Inovasi versus Imitasi

December 11, 2013 § Leave a comment

Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan ketika ingin berargumen tentang inovasi dan imitasi, mana yang lebih baik?

1. Biaya untuk melakukan proses imitasi sekitar 60-75% dari total biaya melakukan proses inovasi
2. Dahulu di abad 19, proses imitasi memerlukan hampir ratusan tahun. Rentang tahun 1877-1930, waktu rata-rata untuk melakukan proses imitasi sebuah produk sekitar 20 tahunan. Dan di sekitar tahun 1950-an sekitar 2 tahunan, kemudian saat ini mungkin hanya memerlukan sekitar 12-18 bulan saja.
3. Para pionir atau inovator mendapatkan pangsa pasar sekitar 7% dari total pasar yang ada, sisanya dikuasai para imitator.

sumber: RibbonFarm

Saat ini banyak orang berpendapat bahwa salah satu cara untuk meningkatkan daya saing sebuah bangsa adalah melalui inovasi di berbagai bidang. Tidak salah memang, karena saat ini kita memang berada di dunia peperangan inovasi antar bangsa, antar perusahaan, antar individu. Dimana inovasi jadi salah satu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan. Dan di sisi lain, proses imitasi menjadi bahan cibiran dan olokan, mungkin kita ingat kasus Apple dan Samsung. Ketika membahas inovasi, kita seharusnya sanggup membedakan inovasi di ranah statis dan dinamis. Dalam proses dinamis sekuensial, proses imitasi dapat memberikan “keuntungan” baik bagi penemunya atau bagi masyarakat pada umumnya, yaitu terus menerus memberikan “added value” terbaiknya dalam setiap produknya. Dalam kondisi statis, proses imitasi dianggap merugikan dan menghambat inovasi. Dan dalam kondisi statis pula, paten dianggap mampu untuk meningkatkan jumlah inovasi. Tetapi apakah benar demikian? Pada praktiknya, paten saat ini digunakan untuk menjegal kompetitor dalam membuat produk serupa. Padahal paten yang ideal seharusnya bisa memberikan kelonggaran bagi kompetitor untuk bisa membuat barang serupa yang bisa saja memiliki nilai kontribusi komplementer. Data di bawah mungkin akan sedikit membuka mata kita tentang proses inovasi dan imitasi.

innovation vs imitation

sumber: Harvard Business Review

Seperti kita ketahui, negara-negara berkembang saat ini tertinggal jauh secara teknologi dari negara-negara maju. Akan sangat sulit bagi negara berkembang untuk mengurangi ketertinggalan tersebut jika negara berkembang tersebut juga ikut-ikutan menganut paham statis seperti yang dijelaskan sebelumnya. Paten saat ini biasanya hanya digunakan untuk membungkam inovasi di negara-negara berkembang. Sudah biasa kita mendengar kalimat, “sulit untuk menciptakan sesuatu, hampir semuanya sudah diciptakan di negara maju sana, sudah ada patennya”. Tetapi tidak demikian dengan China dan Korea, kedua negara ini bisa dibilang imitator paling sukses saat ini. Semua teknologi atau produk yang ada di negara maju dicontek besar-besaran hingga saat ini. Jangan heran, jika Anda berkunjung ke China atau Korea Anda akan menemukan barang-barang “serupa tapi tak sama” dengan barang-barang yang ada di negara maju lainnya. Apakah barang-barang ini kualitasnya lebih buruk? Dulu ketika awal kemunculannya mungkin bisa saja kualitasnya tidak sebaiknya barang yang ditirunya. Tetapi saat ini, dengan adanya barang-barang ini, konsumer mempunyai banyak variasi pilihan. Dan barang-barang tiruan ini pun semakin berkualitas dari hari ke hari, dan tentu saja ini merangsang diferensiasi produk. Kita sebut saja semua brand terkenal seperti Huawei, Samsung, Hyundai dan masih banyak lagi. Bahkan para imitator saat ini bisa menguasai pasar lebih besar ketimbang para pionirnya.

Dalam kasus Korea, mereka saat ini mengembangkan yang namanya “iminnovation”, atau melakukan proses imitasi untuk berinovasi. Yang pada intinya mereka akan meniru terlebih dahulu barang-barang yang sudah ada untuk kemudian mereka kembangkan nanti. Proses ini terjadi hampir di semua perusahaan di Korea, dan terbukti hanya dengan 50 tahun Korea mampu untuk mengurangi ketertinggalannya. Bisa dibilang saat ini Korea bahkan unggul dalam beberapa bidang teknologi, namun hal itu tidak membuat Korea puas dan berhenti dalam “meniru”. Proses “iminnovation” ini masih berlangsung sampai saat ini. Pada awalnya mereka meniru varian barang umum tertentu yang sudah jelas-jelas tersedia dan laris di pasaran, semata-mata demi mendapatkan keuntungan dan pengetahuan tentang pembuatan produk tersebut. Namun biasanya pada saat yang bersamaan perusahaan di Korea juga mempersiapkan “riset” varian barang lain yang sifatnya khusus dan membutuhkan pengetahuan dan teknologi lebih maju. Sehingga ketika mereka sudah memahami karakteristik pengembangan produk tersebut, mereka kemudian akan membuat versi “advanced”-nya. Tak lupa perusahaan di Korea ini juga membuat paten-paten atas karya tiruan “serupa tapi tak sama” mereka, sehingga jika ada masalah di kemudian hari mereka tetap memiliki amunisi untuk bertahan dari gugatan perang paten. Well, mencontek pun tetap harus memakai strategi, jangan sampai sama persis sehingga diketahui Pak Guru. Perlu diingat, proses meniru ini tidak semudah yang dibayangkan, tidak secepat yang disangka dan tidak semurah yang diperkirakan. Prosesnya cukup rumit, memakan waktu dan investasi yang cukup besar, intinya penuh dengan risiko, apalagi jika produknya gagal di pasaran. Namun hal ini jauh lebih baik ketimbang harus melakukan riset inovasi dari nol besar.

Teknologi dipelajari secara lokal, ditiru kemudian dikembangkan: Iminnovation

Untuk bisa melakukan proses “iminnovation” ini tentunya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar semua bisa berjalan dengan baik. Syarat pertama tentunya ketersediaan sumberdaya manusia yang siap untuk mempelajari pembuatan produk yang biasanya memakan waktu sekitar 5 bulan~2tahun, tergantung tingkat kesulitan teknologi yang ditiru. Proses mempelajari produk ini banyak sekali metodenya, namun yang sering diterapkan di Korea adalah semacam advanced reverse engineering. Yaitu dengan membeli barang yang akan ditiru, mempelajari semua dokumen yang terkait (terutama terkait spesifikasi), dan juga mempelajari barang dari produsennya langsung melalui kerjasama “khusus”. Kata “advanced” ini sebenernya bukan mengacu pada prosesnya, tetapi mengacu pada bagaimana orang Korea melakukannya. Semua prosedur standar pembuatan produk tersebut dikerjakan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar, atau setidaknya sama baiknya dengan yang ditiru, totalitas dalam meniru. Syarat yang kedua adalah dana, tentu saja meniru pun butuh biaya dan biasanya tidak sedikit. Untuk masalah dana ini di Korea biasanya sering diakali, misalnya, riset yang seharusnya dikerjakan 100 orang peneliti akhirnya hanya dikerjakan sekitar 10 orang saja. Jadi wajar jika waktu bekerja rata-rata di Korea itu bisa lebih dari dari 52 jam per minggu. Intermezzo, waktu bekerja rata-rata ini hampir berlaku untuk semua bidang dan semua kalangan di Korea, mulai dari pelajar (=waktu belajar) sampai pekerja. Dan syarat yang ketiga adalah dukungan dari instansi-instansi penting, seperti pemerintah, perusahaan milik pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga riset. Dukungan dari pemerintah biasanya berupa kebijakan pemerintah terkait pengembangan teknologi yang tentunya akan memudahkan perusahaan-perusahaan untuk berkompetisi mengembang produk-produknya. Perusahaan pemerintah dalam hal ini biasanya menjadi mitra kerja dalam pengembangan produk. Dan perguruan tinggi serta lembaga riset biasanya bertindak sebagai konsultan terhadap produk teknologi yang akan dibuat. Praktik kerjasama antar instansi seperti ini sudah menjadi hal yang wajar di Korea. Satu lagi hal yang wajar di Korea adalah setiap perusahaan biasanya memiliki departemen riset dan pengembangan atau R&D.

Saat ini Korea bisa dibilang tertinggal secara teknologi sekitar 5-15 tahun dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, namun lambat laun (dalam hitungan tahun bahkan bulan) dengan proses “iminnovation” ini Korea mengurangi ketertinggalannya. Begitupun juga dengan China, sampai-sampai ada istilah “tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa China tiru”. ¬†Kemudian bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya ada di tangan Anda.

Iwa Kartiwa

Tulisan ini adalah hasil insprirasi dari diskusi bersama Prof. Agus Budiyono, terimakasih Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Inovasi versus Imitasi at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: