Tentang Naik Gunung di Indonesia

January 12, 2014 § Leave a comment

Setelah berkali-kali mendengar berita tentang kematian pemuda atau pemudi di saat menjelajah alam di pegunungan rasanya kok miris sekali yah. Kemirisan bertambah ketika tidak sedikit orang-orang menggerutui para penjelajah-penjelajah pemula yang kurang pengalaman ini. Dasar keluhannya cukup sederhana, “jika tidak memiliki pengalaman jangan sok-sokan jadi pendaki gunung deh, nyawa tuh melayang” atau “jika tidak tahu bagaimana naik gunung jangan berani-berani naik”.

Di Indonesia, mendaki gunung memang jadi semacam momok bagi pendaki pemula, sehingga kadang menjadi hak prerogatif para penjelajah ahli. Ah, menikmati alam bisa jadi juga monopoli sebagian orang, sehingga wajar anak-anak kecil di Indonesia atau mereka para lanjut usia memang tidak mempunyai pilihan berekreasi lain selain pergi ke taman hiburan atau mall-mall. Gunung-gunung di Indonesia kadang memang tidak ramah bagi semua orang.

Keadaan seperti ini sepertinya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Gunung dan alam yang ada akan menjadi lengkap keberadaannya jika bisa diekplorasi oleh semua orang dengan kapasitasnya masing-masing. Namun tentunya diekplorasi tanpa diekploitasi atau dirusak. Di dalam tulisan ini saya ingin memberikan komparasi tentang bagaimana kondisi ini di dua negara, Indonesia dan Korea Selatan. Maksud tulisan ini adalah sebagai bahan refleksi saja, siapa tahu konsep dan metoda yang diterapkan di negara lain bisa diadopsi dan diadaptasi di Indonesia. Berikut adalah perbandingan tentang menaiki gunung di dua negara tersebut:

1. Informasi

knps

website pengelola taman nasional di korea

Di Indonesia cukup sulit untuk mendapatkan informasi akurat tentang kondisi sebuah gunung, aturan pendakian dan lain-lain. Selain website yang terpencar-pencar, informasi yang kurang lengkap dan kurang terurus, serta sebagian informasi didapat dari sumber yang patut dipertanyakan kredibilitasnya. Menurut saya website yang paling baik diantara semua website yang memuat informasi tentang gunung di Indonesia ini adalah website taman nasional gede pangrango. Sedangkan di korea untuk mendapatkan informasi tentang gunung anda bisa mengakses satu situs saja melalui website korea national park service. Semua informasi mengenai gunung bisa Anda dapatkan disana. Apa permasalahan yang bisa muncul ketika informasi ini tidak mudah didapat? Banyak, keteledoran yang terjadi pada pendaki pemula bisa jadi karena minimnya informasi yang mereka miliki. Tapi kan seharusnya mereka mencari tahu terlebih dahulu informasi yang ada? Nah, oleh karena itu jika informasi disediakan dengan baik kedepannya kecelakaan saat pendakian bisa kita kurangi.

Informasi apa saja yang sebaiknya ada di dalam website tadi. Sudah barang tentu ada informasi mengenai kondisi geografis dan profil gunung tersebut, informasi mengenai petugas pengawas taman nasional dan kontaknya, peraturan pendakian gunung, pilihan rute, profil rute (tingkat kesulitan, peta rute, jarak dan waktu tempuh), reservasi pendakian, zona kawasan terlindungi dan informasi tambahan lainnya.

2. Mendaki gunung dalam perspektif budaya

Di Indonesia mendaki gunung belum terlalu populer, walaupun saat ini semakin banyak yang gemar mendaki gunung akibat banyaknya film-film yang bertemakan pendakian gunung. Persepsi mendaki gunung di Indonesia masih diidentikkan dengan maskulinitas, sehingga wajar jika mendaki gunung jadi eksklusif bagi sebagian kalangan. Di Korea Selatan sendiri naik gunung dianggap sebagai bagian dari hobi, olahraga dan rekreasi. Bisa Anda rasakan perbedaannya? Beda cara memandang akan beda pula cara kita merespon hal tersebut. Sehingga wajar di Korea, mulai anak kecil sampai orang usia lanjut, tak sedikit kaum hawa pun gemar naik gunung, tidak ada rasa kekhawatiran di mereka.

DSC_2644

gunung udah kayak mall, rame

Tapi kan gunung di korea tidak berbahaya? Nah itu dia bagian yang ingin saya bahas, seperti yang saya bilang tadi ketika kita memiliki cara pandang yang berbeda, maka akan berbeda pula cara menangani suatu masalah. Gunung-gunung Korea pada awalnya sama berbahayanya seperti di Indonesia, rawan kecelakaan. Hingga pada akhirnya didesain agar ramah pendaki, dan rute-rutenya dikategorikan dan dibuat fix, dari yang untuk pemula sampai untuk mereka yang sudah ahli. Tidak diperbolehkan bagi para pendaki untuk melewati jalur yang bukan rute resmi seperti yang tertera di website. Beberapa gunung di Korea ada yang berbahaya juga kok, karena rute di pegunungan itu memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, apalagi jika musim dingin, suhu disini bisa mencapai -20 derajat, jalurnya menjadi lebih rawan kecelakaan karena licin.

Bagaimana dengan sikap pendaki di Indonesia dan Korea? Jika mau jujur, sangat berbeda. Kita mulai dari yang paling unik di Korea. Bisa dibilang orang Korea jika naik gunung itu over-dressed, seperti yang mau naik puncak Himalaya saja. Biasanya mereka menggunakan perlengkapan paling high-tech (artinya paling mahal), mulai dari pakaian, sepatu dan peralatan lainnya. Naek gunung di Korea itu seperti datang ke acara pameran baju. Tapi disisi lain bisa dibilang well-prepared juga sih, yah filosofinya lebih baik sedia payung sebelum hujan. Walaupun kadang payungnya sedikit berlebihan.

hiking

sebenernya yang pakai baju itu ajumma dan ajushi

Namun dilain sisi, pendaki di Korea taat sekali dengan aturan yang ada, tidak membuang sampah sembarang, tidak menebang sembarangan. Selama naik gunung, interaksi mereka yah sebatas menikmati alam saja. Bahkan mendirikan tenda pun dilarang, karena di gunung tersedia shelter untuk menginap yang disewa melalui website. Tujuannya apa? Sekali lagi agar interaksi pendaki dengan alam tidak bersifat destruktif. Yah walaupun sebenarnya orang bandel dimana saja tetap selalu ada. Tapi bagaimana dengan di Indonesia? Sebaliknya yang terjadi. Pakaian yang digunakan biasanya kurang memadai, kadang malah menyepelekan. Dan disisi lain kurang patuh peraturan, sehingga interaksi dengan alamnya kadang bersifat destruktif.

Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Banyak, bagi yang mempunyai keahlian membuat website, mungkin bisa menginisiasi membuat website terintegrasi, yang memberikan informasi mengenai taman nasional di Indonesia ini. Sedangkan untuk informasinya sendiri, mungkin bisa di-share oleh-oleh rekan-rekan pecinta alam yang sudah menjelajah pegunungan-pegunungan di Indonesia. Dengan demikian solusinya lebih konkrit, sehingga kita tidak lagi-lagi menjadi generasi penggerutu. Kemudian bagi mereka yang berafiliasi dengan pencinta alam profesional, mungkin bisa juga mengusulkan untuk men-standar-kan proses pendakian bagi pemula di Indonesia. Baik itu prosedur perizinannya dan persyaratannya sampai ke prosedur dan infrastruktur pendakiannya. Terutama yang paling penting adalah rute pendakian, bagaimana rekan-rekan pendaki profesional bisa juga menyebarkan semangat pendakian dengan “menyediakan” jalur bagi mereka yang masih pemula. Pendakian kemudian akan menjadi lebih tertib, aman dan menyenangkan. Sehingga ke depannya pendakian gunung di Indonesia bisa menjadi rekreasi alternatif bagi keluarga, sarana untuk melepas kepenatan setelah bekerja di tengah ramainya perkotaan. Ada yang tertarik merealisasikan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Naik Gunung di Indonesia at Sebuah Catatan Kecil...

meta

%d bloggers like this: