suatu bidang. Dan perlu diketahui tidak hanya pengusaha yang dibutuhkan negara kita, kita butuh banyak ilmuwan juga, dokter juga , guru juga dan insinyur. Intinya negara kita masih membutuhkan orang yang memiliki keahlian di berbagai bidang. Baik mereka yang bekerja dominan di domain otak kanan ataupun otak kiri. Hal yang paling menyedihkan adalah kadang motivator ini memberikan pengetahuan tidak logis yang menyesatkan, seperti cara mendapatkan sesuatu dengan proses yang instan. Bagi saya sendiri mereka-mereka yang memiliki kapabilitas untuk memberikan motivasi adalah mereka yang telah membuktikan diri berhasil di bidangnya masing-masing. Misalnya untuk memotivasi para guru, rasanya sosok Anies Baswedan cocok dijadikan sebagai motivator para guru atau Sandiaga Uno, cocok dijadikan sebagai motivator bagi para pengusaha muda dan seterusnya. Sehingga dengan demikian lebih mengena karena orang yang memberikan motivasi adalah mereka yang benar-benar tahu perjalanan berliku di bidangnya masing-masing. Motivasi yang diberikan pun kemudian bukan hanya motivasi instan, motivasi sesaat yang memberikan euphoria pencerahan yang mungkin bertahan dalam hitungan jam atau hari. Tetapi motivasi yang akan bertahan selamanya, karena kita bisa melihat integritas dan inspirasi langsung dari orang tersebut yang memang mengabdi sepenuh jiwa di bidangnya.

“Semua orang membutuhkan motivasi dan inspirasi, harus kita akui. Namun apakah kita tidak bisa memilih siapa sumber motivasi dan inspirasi kita? Lucu rasanya harus membayar untuk mendapatkan motivasi dan inspirasi, apalagi di zaman modern seperti saat ini. Paradoks ini persis ketika harus bayar buat masuk ke kakus”

Memang benar, belajar bisa dari siapa saja dan dimana saja, oleh karena itu saya menghimbau tidak perlulah belajar dari motivator apalagi berbayar apalagi yang sering mengutip ayat-ayat Tuhan apalagi yang latar belakang akademiknya meragukan. Kalau ingin belajar marketing, silakan ke ahli-ahli marketing, ambil studinya jika ingin jadi menjadi profesional. Kalau ingin mendapatkan pencerahan agamis, Anda bisa datang ke pusat-pusat pembimbingan agama, seperti kalau untuk muslim di Bandung, Anda bisa datang ke daerah gegerkalong disana banyak pusat keagamaan, yang walaupun para ustadznya memiliki latar belakang pendidikan yang bukan sama sekali tentang keagamaan, tetapi setidaknya acaranya gratis. Kalau Anda butuh pencerahan tentang memaksimalkan kinerja otak Anda bisa datang ke psikolog atau neurologis. Tapi terlepas dari adanya “artis-artis palsu” ini memang ada juga motivator yang memiliki kapabilitas sebagai public speaker mumpuni berlatar belakang keahlian yang menunjang. Sehingga intinya Anda diharapkan bisa kemudian membedakan mana-mana dari motivator ini yang benar-benar memiliki integritas dan kapabilitas dalam memberikan materi dengan mereka para motivator yang penghasilan terbesarnya hanya dari cuap-cuap di seminar yang kadang acara ini mereka jadikan sebagai ajang menjual buku dan produk hasil bikinan mereka sendiri. Para motivator jenis terakhir ini kan seperti menyelam, minum air serta sambil mencuri mutiara, yang sayangnya di kolam milik orang lain.

“Selain euphoria merasa berubah, tidak ada hal lain yang Anda dapatkan di dalam acara para motivator ini, malah Anda kehilangan uang, waktu dan kesadaran Anda. Selain itu tidak akan ada perubahan apapun, sampai Anda mengusahakannya sendiri, tanpa bantuan motivator itu.”

Terakhir, sumber kekuatan manusia itu terletak di dirinya sendiri, begitu pula motivasi yang hakiki berasal dari pikiran dan hati kita sendiri. Benar adanya kita butuh bimbingan orang lain untuk membukakan kesadaran kita tentang itu. Namun sudah sangat jelas bukan motivatorlah orangnya. Karena motivator yang saya bahas adalah mereka yang hanya bisa berbicara, mengeruk uang Anda, menguras emosi Anda, menipu Anda dengan kata-kata muluk nan indah, mengklaim keberhasilan yang Anda perjuangkan, tidak bertanggung jawab atas kegagalan Anda, dan menjadi benalu dalam sistem sosial seperti layaknya para dukun yang hanya akan menyesatkan pola pikir Anda. Jadi waspadalah.

“Jika benar para motivator ini tidak bermental dukun, maka mereka harusnya memberikan motivasi pada orang-orang miskin yang tidak memiliki harta, bukan ke mereka yang sanggup membayar mahal. Jika benar nilai-nilai yang mereka ajarkan, maka harusnya mereka rela disebar ke seluruh pelosok Indonesia untuk membantu program pengentasan kemiskinan dan kebodohan. Lumayan kan dalam 2 menit bisa membuka potensi manusia dan dalam 40 hari  bisa membuat rezeki si miskin berlipat-lipat”

§ 5 Responses to Motivator dan Dukun

  • Mutia says:

    Analisa yang keren ^^

  • rousyan says:

    ini pasti motivator yg ente tweet soal otak kanan yah :p

    • Iwa Kartiwa says:

      hahaha..soalnya baru dtg ke korea..dan semua orang heboh..T_T..sampe detik ini saya msh belum bisa nerima dgn akal sehat kenapa banyak yg percaya..lebih gelinya lagi di posternya ada logo dompet duafa..wah wah..tunggu dulu nih..apa semua keuntungannya disumbang kesana?..ini kan jadi ironis..tapi yah apa boleh buat bro..asal semua senang..apalah arti tulisan awak ini..gara2 tulisan ini saya malah banyak dicela..wakakakak..entahlah..

  • Urfa says:

    ironis, padahal jualan di kakus aja gratis #eh
    eniwei, sy suka tulisannya, keren!

    • Iwa Kartiwa says:

      terimakasih ^_^, klo suka boleh disebar tulisannya..sepertinya penting nih untuk membuat gerakan hari nasional bebas motivator di Indonesia..sudah sangat meresahkan jumlahnya..dan kadang sangat mengerikan materi yang mereka bawakan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Motivator dan Dukun at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: