Ber-Tuhan dengan irisan Logika dan Rasa

June 14, 2013 § Leave a comment

Ranah agama memang berada di irisan antara logika dan rasa. Jika Anda perhatikan baik-baik semua dasar iman yang tertera di agama manapun berada di ranah rasa, hati dan kepercayaan yang sifatnya abstrak dan kadang sulit dibuktikan secara empiris. Tunggu dulu jangan kemudian menghakimi saya sebagai sekuler atau julukan apapun yang sering disematkan kepada orang-orang lain yang mencoba untuk berpendapat, terutama di ranah sensitif ini. Tulisan ini saya buat, karena kekhawatiran saya melihat bagaimana umat beragama (dan yang tidak beragama), agama apapun, memanisfestasikan keberagamaan (dan ketidakberagamaan) mereka dalam bermasyarakat, dalam berkehidupan di dunia. Kekhawatiran saya ini muncul setelah mengamati bagaimana orang-orang saat ini melihat agama hanya dari kacamata rasa saja atau dari kacamata logika saja. Beragama hanya dengan rasa saja hanya akan menuntun orang tersebut pada sikap fanatisme buta dengan mengesampingkan rasionalitas. Hal itu tentu saja sangat berbahaya, pengejawantahan ayat-ayat melalui tafsir-tafsir yang tidak rasional kadang berakhir kontraproduktif dengan semangat awal agama tersebut muncul. Sedangkan berpikir dengan logika saja dalam memahami agama, tentu akan menggiring Anda menjadi tidak percaya akan adanya hal-hal yang tidak rasional dalam agama. Seperti saya sebut diawal, dasar agama pun sebagian besar disusun dari hal-hal yang sifatnya tidak rasional. Sehingga tidak sedikit orang yang awalnya berangkat dari logika untuk memahami agama kemudian menjadi tidak percaya adanya Tuhan.

Kemudian mana pendekatan yang benar dalam beragama? Karena agama sendiri ada di kedua ranah rasa dan logika, maka harus dengan keduanyalah kita ber-Tuhan. Tapi bukankah rasa dan logika bertolak belakang? Sebenarnya jika mau jujur, manusia sendiri adalah bukti otentik bahwa hidup bukan hanya sekedar logika ataupun sekedar rasa. Manusia tidak bisa lepas dari keduanya, manusia membangun peradabannya sendiri dengan rasa dan logika. Hidup keseharian manusia pun tidak lepas dari keduanya, dan ketika keduanya mampu hadir berdampingan dalam satu sosok manusia, terkadang kita melabeli manusia tipe ini dengan sebutan sempurna. Baik hati dan juga cerdas dalam berpikir, bukankah itu kombinasi karakter yang hebat.

Nah yang menjadi perdebatan sengit adalah ketika rasa itu sendiri dianggap bukanlah monopoli agama saja. Banyak agnotis dan atheis yang berpikir bahwa tidak valid mengatakan bahwa orang yang tidak percaya agama atau tidak percaya Tuhan tidak bisa menjadi orang baik atau memiliki rasa. Betul sekali, tapi kemudian hal ini menjadi membingungkan. Bagaimana mungkin orang yang berpikir dengan logika terhadap agama dan Tuhan, bisa percaya terhadap rasa yang sifatnya abstrak. Kita sebut saja misalnya cinta, kasih sayang, dan seterusnya. Secara fisik hal tersebut memang tidak ada namun bisa dirasakan, seperti apa yang orang-orang beragama dan ber-Tuhan rasakan terhadap iman mereka. Seperti saya sebutkan sebelumnya, bahwa manusia adalah bukti otentik irisan dari rasa dan logika, sehingga memang wajar semua manusia pasti akan memanisfestasikan keduanya dalam berkehidupan. Terlepas dari beragama atau tidak, ber-Tuhan atau tidak.

Saya tidak membahas lebih jauh tentang apakah Anda harus beragama atau tidak, ber-Tuhan atau tidak. Karena itu kurang lebih akan seperti membicarakan tentang cinta dan akal sehat. Semua terserah Anda dan keputusan personal Anda. Tetapi pada intinya, kadang mereka yang tidak beragama dan ber-Tuhan adalah mereka yang kecewa terhadap agama dan Tuhan. Dan kadang mereka yang beragama dan ber-Tuhan adalah karena mereka mencintai agama dan Tuhan mereka. Subjeknya masih sama-sama agama dan Tuhan. Sebenarnya ada juga jenis ketiga, yaitu mereka yang ikut-ikutan beragama atau tidak beragama, karena tidak punya pilihan baik secara sadar ataupun tidak sadar. Jenis yang mengenaskan.

Nah, yang akan saya kupas sekarang adalah tentang rasa dan logika tadi dalam kehidupan beragama. Hal yang membingungkan adalah bagaimana menyatukan keduanya dalam sikap dan pandangan beragama dan ber-Tuhan. Itulah hal yang paling sulit dilakukan, kapan harus bertindak dan berpikir dengan rasa dan kapan bertindak dan berpikir dengan logika, apalagi jika Anda bersikap dan berucap atas nama agama.

Dalam dunia yang makin kompleks seperti saat ini, setiap orang dituntut untuk dapat bertindak sesuai kaidah-kaidah konsesus sosial kemasyarakatan yang pada dasarnya disusun berdasarkan dialektika yang logis. Entah itu dalam bentuk produk hukum ataupun aturan sosial. Kompleksitas itu mengacu pada bentuk hubungan antar manusia yang ada saat ini. Kemajuan zaman ini menuntut perubahan disana-sini di dalam kaidah-kaidah konsensus tadi. Dan di saat yang bersamaan agama dan segala aturannya terlihat mulai usang dan ketinggalan zaman. Namun apakah benar demikian? Seperti yang pernah saya tulis di salah satu tulisan saya yang berjudul “Tantangan Ber-Islam di Zaman Moderen“, terlihat bahwa sebenernya pada awal kemunculan setiap agama, masing-masing mereka membawa nilai-nilai progresivitas dan inovasi. Yang tentu saja keduanya menjawab permasalahan yang muncul saat itu. Walaupun sebagian besar nilai-nilai itu bersifat spiritualitas yang berada di ranah rasa, tetapi tidak sedikit juga nilai-nilai progesivitas dan inovasi itu merambah ke ranah hubungan antar manusia, yang tentu saja banyak yang mengedepankan logika ketimbang rasa.

Jadi sebenarnya, yang perlu kita lakukan hanyalah menempatkan rasa dan logika di tempat semestinya. Keyakinan, keimanan, kepercayaan yang merupakan ranah rasa sangatlah tepat untuk ditempatkan dalam konteks “why“, sedangkan sikap dan ucapan yang merupakan manifestasi nyata cara berpikir logis dalam kehidupan bermasyarakat akan tepat untuk ditempatkan dalam konteks “how“. Itu bukan berarti bahwa keduanya tidak hadir bersamaan, namun sebaliknya dengan begitu hubungan sebab akibatnya jelas. Bahwa amal sudah seharusnya representasi dari iman.

Jika kita lihat saat ini, banyak orang menempatkan rasa di dalam konteks “how”, sehingga sikap dan ucapan mereka memang didominasi oleh ranah yang kadang memang jauh dari akal sehat. Anda mungkin familiar dengan orang-orang yang melakukan kekerasan atas nama agama. Hubungan antar manusia mereka tidak berjalan baik sehingga yang mereka lakukan memang benar-benar keluar dari pakem konsensus hukum yang mengedepankan logika. Orang-orang yang terjebak dalam ranah rasa ini, seringkali terjebak dalam “bentuk amal”. Ini yang pada akhirnya membuat agama itu jauh dari nilai progesivitas dan inovasi, kita biasanya menyebutnya konservatif atau kolot. Karena yang mereka lakukan hanyalah meniru apa-apa yang orang-orang sebelumnya lakukan, tidak lebih.

Banyak juga yang menempatkan logika di wilayah “why” dimana kepercayaan, keyakinan dan keimanan berada. Tentu saja inipun tidak tepat, bagaimana Anda mau menjelaskan Tuhan, malaikat, hari akhir, neraka dan akhirat jika parameter dan alat untuk mengukurnya saja tidak ada. Kalaupun ada, Anda tahu ini dari kitab suci masing-masing. Di titik ini jelas manusia terbatas terhadap konsep-konsep rasa. Ini sama saja seperti menanyakan seberapa besar cinta Anda pada pasangan Anda, jika ingin diukur dalam skala yang valid. Tetapi bukan berarti hal itu tidak ada. Konsep ke-Tuhan-an itu jelas ada mengiringi sejarah umat manusia. (Ini akan jadi bahasan yang menarik jika berdiskusi dengan teman-teman atheis).

Kita harus sadari bahwa dunia sendiri adalah pengejawantahan dari logika, sehingga pendekatan dan alat untuk memahaminya pun adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua yang ada didalamnya pun merupakan pengejawantahan logika yang kemudian manusia tuangkan dalam ilmu pengetahuan. Hanya manusialah yang kemudian memasukkan rasa pada dunia dan seluruh isinya, tanpa manusia siapa yang akan menyebut dunia ini dunia, dan tanpa manusia apakah dunia akan seperti dunia saat ini? Jadi sebisa mungkin jangan menempatkan rasa dan logika di tempat yang salah. Jadikan rasa sebagai alasan dan logika sebagai amalan, dan keduanya muncul dalam satu kesatuan, kepribadian.

Busan, 2013-06-14

Iwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ber-Tuhan dengan irisan Logika dan Rasa at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: