Diorama Hati Senja

June 21, 2013 § Leave a comment

Hati lelaki lari berlari diatas rumput belakang pekarangan,

dibawah temaram lampu senja sebelum malam menjelang pelan

tengadah sekilas melihat burung dan angin bersahut-sahutan

kepak mengepak kian tinggi melayang angan

Duh, hati lusuh melipat kenang-kenangan

melihat tungku rasa itu tak kunjung memadam padam

ikhlas melepas ataukah erat memegang jalan pikiran

duh, ini seperti  mata pandangan di musim kelam

 

Busan, 21-06-2013

Advertisements

Negara dengan banyak pilot?

June 15, 2013 § 1 Comment

dalam kosong ambisi mengalir,

riak berdiri membuncah semilir,

apakah kehendak tuan-puan singkap menyingkap tabir?

ataukah hanya ambisi kosong kembali mencibir

 

ini negara banyak cerita, semua punakawan berasa jadi raja

di pundak sendiri mengandung cerita celaka

berbicara sana kesini banyak berbisa

seolah diri seorang brahmana, tanpa dosa

 

bekerja saja kawan, jangan khawatirkan negarawan

kita punakawan dengan sedikit sahaja pengetahuan

belajar saja kawan, toh saatnya nanti kita akan di depan

melawan atau dilawan, menawan atau ditawan tergantung pilihan

ini negara bukan negara autopilot

tapi negara dengan banyak pilot

belum kenal pesawat namun tetap ngotot

kalau dilarang, jawabannya kolot dan pakai otot

 

ah tapi tergantung kehendakmulah, wahai kaum pandir

ambisimu ambisi kosong sekosong angin semilir

 

Seoul, 2013-06-15

 

Ber-Tuhan dengan irisan Logika dan Rasa

June 14, 2013 § Leave a comment

Ranah agama memang berada di irisan antara logika dan rasa. Jika Anda perhatikan baik-baik semua dasar iman yang tertera di agama manapun berada di ranah rasa, hati dan kepercayaan yang sifatnya abstrak dan kadang sulit dibuktikan secara empiris. Tunggu dulu jangan kemudian menghakimi saya sebagai sekuler atau julukan apapun yang sering disematkan kepada orang-orang lain yang mencoba untuk berpendapat, terutama di ranah sensitif ini. Tulisan ini saya buat, karena kekhawatiran saya melihat bagaimana umat beragama (dan yang tidak beragama), agama apapun, memanisfestasikan keberagamaan (dan ketidakberagamaan) mereka dalam bermasyarakat, dalam berkehidupan di dunia. Kekhawatiran saya ini muncul setelah mengamati bagaimana orang-orang saat ini melihat agama hanya dari kacamata rasa saja atau dari kacamata logika saja. Beragama hanya dengan rasa saja hanya akan menuntun orang tersebut pada sikap fanatisme buta dengan mengesampingkan rasionalitas. Hal itu tentu saja sangat berbahaya, pengejawantahan ayat-ayat melalui tafsir-tafsir yang tidak rasional kadang berakhir kontraproduktif dengan semangat awal agama tersebut muncul. Sedangkan berpikir dengan logika saja dalam memahami agama, tentu akan menggiring Anda menjadi tidak percaya akan adanya hal-hal yang tidak rasional dalam agama. Seperti saya sebut diawal, dasar agama pun sebagian besar disusun dari hal-hal yang sifatnya tidak rasional. Sehingga tidak sedikit orang yang awalnya berangkat dari logika untuk memahami agama kemudian menjadi tidak percaya adanya Tuhan.

« Read the rest of this entry »

Motivator dan Dukun

June 10, 2013 § 5 Comments

Kita mulai dengan tulisan dari Sudjiwo Tedjo,

Indonesia punya banyak motivator kok, bangga? Itu artinya orang-orang Indonesia, selalu butuh dimotivasi.  ~Sudjiwo Tedjo~

Mungkin kalimat itulah yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita. Kenapa sih motivator ini bisa menjamur di Indonesia, apapun namanya motivator, inspirator, trainer, public speaker atau coach. Sebenarnya tidak hanya di Indonesia di negara lain pun sama, misalnya di Amerika, banyak juga orang yang berprofesi menjadi motivator ini. Pertanyaan yang mendasar, apakah Indonesia membutuhkan sedemikian banyak motivator? Sebenarnya apa manfaat motivator ini? Apa mereka pantas memberikan motivasi? Tulisan ini dibuat tidak untuk menghina atau merendahkan mereka yang sudah berprofesi sebagai motivator, tapi hanya untuk meluruskan persepsi masyarakat tentang motivator ini. Sehingga bisa membedakan mana motivator dan mana orang memiliki kapabilitas memberikan motivasi, karena ada batas dan perbedaan yang jelas diantara keduanya.

“Beda dukun dan motivator itu sungguhpun tipis setipis-tipisnya. Sama-sama mencari rezeki diatas ketidaktahuan orang lain”

« Read the rest of this entry »

Beratnya Ber-ISLAM di Zaman Moderen Ini

April 4, 2013 § Leave a comment

Sungguh berat nian untuk ber-ISLAM dengan baik di zaman moderen ini. Zaman disaat perubahan terjadi begitu drastis. Zaman dimana banyak hal dalam ISLAM yang katanya sudah tidak lagi sesuai. ISLAM kemudian terpinggirkan, dianggap ketinggalan zaman dan tidak lagi sesuai dengan nafas pembaharuan. Padahal dahulu ISLAM datang menyerukan pembaharuan, hampir di semua lini kehidupan Rasulullah memberikan panduannya. ISLAM dahulu menjadi panduan yang komplet bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari kondisi orang-orang di zamannya. ISLAM itu (seharusnya) PROGRESIF dan REVOLUSIONER. Tapi mengapa saat ini, wajah ISLAM seolah-olah kasar, kaku, miskin, tidak berpendidikan dan tertinggal? Adakah yang salah dengan ISLAM ini? Banyak orang kemudian berdalih untuk tidak membandingkan ISLAM dengan penganutnya, terus pertanyaannya adalah kemudian darimana kita melihat keagungan dan keunggulan ISLAM? Logika sangat sederhana untuk melihat kehebatan koki dari masakannya, kehebatan sebuah sekolah dari lulusannya. Saya yakin ada yang salah dalam hal ini. ISLAMkah yang salah?

« Read the rest of this entry »

Bapak Tua dan Cinta

November 22, 2012 § Leave a comment

kudatangi lagi toko tua itu di pinggiran kota seoul
berharap bisa mengobrol dgn bapak tua penjaga toko
bapak tua yg berada di penghujung usia, senja

obrolan kita biasanya ttg hidup dan manusia
entah kenapa, mengasyikan, mendengarkannya
selalu saja ada yg bisa dipetik dari kata-kata bapak tua

kali ini bapak tua ingin berbicara tentang cinta

“dibawah matahari tidak ada yg abadi anak muda
termasuk cinta yg kalian agung-agungkan
kadang cinta bisa merona namun kadang berbisa”

kata bapak tua, sambil meminum teh ginseng
yang aromanya memenuhi kamar kecilnya
di belakang toko

“kamu ingin tahu, apa yg membuat saya dan dia bersama”
kata bapak tua sambil menunjuk foto almarhum istri
bapak tua itu yg terpasang di bagian tengah dinding kamar

“cinta,” kata bapak tua itu

“tunggu dulu bukankah cinta itu tidak abadi?”

“tepat, cinta tumbuh berkembang dalam balutan kasih
dan perhatian, layu tatkala terisap kebencian
dan luka”

“cinta hanya bisa dikatakan cinta jika ia disirami
kedewasaan dan kebijaksanaan, sehingga cinta bisa
tumbuh menjalar dan berbuah kesetiaan dan pengorbanan
kesetiaan dan pengorbanan ini kadang bisa
menghapus kebencian dan menyembuhkan luka”

“cinta tanpa kedewasaan hanyalah nafsu belaka,
cinta tanpa kebijaksanaan hanyalah naluri semata”

“itulah cinta yg kami bina semasa ia hidup,”
dipandangi lagi foto usang istrinya sambil tersenyum,
senyum paling sederhana yang pernah saya lihat,
dan itu seharusnya bentuk cinta; dewasa, bijaksana dan sederhana

dahulu, kini, nanti

October 28, 2012 § Leave a comment

lain di hati lain di penghujung nanti

berbalut kecewa seremang hati

adinda, pengharapan ini benar mati suri

apalagi sejak seperempat malam tadi

ketika bulan keluar sendiri

Kini aku lebih berhati-hati

berjalan di atas kerikil masa lalu atau nanti

ada kalanya sakit tak terperih

tapi tak apalah itu, ketimbang nanti main sendiri

seperti bulan yang kemarin, keluar lalu mati sepi